Beranda | Galeri | Links

 

KBRI PARAMARIBO
Tentang KBRI Paramaribo
Mantan Dubes
Staff
 
PELAYANAN
Visa
Jasa Kekonsuleran
Lapor Diri Online
 
INFORMASI
Suriname
Guyana
-
HUBUNGAN BILATERAL
Indonesia - Suriname
Indonesia - Guyana
-
ARSIP

 
LINKS
Presiden RI
Portal Kemlu
Deplu Junior
Indonesia Tourism
Suriname Tourism
Guyana Tourism
 
 

 

Selamat Datang di Website Kedutaan Besar Republik Indonesia Paramaribo - Suriname Merangkap Guyana

HUBUNGAN BILATERAL
INDONESIA - SURINAME

I. POLITIK

Hubungan bilateral Indonesia - Suriname sudah dimulai sejak bulan Agustus 1951, ketika Suriname masih berada dibawah pemerintahan penjajah Belanda, dengan membuka kantor perwakilan pada tingkat Komisariat di Paramaribo. Kantor komisariat tersebut sejak tahun 1958 - 1964 ditutup akibat merenggangnya hubungan antara Indonesia dan Belanda. Pada tahun 1964 pemerintah Indonesia membuka kembali perwakilannya di Suriname pada tingkat Konsulat Jenderal. Hubungan Indonesia - Suriname meningkat sejak tahun 1975 setelah Suriname memperoleh kemerdekaan dari Belanda, dengan pembukaan perwakilan R.I pada tingkat Kedutaan Besar.

Hubungan baik ke dua negara ditandai dengan saling kunjung antara ke dua pemimpin. Pada tanggal 11-14 Mei 1994, Presiden Suriname Ronald Venetiaan melakukan kunjungan ke Indonesia dan Presiden Indonesia Soeharto melakukan kunjungan balasan ke Suriname pada tahun 1995. Pada tanggal 14-17 Oktober 1997 Presiden Suriname Wijdenbosch berkunjung ke Indonesia atas undangan Presiden Soeharto. Pada bulan Maret 2001, Menteri Sosial dan Kesejahteraan Rakyat Suriname Paul Salam Somohardjo berkunjung ke Indonesia. Pada tanggal 13-15 November 2001 delegasi DPR-RI dipimpin Soetardjo Soerjoguritno mengadakan kunjungan ke Suriname, dan pada bulan Agustus 2002 delegasi Parlemen Suriname berkunjung ke Indonesia. Selain itu, Pemerintah Indonesia pernah menyumbang dana untuk pemilu Suriname tahun 2000 sebesar US$ 20 ribu.

Kerjasama antara ke dua negara juga dipererat dengan penyelenggaraan Sidang I Komisi Bersama (Joint Commission) Indonesia - Suriname di Paramaribo tanggal 3-5 April 2003 dan Sidang II di Yogyakarta tanggal 22 November 2004. Komisi Bersama telah membahas berbagai bidang kerjasama yang dapat memberi manfaat kepada ke dua belah pihak, diantaranya di bidang perdagangan dan UKM (Usaha Kecil Menengah), investasi, pertanian, perikanan, komunikasi dan informasi, sosial budaya, pendidikan, pemuda dan olah raga, serta pertahanan dan keamanan. Sementara itu, penyelenggaraan Sidang III Komisi Bersama di Paramaribo dilaksanakan pada tanggal 14-16 Mei 2007. Sidang IV akan diadakan di Indonesia pada tahun 2009.

Dukungan Suriname dalam pencalonan Indonesia pada berbagai keanggotaan organisasi internasional, antara lain :

  1. Dr. Jannes Hutagalung sebagai Presiden The International Fund for Agricultural Development (IFAD) pada pemilihan yang diadakan pada sesi ke-28 Governing Council, tanggal 16-17 Februari 2005 di Roma, Italia.

  2. Keanggotaan Indonesia di Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC) pada SMU-PBB ke-58 di New York.

  3. Keanggotaan Tidak Tetap Indonesia pada DK-PBB periode 2007-2008 pada SMU-PBB ke-61 tahun 2006.

  4. Keanggotaan Indonesia di Dewan HAM 2007-2010.

  5. Keanggotaan Indonesia di Dewan ICAO (International Civil Aviation Organization) Kategori III 2007-2010 pada Sidang ke-36 Majelis ICAO 2007 di Montreal, Kanada, September.

  6. Pencalonan Dr. Efransjah sebagai Direktur Eksekutif ITTO (International Tropical Timber Organization) pada Sidang ke-42 ITTO di Port Moresby, 7-12 Mei 2007.

  7. Keanggotaan Indonesia pada Executive Board WHO 2007-2010 pada Sidang ke-60 WHO di Jenewa, 14-23 Mei 2007.

  8. Keanggotaan Indonesia pada Dewan IMO (International Maritime Organization) Kategori C pada Sidang ke-25 Majelis IMO di London, 19-30 November 2007.

II. EKONOMI/PERDAGANGAN

Kebutuhan dalam negeri Suriname sebagian besar dipenuhi melalui impor, karena sektor produksi kurang berkembang. Kondisi ini merupakan potensi bagi sasaran eskpor komoditi Indonesia sekalipun penduduknya hanya 492.829 jiwa dengan pertumbuhan rata-rata 1,3 % per tahun. Hubungan Perdagangan antara Indonesia dan Suriname menurut Biro Pusat Statistik ke dua negara, paling tinggi sekitar US$ 5 juta (tahun 2000). Namun, apabila dikaitkan dengan jumlah penduduk Suriname yang kurang dari setengah juta orang, nilai perdagangan antara ke dua negara cukup signifikan.

Hubungan perdagangan ke dua negara masih relatif kecil. Tahun 2000, ekspor Indonesia sebesar US$ 4,8 juta dan impor sebesar US$ 9 ribu. Tahun 2001, ekspor Indonesia mencapai US$ 1,6 juta dan impor sebesar US$ 91 ribu. Tahun 2002, ekspor Indonesia US$ 1,2 juta dan impor US$ 88 ribu. Tahun 2003, ekspor Indonesia mencapai US$ 2,08 juta. Komoditi ekspor Indonesia ke Suriname adalah tekstil, pakaian jadi, furniture, peralatan rumah tangga, peralatan plastik, sepatu, makanan, bumbu, dan alat musik. Sedangkan dari Suriname berupa pupuk dalam bentuk crude, buah-buahan segar dan kering.

Hubungan perdagangan ke dua negara masih dihadapkan pada berbagai hambatan, diantaranya masih kurangnya kontak langsung antar pengusaha Indonesia-Suriname, jauhnya jarak, belum adanya hubungan pelayaran langsung, dan adanya saingan dari negara-negara di kawasan Karibia, Amerika Selatan, Afrika, dan Asia (terutama Jepang, Cina, India). Biasanya para pengusaha Suriname melakukan kontak dagang langsung ke Indonesia sambil memanfaatkan masa liburan.

Peluang untuk meningkatkan hubungan perdagangan ke dua negara adalah usaha makanan khas Indonesia (Jawa) yang cukup baik. Ada fanatisme kalangan Suriname keturunan Jawa terhadap produk Indonesia. Pangsa pasar tradisional produk Indonesia masih cukup besar. Ada keinginan mengambil tenaga kerja asal Indonesia, yang dipandang cukup rajin dan tidak banyak menuntut. Suriname merupakan negara anggota CARICOM yang penting, dan memiliki kedudukan strategis dalam pemasaran produk Indonesia di kawasan Karibia. Posisi negara ini menjadi lebih penting mengingat masih banyak produk Indonesia yang masuk ke kawasan Karibia melalui negara ketiga.

Sementara itu, investasi Suriname ke Indonesia masih belum memungkinkan. Lebih dimungkinkan adalah investasi Indonesia ke Suriname, terutama di bidang perkayuan. Satu-satunya investasi Indonesia adalah di bidang kehutanan oleh NV Musa Indo Suriname sejak tahun 1992. Namun sejak tahun 2001 terhenti karena kehabisan dana.

Neraca Perdagangan Indonesia-Suriname
(dalam ribuan US$)

Tahun Ekspor Impor Saldo Volume
2000 4.856.073 8.790 + 4.847.283 4.864.863
2001 1.645.500 90.574 + 1.554.926 1.736.074
2002 1.734.953 88.714 + 1.646.239 1.823.667
2003 2.089.000 0 + 2.089.000 2.089.000
2004 3.250.909 544 + 3.250.365 3.251.453
 

Neraca Perdagangan Indonesia-Suriname
2001 - 2006

URAIAN

20011

2002

2003

2004

2005

TREND(%)
2001-2005

Jan-Des

PERUB

2005

2006

TOTAL PERDAGANGAN

1.736,11

1.823,7

2.313,8

3.251,5

2.387,0

12,92

2.387,0

2.673,2

11,99

MIGAS

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,00

0,0

0,00

0,00

NON MIGAS

1.736,11

1.823,7

2.313,8

3.251,5

2.387,0

12,92

2.387,0

2.673,2

11,99

EKSPOR

1.645,55

1.735,0

2.302,0

3.250,9

2.347,5

14,32

2.347,5

2.615,1

11,40

MIGAS

0,00

0,0

0,0

0,0

0,0

0,00

0,0

0,0

0,00

NON MIGAS

1.645,55

1.735,0

2.302,0

3.250,9

2.347,5

14,32

2.347,5

2.615,1

11,40

IMPOR

90,6

88,7

11,8

0,5

39,5

-49,09

39,5

58,1

46,90

MIGAS

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,00

0,0

0,0

0,00

NON MIGAS

90,6

88,7

11,8

0,5

39,5

-49,09

39,5

58,1

46,90

NERACA PERDAGANGAN

1.554,9

1.646,2

2.290,2

3.250,4

2.307,9

15,84

2.307,9

2.557,0

10,79

MIGAS

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,00

0,0

0,0

0,00

NON MIGAS

1.554,9

1.646,2

2.290,2

3.250,4

2.307,9

15,84

2.307,9

2.557,0

10,79

Sumber: Badan Pusat Statistik (diolah Pusdata Dep. Perdagangan)

Sebagai tindak lanjut dari salah satu kesepakatan yang dicapai pada Sidang I Komisi Bersama Indonesia-Suriname di bidang budidaya perikanan, pada akhir Maret 2004, Indonesia telah mengirim seorang tenaga ahli perikanan Syaifuridjal M.Ed (Departemen Kelautan dan Perikanan) untuk memberikan pelatihan budidaya ikan air tawar, khususnya ikan gurame, di Suriname. Pelatihan tersebut dianggap sukses, sehingga Suriname meminta tambahan masa pelatihan dari 3 bulan menjadi 4 bulan (sampai akhir Agustus 2004).

Dalam rangka meningkatkan hubungan ekonomi dan perdagangan ke dua negara, hingga saat ini telah ditandatangani beberapa perjanjian, antara lain:

  1. Persetujuan Kerjasama Teknik, Paramaribo 3 September 1990.

  2. Persetujuan Kerjasama Ekonomi dan Teknik, Jakarta 18 Mei 1992.

  3. Persetujuan Kerjasama Perdagangan, Jakarta 13 Mei 1994.

  4. MOU KADIN Indonesia - Suriname, Jakarta 13 Mei 1994.

  5. Persetujuan Jaminan Investasi (IGA), Paramaribo 28 Oktober 1995.

  6. MOU Kerjasama Pariwisata, Paramaribo 28 Oktober 1995.

  7. MOU Kerjasama Telekomunikasi, Paramaribo 28 Oktober 1995.

  8. Pesetujuan Kerjasama Kebudayaan, Jakarta 18 Oktober 1997.

  9. MOU Kerjasama Pertanian, Jakarta 18 Oktober 1997.

  10. Pertukaran Nota Pembentukan Komisi Bersama Ekonomi dan Kerjasama Teknis, Jakarta 18 Oktober 1997.

  11. Komisi Bersama Indonesia-Suriname I, Paramaribo 03 - 05 April 2003.

  12. Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B), Paramaribo 14 Oktober 2003.

  13. Komisi Bersama Indonesia-Suriname II, Yogyakarta 22 Nopember 2004.

  14. Komisi Bersama Indonesia-Suriname III, Paramaribo 14-16 Mei 2007.

III. SOSIAL BUDAYA

Bidang sosial budaya memberikan kontribusi yang sangat penting dalam meningkatkan hubungan bilateral Indonesia - Suriname di berbagai bidang. Melalui pendekatan sosial budaya, diharapkan dapat mempermudah hubungan di bidang lainnya. Berbagai upaya terus dilaksanakan, antara lain, pegelaran seni budaya tradisional, penyelenggaraan kursus bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, kursus tari, ngadi busono, kursus wayang dan karawitan. Selain di Paramaribo, kursus juga diselenggarakan di luar kota, seperti Nickerie, Saramacca, dan Tamanredjo. Peserta dan alumni kursus-kursus ini telah mencapai ratusan orang dari berbagai kalangan yang tersebar di seluruh Suriname.

Kegiatan sosial budaya juga dilaksanakan melalui berbagai event, yang diselenggarakan atas kerjasama dengan pemerintah setempat maupun dengan berbagai organisasi kemasyarakatan non-pemerintah, antara lain VHJI (Vereniging Herdenking Javaanse Immigratie/Persatuan Mengenang Imigrasi Warga Jawa di Suriname), Indra Maju, Putri Mardi Bekso, Kartika Budaya, Jot Dancer dan organisasi budaya masyarakat Suriname dari etnik lainnya.

KBRI juga aktif memenuhi undangan-undangan dari pemerintah Suriname untuk mengisi atraksi seni budaya Indonesia pada berbagai kesempatan, seperti acara-acara pengumpulan dana oleh organisasi sosial yang dipimpin oleh Ibu Negara, Ny. Liesbeth Venetiaan.

Di samping itu Suriname juga aktif mengirimkan siswa untuk dapat mengikuti berbagai program pendidikan dan pelatihan (diklat) di Indonesia, seperti program dharmasiswa, beasiswa pasca sarjana GNB, dan bantuan guru seni-budaya.

Keikutsertaan peserta dari Suriname dalam Program Pendidikan dan Pelatihan di Indonesia :

  1. Beasiswa untuk 2 orang belajar tari di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta, 1976.

  2. Beasiswa untuk 4 orang belajar agama Islam di Pondok Pesantren Gontor Ponorogo, IAIN Sunan Ampel, dan IAIN Syarief Hidayatullah, 1977.

  3. Beasiswa untuk 1 orang belajar agama Islam di Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, 1978.

  4. Beasiswa untuk 2 orang belajar agama Kristen di Batu, Malang, 1983.

  5. Beasiswa untuk 4 orang belajar agama Islam di Pondok Pesantren Gontor Ponorogo, IAIN Sunan Kalijaga, IAIN Syarief Hidayatullah, 1987.

  6. Dharmasiswa untuk 1 orang belajar tari di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, 1999.

  7. Dharmasiswa untuk 2 orang belajar tari dan karawitan di Institut Seni Indonesia (ISI) dan Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta, 2001.

  8. Beasiswa untuk 1 orang jurusan Performing Arts, peserta meninggal pada akhir program, 2002.

  9. Beasiswa untuk 1 orang jurusan tari (Performing Arts), 2004.

  10. Program TCDC, yang kini mencapai jumlah 47 orang untuk berbagai bidang. Program ini berlangsung hingga tahun 1998.

  11. Beasiswa program S-2 untuk 1 orang belajar di Universitas Gajah Mada (UGM), tahun ajaran 2003 – 2004.

  12. Beasiswa Program S-2 untuk 2 orang di UGM dan di Universitas Negeri Yogyakarta, tahun ajaran 2004 – 2005.

IV. PENERANGAN

Dalam upaya pemberdayaan informasi dan promosi, telah terjalin kontak yang baik antara KBRI dan media massa setempat. Di suriname terdapat 4 surat kabar berbahasa Belanda dan 1 harian berbahasa Inggris, 13 stasiun televisi (8 menggunakan bahasa Belanda, 3 bahasa Jawa dan 2 bahasa India), 18 stasiun radio (10 menggunakan bahasa Belanda, 5 bahasa India, dan 3 bahasa Jawa).

Kontak ini terus ditingkatkan melalui kerja sama di berbagai kegiatan dalam upaya mempromosikan citra positif Indonesia, penyebaran informasi pembangunan poleksosbudpenhankam Indonesia dan publikasi kegiatan-kegiatan misi dan diplomasi yang diselenggarakan oleh KBRI.

Pengisian acara siaran warta berita berbahasa Indonesia di Radio Pertjajah Luhur (FM Stereo 95,3) program Indonesia Menyapa setiap hari Minggu pk.07.00 - 08.00. Bahan siaran dipersiapkan oleh KBRI Paramaribo. Pembaca berita dilakukan secara bergiliran oleh ibu-ibu DWP-KBRI Paramaribo dan mulai dicoba lulusan terbaik peserta kursus Bahasa Indonesia (WN Suriname keturunan Jawa).

V. PERTAHANAN DAN KEAMANAN

Pada Sidang II Komisi Bersama Indonesia – Suriname, telah disepakati bidang kerjasama Pencegahan Kriminal. Indonesia mengundang anggota polisi Suriname untuk mengikuti Sespimpolri tahun 2006. Seorang perwira polisi Inspector of Police 1st Class Suriname yang telah terpilih untuk mengikuti program tersebut untuk program Februari – Oktober 2006, karena sesuatu hal tidak jadi berpartisipasi, namun tetap dialokasikan untuk tahun ajaran 2007.

Dalam bidang hankam, sesuai dengan hasil Sidang II Komisi Bersama, Indonesia menawarkan kepada Suriname untuk mengirimkan perwira AD untuk mengikuti Seskoad. Pihak Suriname telah mengirimkan Mayor Lesley Paul Nojodipo sebagai peserta Seskoad untuk tahun 2007.

VI. TENAGA KERJA INDONESIA (TKI)

TKI yang bekerja di Suriname sampai bulan Mei 2005 berjumlah 89 orang bekerja di Suriname Mereka bekerja pada :

  1. Taiyo A&F Co. Ltd (TAFCO) c/o SUJAFI (Perusahaan Penangkap Udang Jepang di Suriname), 17 orang.

  2. Integra Marine Service (perusahaan pengapalan bauksit di Suriname), 19 orang.

  3. N.V. MUSA (Perusahaan Kayu Indonesia), 5 orang.

  4. Apura (Eks Perusahaan Kayu Taiwan di Suriname), 3 orang.

  5. Da'i-da'i yang mendapat sponsor dari Saudi Arabia, Libya, Indonesia dan pribadi, 20 orang.

  6. Pendeta Protestan, 3 orang.

  7. Lokal Staf KBRI Paramaribo, 6 orang (4 laki-laki dan 2 wanita).

  8. MMC (Perusahaan Suralco - Bauksit di Suriname), 4 orang.

  9. Lain-lain: 12 orang (4 laki-laki dan 8 wanita).

V. LAIN-LAIN

A. Saling Kunjung Pejabat Pemerintah dan Swasta

  • Menlu Suriname, Subhas Mungra, 18 Mei 1992.

  • Menteri Sumber Daya Alam Suriname, Drs.H.R.Pollack Oktober 1992.

  • Menteri Sosial dan Perumahan Rakyat, William Soeminta, 25 Oktober - 5 November 1992.

  • Menteri Pertanian, Peternakan dan Perikanan Suriname, Soeratno Setroredjo, 30 Mei - 5 Juni 1993.

  • Menlu R.I, Ali Alatas, 19 - 21 September 1993.

  • Presiden Suriname, Runaldo Ronald Venetiaan, 11 -14 Mei 1994.

  • Menhan Suriname, Siegfried Gilds, 3 - 8 Oktober 1994.

  • Ketua Parlemen Suriname, Jaggernath Lachmon, 14 - 20 Agustus 1995.

  • Presiden R.I, Soeharto, 27 - 29 Oktober 1995.

  • Dubes R.I Washington, DR. Arifin Siregar, mewakili Pemerintah Indonesia menghadiri HUT ke-20 Kemerdekaan Suriname, 23 - 27 November 1995.

  • Presiden Suriname, Jules Wijdenbosch, 14 - 18 Oktober 1997.

  • Menteri Perdagangan dan Industri Suriname, Robby Dragman, Agustus 1998.

  • Menteri Kerjasama Pembangunan Suriname, Waldi Nain, November 1998.

  • Menteri Sosial dan Perumahan Rakyat Suriname, Paul Salam Somohardjo, 27 Maret 2001 dan Juli 2001.

  • DPR RI dipimpin oleh Soetardjo Soerjogoeritno 13 - 15 November 2001.

  • Ketua Parlemen Suriname, Ramdien Sardjoe, 14 - 19 Agustus 2002.

  • Partisipasi Suriname dalam mengikuti Dharmasiswa setiap tahun anggaran.

  • Sidang I Komisi Bersama Indonesia – Suriname di Paramaribo 03 – 05 April 2003.

  • Sidang II Komisi Bersama Indonesia – Suriname di Yogyakarta, bulan November 2004.

  • Keikutsertaan Suriname untuk pertama kalinya dalam program Seskoad angkatan 2004 diwakili Mayor Remie Martopawiro.

  • Keikutsertaan pengusaha Indonesia dalam tender-tender yang ditawarkan oleh EBS (PLN Suriname).

  • Kunjungan Djajanti Group dan Perusahaan Rokok Djarum.

  • Kunjungan Delegasi Depnaker RI, Desember 2004.

  • Kunjungan 4 (empat) pakar seni-budaya dan bahasa dari Jawa (Indonesia) dan seorang WN Belanda dari Groningen, untuk menyajikan makalah pada Seminar Internasional Bahasa Jawa yang diselenggarakan KBRI Paramaribo bekerjasama dengan Javaans Taal Institute in Suriname/Institut Bahasa Jawa Suriname (JATAS), SIFA, VHJI, dan Indra Maju di KBRI Paramaribo, 28 – 29 Mei 2005.

  • Ketua Parlemen Suriname, Paul Salam Somohardjo, mengikuti Kongres Bahasa Jawa IV di Semarang, 2006.

  • Keikutsertaan Parlemen Suriname dipimpin oleh Paul Salam Somohardjo dalam sidang IPU (Inter-Parlementary Union) di Bali, April 2007.

  • Sidang III Komisi Bersama Indonesia-Suriname di Paramaribo, tanggal 14 - 16 Mei 2007.

B. Saling Membuka Perwakilan Diplomatik

1. Indonesia

  • Pembukaan Komisariat R.I 1951 - 1958

  • Penutupan Komisariat R.I 1958 - 1964

  • Pembukaan Konjen 1964 - 1975

  • Kedubes di Paramaribo 1975 - sekarang

2. Suriname

  • Kedubes Non-Resident 1996 - 1999

  • Kedubes di Jakarta 2002 - sekarang

B. Saling Memberikan Bantuan

1. Indonesia Kepada Suriname

  • Pembangunan gedung pusat kebudayaan Sana Budaya dan monumen peringatan 100 tahun imigrasi Indonesia (Jawa) ke Suriname, 9 Agustus 1990.

  • Pelaksanaan Pemilu legislatif tahun 2000.

  • Tenaga ahli Pedalangan dan Musik Karawitan dari Pemda Yogyakarta, Prajaya, Ssn untuk memberikan pelatikan selama 4 bulan di Suriname.

  • Seperangkat Wayang Kulit lengkap, dari Menko Kesra, (Alm) Soepardjo Rustam.

  • Seperangkat Gamelan Pelog dan Slendro lengkap dari Gubernur DKI Jaya, Wiyogo Atmodarminto.

  • Seperangkat Arumba dan Angklung dari Gubernur Jawa Barat, Yogie S. Memet.

  • Seperangkat Pakaian Pengantin Surakarta, 10 kuda lumping          lengkap dengan pakaiannya, perlengkapan wayang orang dan             dua ahli ukir-pahat, dari Gubernur Jawa Tengah, Ismail.

  • 3000 zak semen dan 10 alat sanitasi dari Gubernur Jawa Timur,    Sularso.

  • Pakaian tari dan dua tenaga ahli Tari dan Karawitan, dari Wakil Gubernur DIY, Sri Paku Alam.

  • Ahli Pedalangan danKarawitan dari STSI Surakarta, Ki Bambang Suwarno,S.Kar.,M.Hum, April-September 2003.

  • Tenaga Ahli Perikanan Air Tawar dari Departemen Kelautan dan Perikanan R.I dan Institut Pertanian Bogor, Saifurridjal, M.Ed. dalam rangka Proyek Pegembangan Populasi Ikan Marienburg selama 4 bulan tahun 2004.

  • Seragam karawitan dan dalang dari KBRI Paramaribo kepada 3 Organisasi: Trisno Budoyo, Krido Wanito Asli dan Kelompok pimpinan Suliyo pada tahun 2005.

  • Peralatan Pecak Silat dari IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) pimpinan Jenderal TNI (Purn.)  Prabowo Subiakto berupa 10 tombak, 10 Pedang dan 10 Trisula untuk 3 Organisasi Pencak Silat: Kilat Buwono, Pantjasila dan Setia Hati, Juli 2004.

  • Seperangkat lengkap (36 item Gamelan Perungu Slendro-Pelog), sumbangan dari Sultan Hamengku Buwono X kepada Ketua Indramaju, Amin Abas, Agustus 2005.

  • 3 (tiga) tenaga ahli seni budaya dan bahasa Jawa dari Pemda DI Yogyakarta sejak April 2005 untuk selama 6 bulan, yaitu Guru Pedalangan Wayang Kulit - Pesinden dan Karawitan (Parjaya S.Sn), Guru Tari Klasik Jawa (Drs. Budi Sudarisman), dan Guru Bahasa Jawa (Drs. Marsono).

  • Buku dan VCD rekaman pementasan seni budaya Jawa dari Gubernur Jawa Tengah dan Pemda DIY.

1. Suriname Kepada Indonesia

  • Saat musibah gempa bumi dan tsunami di Aceh dan Sumatera Utara, berupa uang dari masyarakat sebesar US$ 39.379,49 (melalui KBRI Paramaribo) dan 3 peti kemas makanan (melalui Kedubes Suriname di Jakarta).

 
Google
INDONESIA - THE ULTIMATE IN DIVERSITYY
PENGUMUMAN
SIARAN KBRI

 
JAM KERJA

Senin - Jum'at

08.00 - 16.00

Istirahat 12.00 - 12.30

PENGUNJUNG

Online 

free counters

Kedutaan Besar Republik Indonesia Paramaribo - Suriname
Van Brussellaan #3, Uitvlugt, Paramaribo
Tel : (597) - 431230, 431171, 439577 Fax : (+597) - 498234
Email : indonemb@sr.net


© 2009 by adk