|
|
|
INFORMASI
REPUBLIK GUYANA |
|

|
|
I. Umum |
| |
|
|
|
|
1. |
Nama Negara |
: |
Republik Guyana |
|
2. |
Ibukota |
: |
Georgetown |
|
3. |
Hari Kemerdekaan |
: |
26 Mei 1966 (dari Inggris) |
|
3. |
Hari Jadi Republik |
: |
23 Februari 1970 |
|
3. |
Hari Jadi Konstitusi |
: |
6 Oktober 1980 |
|
4. |
Kepala Negara |
: |
Presiden Bharrat Jagdeo |
|
5. |
Pembantu Presiden |
: |
Perdana Menteri Samuel Hinds |
|
6. |
Ketua Parlemen |
: |
Ralph Ramkarran |
|
7. |
Menteri Luar Negeri |
: |
Samuel Rudolph Insanally |
|
8. |
Bahasa Nasional |
: |
Inggris, kreol guyana, amerindian (terutama
carib dan arawak) |
|
9. |
Agama |
: |
Kristen (57,4%), Hindu (28,3%), Muslim (7,2%),
lain-lain (7,1%) |
|
10. |
Mata Uang |
: |
Guyana Dollar (G$), kurs resmi 1 US$ = G$ 190 |
|
11. |
Jumlah Penduduk |
: |
767.245 orang (sensus 2005),
rata-rata pertumbuhan 0,25% |
|
12. |
Etnis Suku |
: |
Hindustan (43,4%),
Afrika (30,2%),
Campuran (16,7%),
Amerindian (9,2%), Eropa (0,1%),
Portugis (0,2%), Cina (0,2%) |
|
13. |
Pendapatan per
Kapita |
: |
US$ 974,- (2006) |
|
14. |
Laju Inflasi |
: |
6,5% |
|
15. |
Produk pertanian |
: |
Gula, beras, buah-buah segar, dan sayur mayur |
|
16. |
Sumber Alam |
: |
Emas, bauksit, intan, kayu, udang, dan ikan |
|
17. |
Ekspor |
: |
Bauksit, emas, intan, minyak bumi, kayu, beras,
gula, ikan, udang |
|
18. |
Pasar Ekspor |
: |
AS, Inggris, CARICOM, Kanada |
|
19. |
Negara Impor |
: |
AS, Inggris, Venezuela, CARICOM, Kanada, Asia
(Cina dan Jepang) |
|
20. |
Negara Impor |
: |
AS, Inggris, Venezuela, CARICOM, Kanada, Asia
(Cina dan Jepang) |
|
21. |
Sistem Hukum dan Pengadilan |
: |
Sistem pengadilan Kerajaan Inggris,
ditambah sistem hukum Roma Belanda. Sampai kini
Guyana tidak menerima Inter-national Court of
Justice (Mahkamah Internasional). Pengadilan
Tertinggi Guyana terdiri atas Mahkamah Agung,
Kejaksaan Agung, dan Mahkamah Banding. Guyana
telah menerapkan ketentuan bahwa upaya banding
paling akhir dapat diajukan oleh pemohon ke
Mahkamah Karibia |
|
22. |
Lagu Kebangsaan |
: |
Land of Guyana
Dear land of Guyana, of rivers and plains,
Made rich by the sunshine and lush by the rains,
Set gemlike and fair between mountains and sea,
Your children salute you, dear land of the
free.
Green land of Guyana, our heroes of yore,
Both bondsmen and free, laid their bones on your
shore;
This soil so they hallowed, and from them are
we,
All sons of one mother, Guyana the free.
Great land of Guyana, diverse though our
strains,
We are born of their sacrifice, heirs of their
pains,
And ours is the glory their eyes did not see,
One land of six peoples, united and free.
Dear land of Guyana, to you will we give
Our homage, our service, each day that we live;
God guard you, great Mother, and make us to be
More worthy our heritage - land of the free
|
|
|
|
23. |
Bendera :

Bendera kebangsaan Guyana berbentuk 4 persegi
panjang dengan perbandingan panjang:lebar = 3:2,
bergambar anak panah berwarna emas (golden
arrow) dengan latar belakang berwarna hijau
pada mata anak panah, dan merah pada belakang
mata panah |
|
|
|
24. |
Lambang Negara :

Lambang negara Guyana terdiri dari kumpulan
simbol-simbol bergambar hiasan kepala
Amerindian, helm di atas perisai yang diapit
dua harimau jaguar yang masing-masing memegang
kapak dan cangkul, serta di bawahnya ada hiasan
umbul-umbul pita bertuliskan One People, One
Nation, One Destiny. Hiasan kepala
Amerindian melambangkan suku pribumi yang
paling awal mendiami Guyana (Suku Warau). Dua
untaian intan yang ada di dua sisi hiasan kepala
melambangkan kekayaan hasil tambang.Pelindung
kepala ala ksatria Eropa berhiaskan gaya
Amerindian melambangkan simbol kerajaan atau
negara. Dua jaguar yang mengapit perisai dengan
memegang kapak dan cangkul, melambangkan
keperkasaan tenaga kerja di dua sektor pertanian
utama di Guyana. Perisai yang diapit dua jaguar
pada bagian atas bergambar bunga nasional
Guyana, teratai Victoria Regia Lily,
sebagai simbol kekayaan flora Guyana. Dibawah
gambar bunga teratai, tergambar simbul tiga
garis biru bergelombang, simbol kekayaan air
negara Guyana. Di bawah garis biru, tergambar
burung nasional, Canje Pheasant, jenis
burung yang hanya hidup di Guyana, sekaligus
simbol kekayaan fauna Guyana. Pita hias di bawah
gambar perisai dan jaguar, bertuliskan moto
pendirian negara Guyana yang multi-etnis,
sebagai satu warga, satu bangsa, satu tujuan |
|
|
|
II. GEOGRAFI |
|
1. |
Luas Wilayah :
Luas wilayah Guyana 214.970 km2 berupa daratan
196.850 km2 dan perairan18.120 km2 dengan
panjang pantai 459 km |
|
|
|
2. |
Topografi :
Datarannya dibedakan menjadi tiga
bagian, yaitu:
a. Daerah Pesisir/Pantai
Daerah pesisir/pantai muda, terbentuk dari
tanah liat yang pekat, antara pasir pantai
dan gugusan karang yang terletak di bawah
permukaan laut. Sedangkan pantai tua
sebagian besar wilayahnya terletak di atas
permukaan laut. Kondisinya hampir sama
dengan Suriname
b.
Daerah Savana
Daerah yang tertutup pasir
dan sangat gersang.
Di daerah ini hanya tumbuh
jenis rumput– rumput tertentu
c. Daerah Dataran Tinggi
Terletak di sebelah selatan, berbatasan
dengan wilayah Brazil, Venezuela, dan
Suriname. Sebagian besar daerah ini tertutup
hutan tropis yang menghasilkan kayu keras
berkualitas tinggi
|
|
3. |
Perbatasan |
|
|
Guyana terletak di sebelah barat laut anak benua
Amerika Selatan.
Wilayahnya terbentang antara 1-9 Lintang Utara
(LU) dan 57-61 Bujur Barat (BB). Batas–batas
wilayah Guyana sebagai berikut : |
|
|
|
|
Sebeleh Utara |
: |
Lautan Atlantik |
|
|
|
|
Sebelah Timur |
: |
Sungai Corantijn, Suriname |
|
|
|
|
Sebelah Selatan |
: |
Kawasan Rimba Amazone, Brazil |
|
|
|
|
Sebelah Barat |
: |
Venezuela |
|
|
|
4. |
Kota-kota Besar |
: |
Georgetown, New Amsterdam,
Bartica, Linden, Parika, Mabaruna |
|
|
|
5. |
Iklim :
Beriklim tropis dengan temperatur rata–rata 28.3
C. Curah hujan rata-rata 225 cm per tahun dengan
kelembaban udara 66 Hg, hampir sama dengan
Suriname. Musim hujan terjadi 2 kali setiap
tahun, yakni bulan Mei-Agustus dan bulan
Nopember-Januari |
|
|
|
6. |
Flora dan Fauna :
Sekitar 65% wilayah Guyana masih berupa hutan
belukar yang di dalamnya hidup berbagai
species tumbuhan dan satwa. Guyana dikenal
sebagai penghasil emas dan intan, selain kayu
dan produk hutan lain. Hasil kayu tersebut
diekspor dan menjadi sumber devisa.
Sumber
daya alam Guyana untuk pengembangan
eco-tourism saat ini semakin diakui, karena
keunikan alam dan keanekaragaman hayatinya di
kawasan Karibia. Guyana memiliki 6 pegunungan,
275 air terjun, 18 danau, hutan hujan tropis
yang sangat luas, dan 700
species
burung, diantaranya burung harpy eagle,
diakui sebagai jenis elang terbesar di dunia.
Salah satu wisata alam paling menarik di Guyana
adalah Kaieteur Falls dengan ketinggian
sekitar 260 m |
|
|
|
III. SEJARAH |
|
1. |
Terbentuknya Negara dan
Pemerintahan
Guyana |
|
|
Sebelum kedatangan bangsa Eropa, Guyana dihuni
oleh suku Carib dan Arawak, yang
menamakannya Guiana, artinya land of many
waters. Belanda mendudukki Guyana menjelang
akhir abad ke-16, namun
secara defakto dikuasai oleh Inggris pada tahun
1796. Pada tahun 1815 dalam Kongres Wina,
koloni-koloni
Essequibo, Demerara, dan Berbice
secara resmi diserahkan kepada Inggris Raya, dan
pada tahun 1831, dikonsolidasikan sebagai
British Guiana.
Menindaklanjuti penghapusan perbudakan pada
tahun 1834, ribuan tenaga kerja dari India
(paling banyak), Portugis dan Cina didatangkan
ke Guyana untuk menggantikan para budak bekerja
di perkebunan tebu. Kemudian Inggris
menghentikannya pada tahun 1917.
Banyak para bekas budak keturunan Afro-Guyana
pindah ke kota-kota dan menjadi mayoritas
penduduk perkotaan. Sedangkan keturunan
Indo-Guyana tetap mendiami daerah-daerah
pedesaan. Rencana untuk mendatangkan tenaga
kerja orang-orang negro dari Amerika Serikat
(AS) pada tahun 1862 ternyata tidak berhasil.
Sebagian kecil penduduk keturunan Amerindian
mendiami daerah-daerah pedalaman.
Penduduk Guyana yang berasal dari berbagai
bangsa tersebut di sebagian wilayah dapat hidup
rukun. Pemberontakan para budak seperti yang
terjadi pada tahun 1763, yang dipimpin oleh
pahlawan nasional Guyana, Cuffy, bertujuan
selain untuk memperoleh hak dasar (basic rights)
juga untuk memperoleh kompromi. Kerusuhan rasial
yang berlatar belakang politik antara
Indo-Guyana dan Afro-Guyana terjadi pada tahun
1962-1964, dan setelah pemilu pada tahun 1997
dan 2001.
Partai politik (parpol) pertama di Guyana adalah
PPP (People’s Progressive Party), yang dibentuk
pada tanggal 1 Januari 1950. Sebagai Ketua
Forbes Burnham, keturunan Afro-Guyana
berpendidikan Inggris, Wakil Ketua II Dr. Cheddi
Jagan, keturunan Indo-Guyana berpendidikan AS,
dan sebagai Sekjen Janet Jagan, kelahiran AS
isteri Cheddi Jagan. Pada pemilu pertama yang
diakui oleh pemerintah kolonial pada tahun 1953,
PPP berhasil merebut 18 dari 24 kursi di
parlemen, dan Dr. Cheddi Jagan menjadi Ketua
Parlemen dan Menteri Pertanian dalam
pemerintahan kolonial. Namun 5 (lima) bulan
kemudian, pada tanggal 9 Oktober 1953, Inggris
membekukan konstitusi dan mendatangkan bala
tentara dengan alasan, Jagan cs dan parpol PPP
sedang merencanakan untuk menjadikan Guyana
sebagai negara komunis. Kejadian tersebut
menyebabkan perpecahan dalam tubuh PPP. Forbes
Burnham keluar dan membentuk parpol PNC
(People’s National Congress).
Kemudian pemilu diselenggarakan lagi pada tahun
1957 dan 1961, yang keduanya dimenangkan oleh
parpol PPP pimpinan Cheddi Jagan, dengan
perolehan suara masing-masing 48% dan 43%.
Cheddi Jagan menjadi Perdana Menteri British
Guiana, yang dijabatnya selama 7 (tujuh)
tahun. Pada tahun 1963, pemerintah Inggris
menyetujui untuk memberikan kemerdekaan kepada
Guyana dengan syarat terlebih dahulu harus
menyelenggarakan pemilu dengan model perwakilan
proporsional. Hal ini nampaknya sebagai upaya
untuk mengurangi jumlah kursi yang dimenangkan
oleh PPP dan mencegahnya untuk memperoleh a
clear majority di parlemen. Pada pemilu
tahun 1964, PPP memperoleh 46%, PNC 41%, dan 12%
untuk TUF (The United Force) dan partai
konservatif. TUF memberikan suaranya kepada
Forbes Burnham, yang akhirnya menjadi Perdana
Menteri.
Guyana memperoleh kemerdekaan pada tanggal 26
Mei 1966. Sebutan Guyana Inggris diubah menjadi
Guyana, dan menjadi republik pada tanggal 23
Februari 1970 (peringatan pemberontakan budak
pimpinan Cuffy). Sejak bulan Desember 1964
hingga meninggal pada bulan Agustus 1985, Forbes
Burnham memerintah Guyana dengan cara otokratis,
mula-mula sebagai perdana menteri dan setelah
diberlakukannya konstitusi pada tahun 1980,
beralih menjadi presiden. Selama itu, banyak
terjadi kecurangan dalam penyelenggaraan
pemilu-pemilu di Guyana. HAM dan kebebasan sipil
ditekan, dan terjadi dua kali pembunuhan
berlatar belakang politik terhadap
pendeta/wartawan Bernard Darke bulan Juli 1979,
dan sejarawan/Ketua Partai WPA Walter Rodney
bulan Juni 1980. Orang-orangnya Presiden Burnham
diyakini berada di belakang peristiwa tersebut.
Selain itu, pada tahun 1978 Guyana menjadi pusat
perhatian dunia akibat peristiwa bunuh diri
massal yang dilakukan oleh ketua sekte Jim Jones
bersama sekitar 900 pengikutnya di kawasan
Jonestown, Guyana.
Forbes Burnham meninggal tahun 1985, dan jabatan
presiden digantikan oleh PM Hugh Desmond Hoyte,
yang kemudian resmi terpilih pada pemilu bulan
Desember 1985. Secara bertahap, Hoyte
mengalihkan kebijakan mendiang Burnham dari
sosialisme dan penguasaan satu partai ke ekonomi
pasar, kebebasan pers, dan berserikat. Pada
tanggal 5 Oktober 1992, terpilih parlemen dan
dewan daerah (DPRD) hasil pemilu yang secara
internasional diakui bebas, jujur dan adil.
Cheddi Jagan terpilih sebagai presiden dan
dilantik pada tanggal 9 Oktober 1992.
Presiden Cheddi Jagan meninggal pada bulan Maret
1997, dan sesuai konstitusi PM Samuel Hinds
menggantikannya sebagai presiden. Isteri
mendiang Jagan, Janet Jagan, terpilih sebagai
presiden pada bulan Desember 1997, namun
mengundurkan diri pada bulan Agustus 1999 karena
kesehatannya dan digantikan oleh Menteri
Keuangan Bharrat Jagdeo, yang sehari sebelumnya
sudah terpilih sebagai perdana menteri.
Pada tahun 2000 potensi perekonomian Guyana
terpukul oleh sengketa perbatasannya dengan
Suriname dan Venezuela. Suriname mengusir kilang
minyak CGX Kanda yang telah menandatangani
kontrak dengan Guyana di kawasan yang
dipersengketakan. Pada tahun itu pula, Presiden
Venuzuela Hugo Chaves mengulangi tuntutan
Venezuela yang pernah dilakukan pada abad 19
atas separuh wilayah Guyana bagian barat, yang
kaya dengan kandungan minyak buminya.
Pada tanggal 19 Maret 2001 diselenggarakan
pemilu dan Presiden Bharrat Jagdeo terpilih
kembali dengan perolehan suara lebih dari 90%.
Pada tahun 2005, Guyana dilanda bencana banjir
terbesar, yang menggenangi lebih dari 1/3
wilayah pemukiman selama 2 bulan, sehingga
menimbulkan kerugian yang sangat besar.
Pada pemilu tanggal 28 Agustus 2006, Presiden
Bharrat Jagdeo kembali terpilih. Diakui, bahwa
selama 20 tahun lebih, untuk pertama kalinya
penyelenggaraan pemilu-pemilu di Guyana tersebut
bebas dari segala kerusuhan dan tindak kekerasan |
|
|
|
2. |
Peristiwa - peristiwa Penting |
|
|
1530 |
: |
Belanda mendirikan pusat perdagangan yang
pertama di Georgetown |
|
|
1530 |
: |
Budak pertama didatangkan dari Afrika |
|
|
1781
- 1816 |
: |
Inggris menguasai seluruh kawasan Guyana dengan
sebutan The British Interregnum |
|
|
1816 |
: |
Inggris hanya menguasai Guyana Inglesa, dan
menyerahkan kawasan lain kepada Belanda
(Suriname), Perancis (Guiana Prancis) dan
Spanyol (Venezuela), dengan kompensasi Inggris
memperoleh wilayah New York yang sebelumnya
dikuasai Belanda |
|
|
1834 |
: |
Karena perbudakan dilarang, pemerintah kolonial
mulai mendatangkan imigran kuli kontrak dari
India, Portugis, dan Cina |
|
|
1889 |
: |
Venezuela menuntut separuh wilayah Guyana bagian
barat, namun ditolak oleh Mahkamah Internasional
pada tahun 1899 |
|
|
1950 |
: |
PPP (People’s Progressive Party) sebagai
parpol pertama di Guyana yang dibentuk tanggal 1
Januari. Ketua Cheddi Jagan (Indo-Guyana) dan
Wakil Ketua Forbes Burnham (Afro-Guyana) |
|
|
1953 |
: |
Guyana-Inggris memperoleh status otonomi dan
mengangkat Cheddi Jagan sebagai Perdana Menteri |
|
|
1950 |
: |
PPP pecah, Forbes Burnham mendirikan parpol baru
PNC (People National Congress) yang pendukung
utamanya Afro-Guyana |
|
|
1955 |
: |
Merdekaannya dari Inggris pada tanggal 26 Mei |
|
|
1966 |
: |
Guyana menjadi Republik tanggal 23 Februari, dan
ditetapkan sebagai Hari Nasional (Hari Jadi
Republik Guyana) |
|
|
1910 |
: |
Guyana mengesahkan konstitusi tanggal 6 Oktober
untuk mengantikan konstitusi warisan pemerintah
kolonial Inggris |
|
|
1980 |
: |
Guyana melaksanakan pemilu yang diakui oleh
masyarakat internasional, dimenangkan oleh
parpol PPP pimpinan Cheddi Jagan, yang kemudian
dilantik sebagai presiden pada tanggal 9
Oktober |
|
|
1992 |
: |
Bulan Maret Cheddi Jagan meninggal dunia, dan
digantikan oleh PM Samuel Hinds sesuai
konstitusi. Bulan Desember, Isteri mendiang
Jagan, Janet Jagan, terpilih sebagai Presiden |
|
|
1997 |
: |
Bulan Agustus, Presiden Janet Jagan mengundurkan
diri karena kesehatannya dan digantikan oleh
Menteri Keuangan Bharrat Jagdeo, yang sehari
sebelumnya sudah terpilih sebagai Perdana
Menteri |
|
|
1999 |
: |
Sengketa perbatasan dengan Suriname dan
Venezuela |
|
|
2000 |
: |
Tanggal 19 Maret diselenggarakan pemilu dan
Presiden Bharrat Jagdeo terpilih kembali dengan
perolehan suara lebih dari 90% |
|
|
2001 |
: |
Banjir besar di Guyana selama 2 bulan |
|
|
2005 |
: |
Kedatangan orang orang keturunan
Lebanon yang pertama di Suriname |
|
|
2006 |
: |
Penyelenggaraan pemilu tanggal 28 Agustus dan
Presiden Bharrat Jagdeo kembali terpilih |
|
|
|
IV. POLITIK |
|
|
|
A. |
Politik Dalam Negeri |
|
1. |
Sistem Pemerintahan |
|
|
Pada
tahun 1966 Konstitusi Kemerdekaan Guyana
menempatkan Gubernur Jenderal sebagai wakil dari
Ratu Inggris, Perdana Menteri, Kabinet, Court
of Appeal (diketuai Cancellor of
Judiciary), High Court (diketuai
Chief Justice), dan Parlemen Satu Kamar
(Unicameral National Aseembly) sebagai lembaga
hukum/UU tertinggi. Pada tahun 1970, konstitusi
diubah dari sistem monarki menjadi republik,
sehingga pemerintah Guyana bukan lagi wakil dari
Ratu Inggris. Hal itu memungkinkan bagi non
executive dipilih oleh parlemen untuk
menduduki jabatan/fungsi Gubernur Jenderal. Pada
tahun 1973 diadakan pemilu dan referendum dengan
menerapkan konstitusi baru tersebut, yang
diamati oleh sejumlah lembaga/pengamat
independen.
Pada
tahun 1980, diberlakukan konstitusi baru dalam
rangka mereformasi lembaga kepresidenan dan
sistem pemerintahan. Konstitusi menyebutkan
bahwa Kepala Negara Guyana adalah Presiden dan
Perdana Menteri sebagai pembantu yang menangani
sejumlah kementerian. Konstitusi tersebut juga
mengatur pembagian wilayah administrasi Guyana
menjadi 10 daerah/propinsi. Chancellor
dan Chief Juctice dipilih dan diangkat
oleh Presiden.
Guyana
memiliki sistem pemerintahan parlementer, dan
presiden berfungsi sebagai Kepala Negara.
Parlemen terdiri dari presiden dan parlemen,
yang beranggotakan 65 orang yang dipilih melalui
pemilu. Sistem parlemen di Guyana adalah satu
kamar (unicameral). Berdasarkan
konstitusi Guyana, tersedia kursi bagi 10
utusan/perwakilan dari 10 daerah tingkat I
(region). Perdana Menteri adalah pembantu utama
presiden, dan juga sebagai pimpinan fraksi
pemerintah di parlemen. Apabila presiden
berhalangan, Perdana Menteri akan memimpin
kabinet.
Pemilihan presiden, anggota parlemen, serta
anggota utusan daerah diselenggarakan minimal
sekali dalam 5 tahun. Partai dan kelompok
politik di Guyana adalah: People
Progresissive Partai-Civic/PPPC (Bharrat
Jagdeo); People National Congress-Reform /
PNCR (Robert Herman Orlando Corbin);
Alliance for Change / AFC (Raphael Trotman
dan Khemraj Ramjattan); Guyana Action Party /
GAP (Paul Hardy); Justice for All Party /
JAP (C.N. Sharma); Rise, Organize,
and Rebuild / ROAR (Ravi Dev); The United
Force / TUF (Manzoor Nadir); The Unity
Party (Joey Jagan); Vision Guyana
(Peter Ramsaroop); Working People's Alliance
/ WPA (Rupert Roopnaraine).
Di
bawah konstitusi 1980, negara menjamin adanya
hak milik pribadi, warisan, hak memperoleh
pekerjaan dengan upah setara antara pekerja
laki-laki dan perempuan, perawatan kesehatan
gratis, bebas biaya pendidikan, dan tunjangan
sosial bagi manula serta penyandang cacat.
Konstitusi tersebut juga menempatkan adanya 5
(lima) lembaga tinggi dalam sistem pemerintahan
Guyana, yaitu: Parlemen / DPR
(National Assembly), DPRD
(National Congress of Local Democratic Organ),
Utusan Daerah (Supreme Congress of
People), Presiden, dan
Kabinet.
Parlemen:
Presiden dan parlemen satu kamar (Uni-cameral
National Assembly) beranggotakan 65 orang,
dengan rincian 53 orang dipilih melalui pemilu
dengan sistem proporsional, 10 orang dipilih
dari 10 DPRD propinsi, dan 2 orang dipilih dari
Utusan Daerah. Parlemen bertugas mengesahkan RUU
yang akan diajukan kepada presiden untuk
memperoleh persetujuan. Parlemen juga dapat
mengesahkan amandemen konstitusi.
DPRD:
Guyana
terbagi dalam 10 daerah administrasi (propinsi),
dan setiap daerah diperintah oleh Regional
Democratic Council (RDC) yang dipilih untuk
jangka waktu 5 tahun, dan dapat dicabut oleh
presiden sebelummasa jabatannya habis. Para
anggotanya memilih wakil untuk DPRD dari
kalangan mereka sendiri.
Utusan
Daerah:
Utusan Daerah dan parlemen bersama-sama
membentuk Utusan Daerah sebagai lembaga dewan
pertimbangan yang dapat dipanggil, dibubarkan
atau didukung oleh presiden. Lembaga ini
memberikan pertimbangan yang diminta presiden
dan secara otomatis bubar bersamaan dengan
parlemen.
Presiden:
Merupakan otoritas pelaksana pemerintahan
tertinggi, kepala negara, dan Panglima Angkatan
Bersenjata (Pangab) yang dipilih secara langsung
oleh rakyat dengan masa jabatan 5 tahun dan
tanpa pembatasan dapat dipilih kembali. Kandidat
presiden harus dicalonkan oleh parpol dan
memperoleh suara terbanyak dalam pemilu.
Presiden menunjuk PM yang harus mendapatkan
persetujuan parlemen dan kabinet menteri, yang
dapat berasal dari anggota yang tidak terpilih
dalam pemilu serta bersama-sama bertanggung
jawab kepada Badan Legislatif. Presiden juga
menunjuk Minority Leader, yang merupakan
anggota terpilih dari parlemen dan dipercaya
untuk mendapatkan dukungan dari oposisi.
Kabinet:
Terdiri dari presiden, PM dan sejumlah menteri
lainnya yang dibentuk oleh presiden. Presiden
menugaskan semua menteri, namun tidak semua
menteri merupakan anggota kabinet. |
|
|
|
2. |
Pemerintah Daerah |
|
|
Guyana terbagi atas 10 Pemeritahan Daerah (Region)
:
-
Barima-Waini
-
Pomeroon-Supenaam
-
Essequibo Is-West Demerara
-
Demerara-Mahaica
-
Mahaica-Berbice
-
East Berbice-Corentyne
-
Cuyuni-Mazaruni
-
Potaro-Siparuni
-
Upper Takutu-Upper Essequibo
-
Upper Demerara-Upper Berbice
Setiap daerah diperintah oleh Regional
Democratic Council (RDC), yang anggotanya
dipilih dan berjumlah 12 sampai 36 orang. RDC
akan melaksanakan kebijakan pemerintah pusat dan
mewakili warga di wilayah masing-masing. |
|
|
|
|
3. |
Pemilihan Umum (Pemilu) |
|
|
Sistem
pemerintahan unicameral (satu kamar),
dengan jumlah anggota parlemen (national
assembly) sebanyak 65 orang yang dipilih
dalam pemilu, ditambah 3 anggota yang ditunjuk
(non-elected), namun tidak memiliki hak suara
dalam voting parlemen (non-voting member),
dan bertugas selama 5 tahun.
Pemilu
tanggal 28 Agustus 2006 dimenangkan parpol
pemerintah PPP/People Progressive Party-Civic
(Indi-Guyana) yang diketuai Bharrat Jagdeo
(Presiden Guyana), dengan memperolehan suara
54.6%, parpol oposisi terbesar PNCR/People
National Congress-Reform (Afro-Guyana)
memperoleh 34%, parpol lainnya AFC/Allliance
For Change
(campuran) memperoleh 8,1%, dan sisanya sebanyak
3,3% dibagi oleh sejumlah parpol yang tidak
memperoleh kursi di parlemen.
Dengan
perolehan tersebut maka komposisi parlemen
adalah sebagai berikut:
·
PPP/C : 36 kursi
·
PNCR
: 22 kursi
·
AFC
: 5 kursi
· 2
anggota ditunjuk oleh presiden namun tidak
mempunyai hak pilih dalam voting di
parlemen (non voting member).
Parpol
peserta pemilu tahun 2006 tersebut a.l. PNCR/1G
(People’s National Congress/One Guyana), PPP/C
(the People’s Progressive Party/Civic), AFC
(Alliance For Change), GAP-ROAR (the Guyana
Action party-Rise Organise and Rebuild), GNC
(the Guyana national Congress), JFAP (the
Justice For All Party), LDP (the Liberal
Democrats Party), NDF (the National Democratic
Front), PRP (People’s Republic Party), dan TUF
(the United For Peace). Pemilu berikutnya bulan
Agustus 2011.
Pemilu
Guyana sangat penting untuk CARICOM (Caribbean
Community and Common Market) dan OAS
(Organization of American States). Menurut Ketua
OAS, Albert Ramdin, pemilu di Guyana telah
menunjukkan bahwa mereka mampu
menyelenggarakannya dengan jujur dan transparan,
karena pemilu sebelumnya kerap ditandai dengan
kekerasan, baik sebelum maupun sesudah
pemungutan suara.
Dengan
kemenangan PPP/C, maka Presiden Bharrat Jagdeo
terpilih untuk ke dua kalinya dan dalam
pelantikannya telah menjanjikan untuk meneruskan
modernisasi Guyana, menciptakan lapangan kerja
untuk semua rakyatnya tanpa pandang bulu dengan
semboyannya I am and shall continue to be the
President for all of Guyana. |
|
|
|
|
B. |
Politik Luar Negeri |
|
1. |
Prinsip - Prinsip Politik Luar
Negeri |
|
|
Dalam
hubungan luar negeri, Guyana di bawah Presiden
Bharrat Jagdeo bersikap aktif, menjadi
pemrakarsa CARICOM, melobi negara donor untuk
kepentingan penghapusan hutang warisan
pemerintahan sebelumnya, mengupayakan
penyelesaian perbatasan secara damai dengan
Suriname (di sebelah timur) dan Venezuela
(sebelah barat). Dalam hubungan dengan
negara-negara sekawasan, pemerintah Guyana
berupaya mengintegrasikan kawasan Karibia dan
Amerika Selatan. Guyana juga menekankan
kerjasama yang lebih erat dengan beberapa negara
di kawasan Amerika Selatan dan Karibia (Brasil,
Venezuela, Suriname, dan Guiana Perancis), bekas
penjajahnya Inggris, AS, Rusia, India, dan Cina.
Di fora multilateral dan internasional, serta
berupaya meningkatkan kerjasama dengan PBB
beserta badan-badan khususnya, GNB dan G-77. |
|
|
|
|
2. |
Kebijakan luar negeri |
|
|
-
Politik luar negeri Guyana diabdikan untuk
kemakmuran dan kesejahteraan rakyat dan
negara.
|
|
|
-
Setelah merdeka tahun 1966, berupaya untuk
berperan di dunia internasional, khususnya
antar negara-negara Dunia Ketiga dan GNB.
Pernah dua kali duduk di DK-PBB (1975-1976
dan 1982-1983). Wapres, Wakil PM, dan Jaksa
Agung Mohamed Shahabuddeen pernah bertugas
di International Court of Juctice selama 9
tahun (1987-1996).
|
|
|
-
Menganut prinsip tidak mencampuri urusan
dalam negeri negara lain, saling menghormati
atas dasar solidaritas internasional dan
koeksistensi damai seperti apa yang
tercantum dalam piagam PBB, prinsip-prinsip
GNB dan lain-lain.
|
|
|
-
Berupaya mengintegrasikan dirinya dalam
kawasan Karibia dan Amerika Selatan, melalui
partisipasi lebih aktif dalam CARICOM,
Association of Caribian States,
Amazone Pact, melihat kemungkinan ikut
serta dalam Mercosur, NAFTA dan
proses-proses terkait dengan KTT
negara-negara Amerika. Tahun 1993, Guyana
meratifikasi Vienna Convention on Illicit
Traffic in Narcotic Drugs 1988.
|
|
|
-
Peningkatan hubungan bilateral dengan
negara-negara lain, khususnya negara-negara
donor dari Eropa dan AS, Kanada, India, dan
Cina bagi pembangunan ekonomi nasional.
|
|
|
-
Menekankan kerjasama lebih erat dengan
negara-negara sekawasan seperti Brazil,
Venezuela, Suriname, dan Guiana Perancis
atas dasar prinsip “Good Neighborhood
Policy“.
|
|
|
-
Meningkatkan/mendiversifikasi hubungan
bilateral dan internasional dengan
negara-negara kawasan Asia.
|
|
|
-
Berpartisipasi aktif dalam
organisasi-organisasi Internasional dan
regional seperti PBB, OAS, CARICOM,
Kelompok-77, GNB, OKI dan lain-lain.
|
|
3. |
Keanggotaan Guyana dalam
Organisasi Internasional |
|
|
-
PBB dan badan-badan khususnya, WHO, ILO,
FAO, UNDP, WWF, IMO, WTO,
UNESCO,UNCTAD, World Bank, ECOSOC, UNIDO,
CEDAW, ICAO, WSSD, WFP, WWF, IBRD, IMF,
IFAD, ITU Interpol.
|
|
|
-
Organisasi Negara-negara
Amerika (OAS).
|
|
|
|
|
|
-
Negara-negara Group of African, Caribbean
and Pacific (ACP).
|
|
|
-
Perhimpunan Masyarakat
Karibia (CARICOM)/CSME).
|
|
|
-
Komisi Ekonomi untuk Amerika Latin.
|
|
|
-
Asosiasi Bauksit
Internasional (IBA).
|
|
|
-
Asosiasi Kerjasama Masyarakat
Eropa (LOME).
|
|
|
-
Inter-American Development
Bank (IDB).
|
|
|
-
International Finance
Cooperation (IFC).
|
|
|
-
International
Telecommunication Union (ITU).
|
|
|
-
South American Community of Nations /
Rio Group.
|
|
|
-
Treaty of Amazonian Cooperation (TAC).
|
|
|
|
|
|
-
International Centre for the Settlement
of Investment Dispute (ICSID).
|
|
|
-
World Intellectual Property Organization
(WIPO).
|
|
|
-
Pan America Health
Organization (PAHO).
|
|
V. EKONOMI |
|
1. |
Umum |
|
|
Karakteristik utama dari ekonomi Guyana adalah
ekonomi skala kecil yang bergantung bantuan luar
negeri. Perekonomian Guyana didominasi
oleh sumber daya alamnya, khususnya bauksit,
serta gula. Biro Statistik Guyana
mencatat inflasi kuartal pertama tahun 2006
adalah 6,5%. Pendapatan pemerintah Guyana
sebagian besar ditopang sektor pertambangan
bauksit, emas, intan, dam minyak bumi. Sementara
dari sektor pertanian, hasil laut dan kehutanan
belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Dengan pendapatan per kapita (GDP) hanya US$ 974
(2006), Guyana termasuk salah satu negara
termiskin di belahan wilayah barat. Kemajuan
ekonomi mulai terasa setelah Presiden Hoyte
menerapkan kebijakan Economic Recovery
Program (ERP) pada tahun 1989. Sehingga GDP
Guyana meningkat 6% tahun 1991 setelah selama 15
tahun mengalami kemerosotan.
Industri terbesar milik negara, pabrik gula
Guysuco dan pertambangan bauksit, dikelola oleh
perusahaan asing, sebuah perusahaan AS mengelola
bauksit dan dua perusahaan Kanada mengelola
emas. Pemerintah Guyana membenahi berbagai
peraturan yang berkaitan dengan eksplorasi
tambang dan minyak, termasuk kebijakan investasi
asing. Selain itu diperbaiki pula berbagai
peraturan pajak ekspor agar dapat meningkatkan
produk ekspor hasil pertanian. Gula, bauksit,
beras, kayu, hasil-hasil laut, dan emas
merupakan penyumbang 70%-75% ekspor tahun 2006.
Guyana masuk dalam kelompok heavily
indebted poor country (HIPC), dan upaya
pengurangan hutang merupakan salah satu
prioritas utamanya. Dalam tahun 2006, Guyana
terus mengupayakan the external debt stock
and debt service to a sustainable level.
Akhir tahun 2006, the external debt stock
dan debt service berada pada posisi
masing-masing US$ 920 juta dan US$ 22,6 juta.
Pada bulan Maret 2007, Inter-American
Development Bank (IADB) memberikan 100%
pengampunan hutang (debt relief) kepada Guyana
untuk outstanding loan balance and interest
sejak 31 Desember 2004, sebesar US$ 467 juta.
Menindaklanjuti penghapusan hutang oleh IADB
tersebut, IMF dan Bank Dunia juga melakukan hal
serupa sebesar US$ 237 juta, sehingga total
seluruhnya US$ 704 juta.
Juga dalam tahun 2006, melalui Paris Club,
Guyana membuat perjanjian dengan Jepang dengan
hasil pembebasan 100% bunga pokok sebesar US$
591,33. Karena beban hutang Guyana yang demikian
besar, cadangan devisa menjadi terbatas dan
mengurangi kemampuan untuk mengimpor bahan-bahan
mentah, suku cadang, dan berbagai peralatan yang
diperlukan, sehingga produksinya pun menurun.
Naiknya minyak dunia juga menyebabkan produksi
merosot, defisit perdagangan meningkat, dan
pengangguran bertambah (sekitar 30%).
Pemerintah Guyana saat ini memerlukan investasi
asing untuk membuka lapangan kerja,
mengembangkan kemampuan teknis, dan menggiatkan
produksi barang ekspor. Selama 5 (lima) tahun
terakhir ini, Guyana telah menarik investasi
untuk sektor-sektor pertambangan, kehutanan,
pertanian, teknologi informasi dan komunikasi,
pariwisata dan pelayanan. Perjanjian investasi
bilateral telah dibuat dengan negara-negara
China, Kuba, Jerman, dan Inggris. Sedangkan
double taxation treaties dilakukan dengan
Kanada, negara-negara CARICOM, dan Inggris.
Beberapa perusahaan milik negara asing, antara
lain dari AS, Rusia, Kanada, Malaysia, Perancis,
Israel, China, Brazil, Afrika Selatan, Belanda,
Jamaika, dan Trinidad-Tobago . |
|
|
|
2. |
Sektor-sektor Ekonomi |
|
|
a.
Pertanian
Ekspor beras naik 20% dari US$ 46,2 juta tahun
2005 menjadi US$ 54,6 juta tahun 2006. Demikian
pula gula, naik dari US$ 118 juta tahun 2005
menjadi US$ 145 juta tahun 2006. Namun di masa
mendatang untuk industri gula sedikit suram,
karena peraturan baru EU (European Union) yang
ditandatangani tahun 2007 ini secara bertahap
mengatur secara khusus ekspor gula Guyana.
Akibatnya akan mengurangi pendapatan Guyana dari
komoditi ini sebesar 30% di tahun-tahun
mendatang.
b.
Perikanan
Ikan dan udang merupakan penghasil devisa. Belum
ada budidaya sektor perikanan dan tidak memiliki
cukup banyak ahli dan pengetahuan sektor
perikanan untuk mengeksploitasi sumber-sumber
daya perikanannya.
Dalam dua tahun ini, perikanan (dan kehutanan)
telah meningkatkan kontribusi nilai ekspor
15%-20%.
c. Kehutanan
Guyana
memiliki hutan hujan tropis yang belum dijamah
seluas 65% dari wilayahnya. Hutan Guyana
menghasilkan sejumlah kayu berkualitas, seperti
halnya hutan di Suriname. Sejumlah perusahaan
asing telah masuk untuk mengeksploitasi hutan,
antara lain Barama (Malaysia-Korea), dan UNAMCO,
yang banyak merekrut tenaga kerja dari
Indonesia. Dalam dua
tahun ini, sektor kehutanan (dan perikanan)
tercatat telah meningkatkan kontribusi nilai
ekspor 15%-20%. Kehutanan sudah menjadi
perhatian khusus pemerintah, terutama yang
berkaitan dengan pengelolaan kontrak konsesi
hutan. Selain itu, pemerintah sedang
mempertimbangkan untuk melarang ekspor jenis
tertentu kayu mentah glondongan, karena jenis
kayu ini dapat memberikan nilai tambah untuk
pendapatan negara.
d. Pertambangan
Guyana
produsen bauksit ke-10 terbesar dunia. Bauksit
diproses menghasilkan alumina, bahan baku
aluminium. Saat ini investor Rusia (RUSAL) telah
masuk di sektor aluminium Guyana.
Selain bauksit,
Guyana juga menghasilkan emas dan intan. Ekspor
sektor pertambangan sedikit meningkat dalam
tahun 2006. Bauksit naik USD$ 67 juta, sedikit
naik dibandingkan tahun 2005. Emas naik menjadi
US$ 114,4 juta dibandingkan tahun 2005 US$ 111
juta. Mengenai minyak, pada tanggal 29 Januari
2002 telah ditandatangani kerjasama eksplorasi
minyak lepas pantai antara Guyana (Brarrat
Jagdeo) dan Suriname (Ronald Venetiaan).
|
|
|
|
VI. SOSIAL BUDAYA DAN PENERANGAN |
|
|
Perubahan nama Republik Kooperatif Guyana (the
Cooperative Republic of Guyana) menjadi Republik
Guyana pada tanggal 23 Februari 2002. Guyana
adalah negara yang masyarakatnya merupakan
komposisi multi etnis, terdiri dari suku
Hindustan (India), Kreol dan Bushnegro
(Afrika), Amerindian, Eropa, Portugis,
Cina dan Campuran. Kemajemukan latar
belakang budaya dan peradaban nenek moyang
masyarakat Guyana, khususnya Afro dan India,
sampai saat ini masih relatif kurang
terakomodasi, sehingga dikhawatirkan bisa
menjadi pemicu instabilitas. Guyana lebih
seperti negara di karibia daripada di Amerika
Latin.
Guyana memiliki sebuah kota besar (Georgetown),
dan 6 (enam) kota kecil komersial dan
administratif penting lainnya, dikenal sebagai
kotamadya yang memiliki DPRD sendiri :
-
Georgetown,
didirikan lebih dari 200 tahun lalu,
terletak di muara dan tepi sebelah timur
sungai Demerara. Georgetown merupakan
ibukota negara, pusat pemerintahan, pusat
perniagaan, serta pelabuhan laut
utama. Luasnya 38 km2 dengan populasi
(termasuk daerah sekitar) sekitar 170.000
jiwa.
-
New Amsterdam,
terletak di muara dan tepi sebelah timur
sungai Berbice, sebagai ibukota wilayah
timur Berbice-Corentyne. Luasnya 27,8 km2
dengan populasi sekitar 20.000 jiwa lebih,
dan sebagai kota pelabuhan untuk ekspor
bauksit.
-
Linden,
di tepian sungai Demara yang berjarak
sekitar 107 km dari Georgetown. Dibangun
tahun 1970 dengan menggabungkan kota tambang
Mackenzie dan dua dusun wilayah (Wismar dan
Christianburg). Luasnya mencakup 142 km2
dengan perkiraan populasi 29.500 jiwa.
-
Corriverton,
terletak di muara tepi barat sungai
Corentyne, yang secara resmi merupakan
penggabungan tiga dusun wilayah. Kota ini
dibangun tahun 1970 dan mempunyai luas 126
km2 dengan populasi sekitar 17.500 jiwa. Di
kota ini terdapat pelabuhan kecil.
-
Rose Hall,
bekas dusun wilayah yang terletak di
sepanjang jalan raya Corentyne, sekitar 29
km dari kota New Amsterdam. Berdiri tahun
1970 dengan luas wilayah 13 km2 dan populasi
sekitar 8.500 jiwa.
-
Anna Regina,
berjarak 19 km dari pantai Essequibo,
didirikan tahun 1970 dan sebagai pusat
administrasi daerah Pomeroon-Supernaam.
-
Bertica,
terletak pada pertemuan tiga sungai
(Essequibo, Mazaruni, Cuyuni), sebagai kota
pertambangan intan dan emas.
Bahasa Inggris merupakan bahasa resmi di Guyana,
dan juga sebagai bahasa pengantar pada
pendidikan, pemerintahan, dan perekonomian.
Sedangkan umat hindu dan muslim dalam
menjalankan ibadahnya menggunakan bahasa Hindi,
Urdu dan Arab. Mayoritas etnis/suku Amerindian
di daerah dataran tinggi menggunakan satu atau
lebih dari 9 (sembilan) dialek suku yang
dikenal, disebut Akawaio, Arawak, Arecuma,
Carib, Macusi, Patamona, Wai Wai, Warau dan
Wapishana. Bahasa Kreol cukup banyak digunakan
dan dipahami, yang berasal dari campuran bahasa
Inggris dengan bahasa Belanda, India, Afrika,
dan Amerindian.
Terdapat beberapa media massa (pers, radio, TV)
yang cukup berpengaruh. Surat-surat kabar yang
diterbitkan pemerintah, partai politik (parpol),
dan swasta, antara lain: |
|
|
|
: |
Guyana Chronicle, Stabroek News |
|
|
|
: |
Catholic Standard, Kaieteur News, Flame, Pulse,
Torchlight, New Nation |
|
|
|
: |
Mirror |
|
|
|
: |
Guyana Review |
|
|
Radio Guyana (The Guyana Broadcasting
Corporation) yang mengudara adalah Voice of
Guyana dan Radio Roraima. Sedangkan TV ada
sekitar 16 saluran TV perkotaan dan 2 saluran TV
pedesaan.
Pada umumnya kantor-kantor di Guyana memiliki 5
(lima) hari kerja dalam seminggu. Terdapat
beberapa bank dan Bank of Guyana
merupakan bank sentral. Mata uang resmi berupa
Dollar Guyana, yang terdiri dari pecahan uang
kertas dengan nilai nominal G$20, G$100, G$500,
G$1000, dan uang logam G$1, G$5, G$10. |
|
|
|
VII. ANALISA SINGKAT: POLITIK,
EKONOMI, SOSIAL BUDAYA, PENERANGAN, HANKAM, DAN
PERAN SURINAME DI KAWASAN REGIONAL /
INTERNASIONAL |
|
1. |
Analisa Politik |
|
|
Di
bidang politik, tampak adanya perkembangan
positif upaya pemerintah untuk menciptakan
stabilitas politik dan jaminan keamanan bagi
warga Guyana. Hal tersebut terlihat dengan
menurunnya tingkat pertentangan etnis antara
kelompok penguasa (keturunan Hindustan) dengan
kelompok oposisi yang mayoritas pendukungnya
berasal dari etnis keturunan negro dari Afrika.
Upaya tersebut merupakan upaya keras Presiden
Bharrat Jagdeo dalam merangkul kelompok-kelompok
multi-etnis dan agama, khususnya
kelompok-kelompok oposisi dan masyarakat muslim.
Namun demikian belum adanya penyelesaian
beberapa isu politik yang terus memicu
pertentangan antara pemerintah dan oposisi, dan
melebar menjadi pertentangan antar etnis
(khususnya keturunan Hindustan versus keturunan
Afrika), merupakan penghalang utama bagi upaya
pemerintah untuk menciptakan stabilitas politik.
Pemerintah maupun kelompok oposisi masih saling
menuduh tentang penyebabnya dan siapa yang harus
bertanggung jawab.
Disamping itu, pemerintah Bharrat Jagdeo juga
berupaya untuk menunjukkan keseriusannya dalam
memberantas korupsi, trafik narkotika melalui
Guyana ke negara-negara Eropa dan Amerika, para
pelaku tindak kriminal internasional dan
terorisme melalui kerjasama dengan AS.
Pemerintahan Bharrat Jagdeo pernah dikecam pihak
oposisi PNCR / People National
Congress-Reform (Afro-Guyana)mengenai
pembentukan Komisi Penyidik secara sepihak untuk
menyelidiki kasus pembunuhan lawan-lawan politik
pemerintah Death Squad oleh kelompok elit
militer Guyana dan khususnya keterlibatan
Mendagri Ronald Gajraj (2004). Kelambanan dan
kurangnya transparansi pihak pemerintah dalam
pengungkapan otak pelaku Death Squad
telah pula mengundang kritik keras pemerintah
AS, negara-negara Eropa dan Komisi HAM
Internasional. Hal tersebut seakan-akan telah
menghapus semua upaya positif Presiden Bharrat
Jagdeo dalam menegakkan demokratisasi,
penghormatan terhadap HAM, hak anak,
perlindungan terhadap kaum perempuan dan
perlindungan semua rakyat dari tindakan
kekerasan serta pembunuhan yang dilakukan oleh
kelompok etnis negro pendukung utama oposisi.
Keberhasilan pemerintah dalam memelihara
kerukunan antar umat multi agama dan berbagai
upaya untuk mengatasi masalah rasial pun,
nampaknya kurang mendapat perhatian para
pengkritik.
Sebaliknya dalam masalah konflik perbatasan di
Corentijn River dengan negara tetangga,
Suriname, pihak oposisi menunjukkan dukungannya
terhadap upaya dan kebijakan pemerintah untuk
mencari penyelesaian damai dan pemanfaatannya
bagi peningkatan kehidupan ekonomi rakyat,
terutama di wilayah yang dipersengketakan. |
|
|
|
2. |
Analisa Ekonomi |
|
|
Di
bidang ekonomi, seperti halnya Suriname, potensi
dan keanekaragaman kekayaan alam Guyana
yang cukup besar dan belum maksimal
dieksploitasi, merupakan modal bagi pengembangan
hubungan bilateral, terutama di bidang ekonomi
perdagangan. Sektor produksi yang masih belum
berjalan sehat, menyebabkan Guyana sangat
tergantung pada impor barang-barang, terutama
untuk memenuhi konsumsi dalam negerinya. Situasi
tersebut merupakan potensi bagi hubungan
perdagangan antara Indonesia dengan Guyana, yang
saat ini volumenya relatif
masih kecil.
Georgetown, Ibukota Guyana yang saat ini menjadi
Sekretariat CARICOM (Caribbean Community and
Common Market), dapat dimanfaatkan untuk
pengembangan pasar komoditas Indonesia ke
kawasan Amerika Selatan dan Karibia. |
|
|
|
3. |
Analisa Sosial Budaya |
|
|
Seperti
halnya Suriname, Guyana juga merupakan salah
satu negara yang dikategorikan sebagai
underdeveloped. Masalah buruknya kondisi
sosial-ekonomi merupakan tantangan yang berat
bagi pemerintah Guyana, sehingga IADB (Inter
American Development Bank) menganjurkan agar
upaya-upaya pemerintah dititikberatkan pada
program-program sosial untuk menangani masalah
kemiskinan. Di samping itu, diperlukan pula
reformasi sektor pemerintah, terutama menyangkut
masalah-masalah pemerintahan, keamanan dan
keadilan.
Hambatan dan tantangan yang masih dihadapi
Guyana untuk menciptakan stabilitas politik,
tidak mengurangi semangat dan tekad Presiden
Bharrat Jagdeo untuk mengupayakan peningkatan
kondisi di bidang sosial budaya, pendidikan,
kesehatan, dan penerangan, antara lain : |
|
|
-
Pemanfaatan semua potensi nasional dan
bantuan negara-negara sahabat, termasuk Kuba
dan Brasil, untuk mengatasi buruknya kondisi
sosial sebagian besar rakyat Guyana.
keaktifan Guyana memanfaatkan beasiswa
asing, khususnya dari Kuba (bidang
kedokteran), adalah sebagai alternatif
untuk memenuhi besarnya tuntutan kebutuhan
pendidikan ke jenjang lebih tinggi dan
keterbatasan kemampuan pemerintah
untuk membiayai berbagai program pendidikan
nasional.
-
Perbaikan kondisi kesehatan masyarakat
dengan menyediakan obat-obatan yang
terjangkau bagi warga tidak mampu,
pemberantasan penyakit malaria dan virus
HIV/AIDS, serta kondisi sosial berupa
pemberantasan kemiskinan, peningkatan daya
beli masyarakat, peningkatan sarana dan
prasarana, perbaikan pelayanan transportasi,
serta komunikasi dan perluasan lapangan
kerja.
-
Peningkatan kegiatan kepemudaan dan prestasi
nasional di bidang olah raga, bagi pembinaan
sportivitas dan mental serta melindungi
generasi muda dari perbuatan tercela,
khususnya dari bahaya narkotika dan
alcohol. Penyelenggaraan kompetisi
internasional olah raga cricket di
Guyana setiap bulan maret, dijadikan sebagai
salah satu upaya pendekatan dan peningkatan
kerjasama antar sesama negara anggota
persemakmuran (commonwealth countries),
serta pemanfaatan potensinya sebagai salah
satu daya tarik peningkatan arus wisatawan
dari mancanegara ke Guyana.
-
Tekad pemerintah untuk menggalakkan
pengembangan seni-budaya yang berakar dari
kawasan dan integritas budaya multietnis
adalah sebagai upaya untuk menjadikan
potensi seni budaya sebagai salah satu daya
tarik wisatawan mancanegara, khususnya dari
Eropa dan Amerika. Untuk mempertahankan
identitas budaya multietnis dan identitas
sebagai bagian dari kawasan Karibia, Guyana
aktif menyelenggarakan festival-festival
promosi seni budaya kawasan setiap bulan
Februari.
|
|
|
Di
bidang budaya, Guyana aktif mengirimkan wakilnya
untuk mengikuti pemilihan Miss Universe.
Sedangkan di bidang lingkungan hidup, khususnya
dalam konservasi hutan, Guyana pada tahun 2003
mendapat penghargaan dari World Wildlife Fund
(WWF) atas prestasinya dalam memelihara
keseimbangan antara keuntungan dari pemanfaatan
hutan untuk peningkatan ekonomi dan kewajiban
memelihara lingkungan hidup. Di bidang
pendidikan, Guyana banyak dan sangat aktif
memanfaatkan tawaran beasiswa dari
negara-negara, khususnya Kuba di bidang
kedokteran. Mulai tahun ajaran 2004, Guyana juga
mulai memanfaatkan beasiswa yang ditawarkan oleh
Indonesia dalam rangka program kerjasama antar
negara Selatan-Selatan. |
|
|
|
4. |
Analisa
Penerangan |
|
|
Di
bidang penerangan, pemerintahan Presiden Bharrat
Jagdeo nampaknya masih belum berhasil
menciptakan titik temu dengan kalangan pers dan
media dari kelompok oposisi terkait dengan
persepsi kebebasan pers yang bertanggung jawab.
Masalah ini juga menarik perhatian pers dari
organisasi Persatuan Wartawan Karibia. |
|
|
|
5. |
Analisa Pertahanan dan Keamanan |
|
|
Sebagai
salah satu pemrakarsa pembentukan CARICOM,
Guyana rela mengorbankan komitmen dan
solidaritas masyarakat Karibia dengan menerapkan
politik ganda yang berseberangan dengan
mayoritas negara anggota Karibia lainnya,
termasuk dengan Suriname. Hal tersebut dilakukan
dalam rangka memelihara solidaritas dan dukungan
negara-negara Persemakmuran kepada Guyana,
khususnya di bidang pertahanan dan keamanan
serta untuk mendapatkan bantuan kerjasama
militer dari AS sebagai mitra yang paling
berperan. Hal ini terbukti dari sikap Guyana
yang menyimpang dari kesepakatan KTT CARICOM
tahun 2004 menyangkut komitmen posisi
negara-negara Karibia untuk mendukung Rome
Statute tentang pembentukan ICC
(International Criminal Court). Dalam hal ini,
Guyana tidak meratifikasi Rome Statute
ICC dan bahkan sebaliknya menandatangani
kesepakatan dengan AS, yaitu untuk menjamin
kekebalan para penjahat perang AS dari jeratan
hukum ICC.
Sikap
Guyana tersebut nampaknya didesak oleh
kepentingan nasionalnya dalam menghadapi
persengketaan perbatasannya dengan Suriname,
yang sejak bulan Februari 2004 terlihat semakin
memanas. Upaya ini juga dimaksudkan untuk
menjamin berlanjutnya bantuan kerjasama militer
AS (yang belum diperoleh Suriname hingga saat
ini), khususnya untuk menjaga wilayah
territorial Guyana, termasuk 2 (dua) wilayah di
perbatasannya dengan Suriname (Tigri dan
Corentijn River) yang dikleim Guyana dan
Suriname sebagai miliknya. Keyakinan Guyana
untuk mendapatkan dukungan negara-negara anggota
Persemakmuran dan AS tersebut sepertinya telah
memicu arogansi pemerintah Guyana, yang menurut
Suriname dinilai agresif melakukan pelanggaran
terhadap wilayah kedaulatan Suriname. Sikap
serupa juga ditunjukkan Guyana dengan memutuskan
secara sepihak tanpa persetujuan Suriname,
mengadukan masalah perbatasan ke dua negara
kepada Mahkamah Internasional Hukum Laut
(ITLOS/International Tribunal on the Law of the
Sea ) PBB di Hamburg, Jerman. Pihak ITLOS
direncanakan mengumumkan putusannya sebelum
Agustus 2007.
Selain
itu, urgensi peningkatan kemampuan pertahanan
dan keamanan nasional Guyana juga dalam upaya
selain untuk melindungi wilayah perbatasan
darat, laut, dan udaranya dengan negara
tetangga, khususnya yang bersengketa dengan
Guyana (Venezuela dan Suriname), juga untuk
mencegah dijadikannya Guyana sebagai sasaran
atau pusat gerakan terorisme internasional,
dan/atau jaringan perdagangan narkoba
internasional.
Dengan
meningkatkan kondisi pertahanan dan keamanan
yang lebih baik, diharapkan Guyana mampu
mengakhiri konflik etnis dan menciptakan
keamanan umum bagi masyarakatnya, yang masih
dihantui tindakan pembunuhan dan aksi
kriminalitas dengan kekerasan, serta sekaligus
upaya Guyana menciptakan stabilitas nasional di
bidang politik dan keamanan dalam rangka
menunjang pembangunan di segala bidang. |
|
|
|
6. |
Analisa Peran Guyana di Kawasan Regional /
Internasional |
|
|
Sebagai
negara yang tergolong small countries dan
negara berkembang, Guyana menyadari pentingnya
untuk terlibat dalam proses regionalisme maupun
globalisme ekonomi-perdagangan. Untuk itu,
Guyana aktif meningkatkan hubungan bilateralnya
dengan negara-negara tetangga dan sekawasan,
selain untuk kepentingan pembangunan nasional di
segala bidang, juga dalam upaya mendapatkan
simpati dan dukungan bagi posisi Guyana dalam
menghadapi konflik perbatasannya dengan
Venezuela dan Suriname. Guyana juga terus
membina hubungan baik dengan negara-negara
anggota Persemakmuran, terutama dengan Inggris
dan Australia, serta AS. Guyana juga tidak
ketinggalan dari Suriname dalam pengembangan
hubungan kerjasama bilateralnya di berbagai
bidang dengan negara-negara di Eropa, China,
India, Jepang, serta negara-negara di kawasan
Asia-Afrika. Dengan Indonesia, Guyana telah
meminta agar tidak dianaktirikan,
mengingat Guyana dirangkap dari KBRI Paramaribo,
Suriname.
Guyana
adalah negara anggota aktif di PBB, GNB, dan
G-77, serta mempunyai komitmen yang cukup besar
dalam memelihara solidaritas dan mempererat
hubungan kerjasama antar sesama negara anggota
PBB dan G-77, termasuk dengan Indonesia.
Sebagai negara di kawasan Karibia, Guyana juga
aktif dalam mendukung posisi Indonesia di
berbagai fora multilateral dan internasional.
Selama
6 (enam) bulan sejak tanggal 1 Juni s/d 31
Desember 2002, Guyana pernah memegang mandat
pimpinan CARICOM berotasi, yang didirikan atas
prakarsa Guyana melalui Treaty of Caguaramas
(4 Juli 1973), dan sekaligus menjadikan ibukota
Guyana, Georgetown, sebagai kantor
pusat/sekretariat CARICOM. Sekretariat CARICOM
merupakan badan administrasi utama, yang
dipimpin oleh seorang Sekjen sekaligus Ketua
CARICOM, dan mengemban misi untuk menciptakan
kepemimpinan dan pelayanan yang dinamis kepada
lembaga-lembaga yang ada di Karibia demi
peningkatan kualitas hidup bagi seluruh
masyarakatnya. Sejak tahun 1992 hingga saat ini,
Sekjen CARICOM adalah Edwin W. Carrington dari
Trinidad dan Tobago.
Selain
aktif sebagai anggota negara-negara
Persemakmuran, Guyana juga aktif mewujudkan
CARIFTA (Caribbean Free Trade Association) cikal
bakal terbentuknya CARICOM (saat tahun 1972,
the 7th Head of Government Conference
para pemimpin Commonwealth Caribbean
mencetuskan gagasan mengubah CARIFTA menjadi
Common Market serta membentuk Caribbean
Community dengan Common Market
terintegrasi di dalamnya); aktif sebagai anggota
ACS (Association of Caribbean States) yang
dibentuk tanggal 24 Juli 1994 di Cartagena de
Indias (Kolombia); dan sebagai anggota ACP
(African-Caribbean-Pacific States) yang
mempunyai hubungan luas dengan EU (European
Union) melalui Lome Convention (suatu
perjanjian perdagangan dan pemberian bantuan
antara EU dan 71 negara-negara ACP yang pertama
kali ditandatangani bulan Februari 1975 di Lome,
Togo). Di wilayah Amerika, Guyana aktif sebagai
anggota OAS (Organization of American States)
yang dibentuk pada bulan Desember 1994 pada saat
KTT ke-1 negara-negara Amerika di Miami dan SELA
(Latin American Economic System) yang dibentuk
tanggal 17 Oktober 1975 melalui Persetujuan
Panama.
Dalam
masalah konflik Irak, Guyana menilai bahwa
masalah Irak harus diselesaikan melalui
keputusan PBB dengan penyelesaian damai melalui
jalur diplomatik, serta berpegang pada prinsip
penyelesaian melalui tradisi multilateral,
penghormatan terhadap kedaulatan suatu negara
merdeka dan melindungi keselamatan umat manusia.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
INDONESIA - THE ULTIMATE IN
DIVERSITYY |
|
|
|
|
|
PENGUMUMAN |
|
|
|
|
|
|
|
|
JAM KERJA
|
|
Senin - Jum'at |
|
08.00 - 16.00 |
|
Istirahat 12.00 - 12.30 |
|
|
|
|
|
|
|
PENGUNJUNG
|
|
Online |
|
 |
|
|
|
|