Beranda | Galeri | Links
 

KBRI PARAMARIBO
Tentang KBRI Paramaribo
Mantan Dubes
Staff
 
PELAYANAN
Visa
Jasa Kekonsuleran
Lapor Diri Online
 
INFORMASI
Suriname
Guyana
-
HUBUNGAN BILATERAL
Indonesia - Suriname
Indonesia - Guyana
-
ARSIP

 
LINKS
Presiden RI
Portal Kemlu
Deplu Junior
Indonesia Tourism
Suriname Tourism
Guyana Tourism
 
 
Selamat Datang di Website Kedutaan Besar Republik Indonesia Paramaribo - Suriname Merangkap Guyana

INFORMASI
REPUBLIK GUYANA

 

I. Umum
       
1. Nama Negara : Republik Guyana
2. Ibukota : Georgetown
3. Hari Kemerdekaan : 26 Mei 1966 (dari Inggris)
3. Hari Jadi Republik : 23 Februari 1970
3. Hari Jadi Konstitusi : 6 Oktober 1980
4. Kepala Negara : Presiden Bharrat Jagdeo
5. Pembantu Presiden : Perdana Menteri Samuel Hinds
6. Ketua Parlemen : Ralph Ramkarran
7. Menteri Luar Negeri : Samuel Rudolph Insanally
8. Bahasa Nasional : Inggris, kreol guyana, amerindian (terutama carib dan arawak)
9. Agama : Kristen (57,4%), Hindu (28,3%), Muslim (7,2%), lain-lain (7,1%)
10. Mata Uang :

Guyana Dollar (G$), kurs resmi 1 US$ = G$ 190

11. Jumlah Penduduk : 767.245 orang (sensus 2005), rata-rata pertumbuhan 0,25%
12. Etnis Suku :

Hindustan (43,4%), Afrika (30,2%), Campuran (16,7%), Amerindian (9,2%), Eropa (0,1%), Portugis (0,2%), Cina (0,2%)

13. Pendapatan per Kapita : US$ 974,- (2006)
14. Laju Inflasi : 6,5%
15. Produk pertanian : Gula, beras, buah-buah segar, dan sayur mayur
16. Sumber Alam : Emas, bauksit, intan, kayu, udang, dan ikan
17. Ekspor : Bauksit, emas, intan, minyak bumi, kayu, beras, gula, ikan, udang
18. Pasar Ekspor : AS, Inggris, CARICOM, Kanada
19. Negara Impor : AS, Inggris, Venezuela, CARICOM, Kanada, Asia (Cina dan Jepang)
20. Negara Impor : AS, Inggris, Venezuela, CARICOM, Kanada, Asia (Cina dan Jepang)
21. Sistem Hukum dan Pengadilan : Sistem pengadilan  Kerajaan Inggris, ditambah sistem hukum Roma Belanda. Sampai kini Guyana tidak menerima Inter-national Court of Justice (Mahkamah Internasional). Pengadilan Tertinggi Guyana terdiri atas Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung, dan Mahkamah Banding. Guyana telah menerapkan ketentuan bahwa upaya banding paling akhir dapat diajukan oleh pemohon ke Mahkamah Karibia
22. Lagu Kebangsaan :

Land of Guyana

Dear land of Guyana, of rivers and plains,
Made rich by the sunshine and lush by the rains,
 Set gemlike and fair between mountains and sea,
 Your children salute you, dear land of the free.

               

Green land of Guyana, our heroes of yore,
Both bondsmen and free, laid their bones on your shore;
This soil so they hallowed, and from them are we,
All sons of one mother, Guyana the free.

               

Great land of Guyana, diverse though our strains,
We are born of their sacrifice, heirs of their pains,
And ours is the glory their eyes did not see,
One land of six peoples, united and free.

               

Dear land of Guyana, to you will we give
Our homage, our service, each day that we live;
God guard you, great Mother, and make us to be
More worthy our heritage - land of the free

 
 
23. Bendera :

Bendera kebangsaan Guyana berbentuk 4 persegi panjang dengan perbandingan panjang:lebar = 3:2, bergambar anak panah berwarna emas (golden arrow) dengan latar belakang berwarna hijau pada mata anak panah, dan merah pada belakang mata panah

 
24. Lambang Negara :

Lambang negara Guyana terdiri dari kumpulan simbol-simbol bergambar hiasan kepala Amerindian, helm di atas perisai yang diapit dua harimau jaguar yang masing-masing memegang kapak dan cangkul, serta di bawahnya ada hiasan umbul-umbul pita bertuliskan One People, One Nation, One Destiny. Hiasan kepala Amerindian melambangkan suku pribumi yang paling awal mendiami Guyana (Suku Warau). Dua untaian intan yang ada di dua sisi hiasan kepala melambangkan kekayaan hasil tambang.Pelindung kepala ala ksatria Eropa berhiaskan gaya Amerindian melambangkan simbol kerajaan atau negara. Dua jaguar yang mengapit perisai dengan memegang kapak dan cangkul, melambangkan keperkasaan tenaga kerja di dua sektor pertanian utama di Guyana. Perisai yang diapit dua jaguar pada bagian atas bergambar bunga nasional Guyana, teratai Victoria Regia Lily, sebagai simbol kekayaan flora Guyana. Dibawah gambar bunga teratai, tergambar simbul tiga garis biru bergelombang, simbol kekayaan air negara Guyana. Di bawah garis biru, tergambar burung nasional, Canje Pheasant, jenis burung yang hanya hidup di Guyana, sekaligus simbol kekayaan fauna Guyana. Pita hias di bawah gambar perisai dan jaguar, bertuliskan moto pendirian negara Guyana yang multi-etnis, sebagai satu warga, satu bangsa, satu tujuan

 
II. GEOGRAFI
1. Luas Wilayah :

Luas wilayah Guyana 214.970 km2 berupa daratan 196.850 km2 dan perairan18.120 km2 dengan panjang pantai 459 km

 
2. Topografi :

Datarannya dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu:

a. Daerah Pesisir/Pantai

Daerah pesisir/pantai muda, terbentuk dari tanah liat yang pekat, antara pasir pantai dan gugusan karang yang terletak di bawah permukaan laut. Sedangkan pantai tua sebagian besar wilayahnya terletak di atas permukaan laut. Kondisinya hampir sama dengan Suriname

b. Daerah Savana

Daerah yang tertutup pasir dan sangat gersang. Di daerah ini hanya tumbuh jenis rumput– rumput tertentu

c. Daerah Dataran Tinggi

Terletak di sebelah selatan, berbatasan dengan wilayah Brazil, Venezuela, dan Suriname. Sebagian besar daerah ini tertutup hutan tropis yang menghasilkan kayu keras berkualitas tinggi

3. Perbatasan
  Guyana terletak di sebelah barat laut anak benua Amerika Selatan. Wilayahnya terbentang antara 1-9 Lintang Utara (LU) dan 57-61 Bujur Barat (BB). Batas–batas wilayah Guyana sebagai berikut :
 
  Sebeleh Utara : Lautan Atlantik
 
  Sebelah Timur : Sungai Corantijn, Suriname
 
  Sebelah Selatan : Kawasan Rimba Amazone, Brazil
 
  Sebelah Barat : Venezuela
 
4. Kota-kota Besar : Georgetown, New Amsterdam, Bartica, Linden, Parika, Mabaruna
 
5. Iklim :

Beriklim tropis dengan temperatur rata–rata 28.3 C. Curah hujan rata-rata 225 cm per tahun dengan kelembaban udara 66 Hg, hampir sama dengan Suriname. Musim hujan terjadi 2 kali setiap tahun, yakni bulan Mei-Agustus dan bulan Nopember-Januari

 
6. Flora dan Fauna :

Sekitar 65% wilayah Guyana masih berupa hutan belukar yang di dalamnya hidup berbagai species tumbuhan dan satwa. Guyana dikenal sebagai penghasil emas dan intan, selain kayu dan produk hutan lain. Hasil kayu tersebut diekspor dan menjadi sumber devisa. Sumber daya alam Guyana untuk pengembangan  eco-tourism saat ini semakin diakui, karena keunikan alam dan keanekaragaman hayatinya di kawasan Karibia. Guyana memiliki 6 pegunungan, 275 air terjun, 18 danau, hutan hujan tropis yang sangat luas, dan 700 species burung, diantaranya burung harpy eagle, diakui sebagai jenis elang terbesar di dunia. Salah satu wisata alam paling menarik di Guyana adalah Kaieteur Falls dengan ketinggian sekitar 260 m

 
III. SEJARAH
1. Terbentuknya Negara dan Pemerintahan Guyana
 

Sebelum kedatangan bangsa Eropa, Guyana dihuni oleh suku Carib dan Arawak, yang menamakannya Guiana, artinya land of many waters. Belanda mendudukki Guyana menjelang akhir abad ke-16,     namun secara defakto dikuasai oleh Inggris pada tahun 1796. Pada tahun 1815 dalam Kongres Wina, koloni-koloni Essequibo, Demerara, dan Berbice secara resmi diserahkan kepada Inggris Raya, dan pada tahun 1831, dikonsolidasikan sebagai British Guiana.

Menindaklanjuti penghapusan perbudakan pada tahun 1834, ribuan tenaga kerja dari India (paling banyak), Portugis dan Cina didatangkan ke Guyana untuk menggantikan para budak bekerja di perkebunan tebu. Kemudian Inggris menghentikannya pada tahun 1917.

Banyak para bekas budak keturunan Afro-Guyana pindah ke kota-kota dan menjadi mayoritas penduduk perkotaan. Sedangkan keturunan Indo-Guyana tetap mendiami daerah-daerah pedesaan. Rencana untuk mendatangkan tenaga kerja orang-orang negro dari Amerika Serikat (AS) pada tahun 1862 ternyata tidak berhasil. Sebagian kecil penduduk keturunan Amerindian mendiami daerah-daerah pedalaman.

Penduduk Guyana yang berasal dari berbagai bangsa tersebut di sebagian wilayah dapat hidup rukun. Pemberontakan para budak seperti yang terjadi pada tahun 1763, yang dipimpin oleh pahlawan nasional Guyana, Cuffy, bertujuan selain untuk memperoleh hak dasar (basic rights) juga untuk memperoleh kompromi. Kerusuhan rasial yang berlatar belakang politik antara Indo-Guyana dan Afro-Guyana terjadi pada tahun 1962-1964, dan setelah pemilu pada tahun 1997 dan 2001.

Partai politik (parpol) pertama di Guyana adalah PPP (People’s Progressive Party), yang dibentuk pada tanggal 1 Januari 1950. Sebagai Ketua Forbes Burnham, keturunan Afro-Guyana berpendidikan Inggris, Wakil Ketua II Dr. Cheddi Jagan, keturunan Indo-Guyana berpendidikan AS, dan sebagai Sekjen Janet Jagan, kelahiran AS isteri Cheddi Jagan. Pada pemilu pertama yang diakui oleh pemerintah kolonial pada tahun 1953, PPP berhasil merebut 18 dari 24 kursi di parlemen, dan Dr. Cheddi Jagan menjadi Ketua Parlemen dan Menteri Pertanian dalam pemerintahan kolonial. Namun 5 (lima) bulan kemudian, pada tanggal 9 Oktober 1953, Inggris membekukan konstitusi dan mendatangkan bala tentara dengan alasan, Jagan cs dan parpol PPP sedang merencanakan untuk menjadikan Guyana sebagai negara komunis. Kejadian tersebut menyebabkan perpecahan dalam tubuh PPP. Forbes Burnham keluar dan membentuk parpol PNC (People’s National Congress).

Kemudian pemilu diselenggarakan lagi pada tahun 1957 dan 1961, yang keduanya dimenangkan oleh parpol PPP pimpinan Cheddi Jagan, dengan perolehan suara masing-masing 48% dan 43%. Cheddi Jagan menjadi Perdana Menteri British Guiana, yang dijabatnya selama 7 (tujuh) tahun. Pada tahun 1963, pemerintah Inggris menyetujui untuk memberikan kemerdekaan kepada Guyana dengan syarat terlebih dahulu harus menyelenggarakan pemilu dengan model perwakilan proporsional. Hal ini nampaknya sebagai upaya untuk mengurangi jumlah kursi yang dimenangkan oleh PPP dan mencegahnya untuk memperoleh a clear majority di parlemen. Pada pemilu tahun 1964, PPP memperoleh 46%, PNC 41%, dan 12% untuk TUF (The United Force) dan partai konservatif. TUF memberikan suaranya kepada Forbes Burnham, yang akhirnya menjadi Perdana Menteri.

Guyana memperoleh kemerdekaan pada tanggal 26 Mei 1966. Sebutan Guyana Inggris diubah menjadi Guyana, dan menjadi republik pada tanggal 23 Februari 1970 (peringatan pemberontakan budak pimpinan Cuffy). Sejak bulan  Desember 1964 hingga meninggal pada bulan Agustus 1985, Forbes Burnham memerintah Guyana dengan cara otokratis, mula-mula sebagai perdana menteri dan setelah diberlakukannya konstitusi pada tahun 1980, beralih menjadi presiden. Selama itu, banyak terjadi kecurangan dalam penyelenggaraan pemilu-pemilu di Guyana. HAM dan kebebasan sipil ditekan, dan terjadi dua kali pembunuhan berlatar belakang politik terhadap pendeta/wartawan Bernard Darke bulan Juli 1979, dan sejarawan/Ketua Partai WPA Walter Rodney bulan Juni 1980. Orang-orangnya Presiden Burnham diyakini berada di belakang peristiwa tersebut. Selain itu, pada tahun 1978 Guyana menjadi pusat perhatian dunia akibat peristiwa bunuh diri massal yang dilakukan oleh ketua sekte Jim Jones bersama sekitar 900 pengikutnya di kawasan Jonestown, Guyana.

Forbes Burnham meninggal tahun 1985, dan jabatan presiden digantikan oleh PM Hugh Desmond Hoyte, yang kemudian resmi terpilih pada pemilu bulan Desember 1985. Secara bertahap, Hoyte mengalihkan kebijakan mendiang Burnham dari sosialisme dan penguasaan satu partai ke ekonomi pasar, kebebasan pers, dan berserikat. Pada tanggal 5 Oktober 1992, terpilih parlemen dan dewan daerah (DPRD) hasil pemilu yang secara internasional diakui bebas, jujur dan adil. Cheddi Jagan terpilih sebagai presiden dan dilantik pada tanggal 9 Oktober 1992.

Presiden Cheddi Jagan meninggal pada bulan Maret 1997, dan sesuai konstitusi PM Samuel Hinds menggantikannya sebagai presiden. Isteri mendiang Jagan, Janet Jagan, terpilih sebagai presiden pada bulan Desember 1997, namun mengundurkan diri pada bulan Agustus 1999 karena kesehatannya dan digantikan oleh Menteri Keuangan Bharrat Jagdeo, yang sehari sebelumnya sudah terpilih sebagai perdana menteri.

Pada tahun 2000 potensi perekonomian Guyana terpukul oleh sengketa perbatasannya dengan Suriname dan Venezuela. Suriname mengusir kilang minyak CGX Kanda yang telah menandatangani kontrak dengan Guyana di kawasan yang dipersengketakan. Pada tahun itu pula, Presiden Venuzuela Hugo Chaves mengulangi tuntutan Venezuela yang pernah dilakukan pada abad 19 atas separuh wilayah Guyana bagian barat, yang kaya dengan kandungan minyak buminya.

Pada tanggal 19 Maret 2001 diselenggarakan pemilu dan Presiden Bharrat Jagdeo terpilih kembali dengan perolehan suara lebih dari 90%. Pada tahun 2005, Guyana dilanda bencana banjir terbesar, yang menggenangi lebih dari 1/3 wilayah pemukiman selama 2 bulan, sehingga menimbulkan kerugian yang sangat besar.

Pada pemilu tanggal 28 Agustus 2006, Presiden Bharrat Jagdeo kembali terpilih. Diakui, bahwa selama 20 tahun lebih, untuk pertama kalinya penyelenggaraan pemilu-pemilu di Guyana tersebut bebas dari segala kerusuhan dan tindak kekerasan

 
 2. Peristiwa - peristiwa Penting
   1530 Belanda mendirikan pusat perdagangan yang pertama di Georgetown
   1530 : Budak pertama didatangkan dari Afrika
   1781 - 1816 : Inggris menguasai seluruh kawasan Guyana dengan sebutan The British Interregnum
   1816 : Inggris hanya menguasai Guyana Inglesa, dan menyerahkan kawasan lain kepada Belanda (Suriname), Perancis (Guiana Prancis) dan Spanyol (Venezuela), dengan kompensasi Inggris memperoleh wilayah New York yang sebelumnya dikuasai Belanda
   1834 : Karena perbudakan dilarang, pemerintah kolonial mulai mendatangkan imigran kuli kontrak dari India, Portugis, dan Cina
   1889 : Venezuela menuntut separuh wilayah Guyana bagian barat, namun ditolak oleh Mahkamah Internasional pada tahun 1899
   1950 : PPP (People’s Progressive Party) sebagai parpol pertama di Guyana yang dibentuk tanggal 1 Januari. Ketua Cheddi Jagan (Indo-Guyana) dan Wakil Ketua Forbes Burnham (Afro-Guyana)
   1953 : Guyana-Inggris memperoleh status otonomi dan mengangkat Cheddi Jagan sebagai Perdana Menteri
   1950 PPP pecah, Forbes Burnham mendirikan parpol baru PNC (People National Congress) yang pendukung utamanya Afro-Guyana
   1955 : Merdekaannya dari Inggris pada tanggal 26 Mei
   1966 : Guyana menjadi Republik tanggal 23 Februari, dan ditetapkan sebagai Hari Nasional (Hari Jadi Republik Guyana)
   1910 : Guyana mengesahkan konstitusi tanggal 6 Oktober untuk mengantikan konstitusi warisan pemerintah kolonial Inggris
   1980 : Guyana melaksanakan pemilu yang diakui oleh masyarakat internasional, dimenangkan oleh parpol PPP  pimpinan Cheddi Jagan, yang kemudian dilantik sebagai  presiden pada tanggal 9 Oktober
   1992 : Bulan Maret Cheddi Jagan meninggal dunia, dan digantikan oleh PM Samuel Hinds sesuai konstitusi. Bulan Desember, Isteri mendiang Jagan, Janet Jagan, terpilih sebagai Presiden
   1997 : Bulan Agustus, Presiden Janet Jagan mengundurkan diri karena kesehatannya dan digantikan oleh Menteri Keuangan Bharrat Jagdeo, yang sehari sebelumnya sudah terpilih sebagai Perdana Menteri
   1999 : Sengketa perbatasan dengan Suriname dan Venezuela
   2000 : Tanggal 19 Maret diselenggarakan pemilu dan Presiden Bharrat Jagdeo terpilih kembali dengan perolehan suara lebih dari 90%
   2001 : Banjir besar di Guyana selama 2 bulan
   2005 : Kedatangan orang orang keturunan Lebanon yang pertama di Suriname
   2006 : Penyelenggaraan pemilu tanggal 28 Agustus dan Presiden Bharrat Jagdeo kembali terpilih
 
IV. POLITIK
 
 A. Politik Dalam Negeri
 1. Sistem Pemerintahan
 

Pada tahun 1966 Konstitusi Kemerdekaan Guyana menempatkan Gubernur Jenderal sebagai wakil dari Ratu Inggris, Perdana Menteri, Kabinet, Court of Appeal (diketuai Cancellor of Judiciary), High Court (diketuai Chief Justice),  dan Parlemen Satu Kamar (Unicameral National Aseembly) sebagai lembaga hukum/UU tertinggi. Pada tahun 1970, konstitusi diubah dari sistem monarki menjadi republik, sehingga pemerintah Guyana bukan lagi wakil dari Ratu Inggris. Hal itu memungkinkan bagi non executive dipilih oleh parlemen untuk menduduki jabatan/fungsi Gubernur Jenderal. Pada tahun 1973 diadakan pemilu dan referendum dengan menerapkan konstitusi baru tersebut, yang diamati oleh sejumlah lembaga/pengamat independen.        

Pada tahun 1980, diberlakukan konstitusi baru dalam rangka mereformasi lembaga kepresidenan dan sistem pemerintahan. Konstitusi menyebutkan bahwa Kepala Negara Guyana adalah Presiden dan Perdana Menteri sebagai pembantu yang menangani sejumlah kementerian. Konstitusi tersebut juga mengatur pembagian wilayah administrasi Guyana menjadi 10 daerah/propinsi. Chancellor dan Chief Juctice dipilih dan diangkat oleh Presiden. 

Guyana memiliki sistem pemerintahan parlementer, dan presiden berfungsi sebagai Kepala Negara. Parlemen terdiri dari presiden dan parlemen, yang beranggotakan 65 orang yang dipilih melalui pemilu. Sistem parlemen di Guyana adalah satu kamar (unicameral). Berdasarkan konstitusi Guyana, tersedia kursi bagi 10 utusan/perwakilan dari 10 daerah tingkat I (region). Perdana Menteri adalah pembantu utama presiden, dan juga sebagai pimpinan fraksi pemerintah di parlemen. Apabila presiden berhalangan, Perdana Menteri akan memimpin kabinet. 

Pemilihan presiden, anggota parlemen, serta anggota utusan daerah diselenggarakan minimal sekali dalam 5 tahun. Partai dan kelompok politik di Guyana adalah: People Progresissive Partai-Civic/PPPC (Bharrat Jagdeo); People National Congress-Reform / PNCR (Robert Herman Orlando Corbin); Alliance for Change / AFC (Raphael Trotman dan Khemraj Ramjattan); Guyana Action Party / GAP (Paul Hardy); Justice for All Party / JAP (C.N. Sharma); Rise, Organize, and Rebuild / ROAR (Ravi Dev); The United Force / TUF (Manzoor Nadir); The Unity Party (Joey Jagan); Vision Guyana (Peter Ramsaroop); Working People's Alliance /  WPA (Rupert Roopnaraine).

Di bawah konstitusi 1980, negara menjamin adanya hak milik pribadi, warisan, hak memperoleh pekerjaan dengan upah setara antara pekerja laki-laki dan perempuan, perawatan kesehatan gratis, bebas biaya pendidikan, dan tunjangan sosial bagi manula serta penyandang cacat. Konstitusi tersebut juga menempatkan adanya 5 (lima) lembaga tinggi dalam sistem pemerintahan Guyana, yaitu: Parlemen / DPR (National Assembly), DPRD (National Congress of Local Democratic Organ), Utusan Daerah (Supreme Congress of People), Presiden, dan Kabinet.

Parlemen: Presiden dan parlemen satu kamar (Uni-cameral National Assembly) beranggotakan 65 orang, dengan rincian 53 orang dipilih melalui pemilu dengan sistem proporsional, 10 orang dipilih dari 10 DPRD propinsi, dan 2 orang dipilih dari Utusan Daerah. Parlemen bertugas mengesahkan RUU yang akan diajukan kepada presiden untuk memperoleh persetujuan. Parlemen juga dapat mengesahkan amandemen konstitusi.

DPRD:  Guyana terbagi dalam 10 daerah administrasi (propinsi), dan setiap daerah diperintah oleh Regional Democratic Council (RDC) yang dipilih untuk jangka waktu 5 tahun, dan dapat dicabut oleh presiden sebelummasa jabatannya habis. Para anggotanya memilih wakil untuk DPRD dari kalangan mereka sendiri.

Utusan Daerah: Utusan Daerah dan parlemen bersama-sama membentuk Utusan Daerah sebagai lembaga dewan pertimbangan yang dapat dipanggil, dibubarkan atau didukung oleh presiden. Lembaga ini memberikan pertimbangan yang diminta presiden dan secara otomatis bubar bersamaan dengan parlemen.

Presiden: Merupakan otoritas pelaksana pemerintahan tertinggi, kepala negara, dan Panglima Angkatan Bersenjata (Pangab) yang dipilih secara langsung oleh rakyat dengan masa jabatan 5 tahun dan tanpa pembatasan dapat dipilih kembali. Kandidat presiden harus dicalonkan oleh parpol dan memperoleh suara terbanyak dalam pemilu. Presiden menunjuk PM yang harus mendapatkan persetujuan parlemen dan kabinet menteri, yang dapat berasal dari anggota yang tidak terpilih dalam pemilu serta bersama-sama bertanggung jawab kepada Badan Legislatif. Presiden juga menunjuk Minority Leader, yang merupakan anggota terpilih dari parlemen dan dipercaya untuk mendapatkan dukungan dari oposisi.

Kabinet: Terdiri dari presiden, PM dan sejumlah menteri lainnya yang dibentuk oleh presiden. Presiden menugaskan semua menteri, namun tidak semua menteri merupakan anggota kabinet.

 
2.

Pemerintah Daerah

  Guyana terbagi atas 10 Pemeritahan Daerah (Region) :
  1. Barima-Waini
  2. Pomeroon-Supenaam
  3. Essequibo Is-West Demerara
  4. Demerara-Mahaica
  5. Mahaica-Berbice
  6. East Berbice-Corentyne
  7. Cuyuni-Mazaruni
  8. Potaro-Siparuni
  9. Upper Takutu-Upper Essequibo
  10. Upper Demerara-Upper Berbice

Setiap daerah diperintah oleh Regional Democratic Council (RDC), yang anggotanya dipilih dan berjumlah 12 sampai 36 orang. RDC akan melaksanakan kebijakan pemerintah pusat dan mewakili warga di wilayah masing-masing.

   
3. Pemilihan Umum (Pemilu)
 

Sistem pemerintahan unicameral (satu kamar), dengan jumlah anggota parlemen (national assembly) sebanyak  65 orang yang dipilih dalam pemilu, ditambah 3 anggota yang ditunjuk (non-elected), namun tidak memiliki hak suara dalam voting parlemen (non-voting member), dan bertugas selama 5 tahun.

Pemilu tanggal 28 Agustus 2006 dimenangkan parpol pemerintah PPP/People Progressive Party-Civic (Indi-Guyana) yang diketuai Bharrat Jagdeo (Presiden Guyana), dengan memperolehan suara 54.6%, parpol oposisi terbesar PNCR/People National Congress-Reform (Afro-Guyana) memperoleh 34%, parpol lainnya AFC/Allliance For Change (campuran) memperoleh 8,1%, dan sisanya sebanyak 3,3% dibagi oleh sejumlah parpol yang tidak memperoleh kursi di parlemen. 

Dengan perolehan tersebut maka komposisi parlemen adalah sebagai berikut:

·         PPP/C     : 36 kursi

·         PNCR      : 22 kursi

·         AFC         : 5   kursi

·        2 anggota ditunjuk oleh presiden namun tidak mempunyai hak pilih dalam voting di parlemen (non voting member).

Parpol peserta pemilu tahun 2006 tersebut a.l. PNCR/1G (People’s National Congress/One Guyana), PPP/C (the People’s Progressive Party/Civic), AFC (Alliance For Change), GAP-ROAR (the Guyana Action party-Rise Organise and Rebuild), GNC (the Guyana national Congress), JFAP (the Justice For All Party), LDP (the Liberal Democrats Party), NDF (the National Democratic Front), PRP (People’s Republic Party), dan TUF (the United For Peace). Pemilu berikutnya bulan Agustus 2011.

Pemilu Guyana sangat penting untuk CARICOM (Caribbean Community and Common Market) dan OAS (Organization of American States). Menurut Ketua OAS, Albert Ramdin, pemilu di Guyana telah menunjukkan bahwa mereka mampu menyelenggarakannya dengan jujur dan transparan, karena pemilu sebelumnya kerap ditandai dengan kekerasan, baik sebelum maupun sesudah pemungutan suara.

Dengan kemenangan PPP/C, maka Presiden Bharrat Jagdeo terpilih untuk ke dua kalinya dan dalam pelantikannya telah menjanjikan untuk meneruskan modernisasi Guyana, menciptakan lapangan kerja untuk semua rakyatnya tanpa pandang bulu dengan semboyannya I am and shall continue to be the President for all of Guyana.

   
B. Politik Luar Negeri
1. Prinsip - Prinsip Politik Luar Negeri
  Dalam hubungan luar negeri, Guyana di bawah Presiden Bharrat Jagdeo bersikap aktif, menjadi pemrakarsa CARICOM, melobi negara donor untuk kepentingan penghapusan hutang warisan pemerintahan sebelumnya, mengupayakan penyelesaian perbatasan secara damai dengan Suriname (di sebelah timur) dan Venezuela (sebelah barat). Dalam hubungan dengan negara-negara sekawasan, pemerintah Guyana berupaya mengintegrasikan kawasan Karibia dan Amerika Selatan.  Guyana juga menekankan kerjasama yang lebih erat dengan beberapa negara di kawasan Amerika Selatan dan Karibia (Brasil, Venezuela, Suriname, dan Guiana Perancis), bekas penjajahnya Inggris, AS, Rusia, India, dan Cina. Di fora multilateral dan internasional, serta berupaya meningkatkan kerjasama dengan PBB beserta badan-badan khususnya, GNB dan G-77.
   
2. Kebijakan luar negeri
 
  • Politik luar negeri Guyana diabdikan untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat dan negara.
 
  • Setelah merdeka tahun 1966, berupaya untuk berperan di dunia internasional, khususnya antar negara-negara Dunia Ketiga dan GNB. Pernah dua kali duduk di DK-PBB (1975-1976 dan 1982-1983). Wapres, Wakil PM, dan Jaksa Agung Mohamed Shahabuddeen pernah bertugas di International Court of Juctice selama 9 tahun (1987-1996).
 
  • Menganut prinsip tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain, saling menghormati atas dasar solidaritas internasional dan koeksistensi damai seperti apa yang tercantum dalam piagam PBB, prinsip-prinsip GNB dan lain-lain.
 
  • Berupaya mengintegrasikan dirinya dalam kawasan Karibia dan Amerika Selatan, melalui partisipasi lebih aktif dalam CARICOM, Association of Caribian States, Amazone Pact, melihat kemungkinan ikut serta dalam Mercosur, NAFTA dan proses-proses terkait dengan KTT negara-negara Amerika. Tahun 1993, Guyana meratifikasi Vienna Convention on Illicit Traffic in Narcotic Drugs 1988.
 
  • Peningkatan hubungan bilateral dengan negara-negara lain, khususnya negara-negara donor dari Eropa dan AS, Kanada, India, dan Cina bagi pembangunan ekonomi nasional.
 
  • Menekankan kerjasama lebih erat dengan negara-negara sekawasan seperti Brazil, Venezuela, Suriname, dan Guiana Perancis atas dasar prinsip “Good Neighborhood Policy“.
 
  • Meningkatkan/mendiversifikasi hubungan bilateral dan internasional dengan negara-negara kawasan Asia.
 
  • Berpartisipasi aktif dalam organisasi-organisasi Internasional dan regional seperti PBB, OAS, CARICOM, Kelompok-77, GNB, OKI dan lain-lain.
3. Keanggotaan Guyana dalam Organisasi Internasional
 
  • PBB dan badan-badan khususnya, WHO, ILO, FAO, UNDP, WWF,  IMO, WTO, UNESCO,UNCTAD, World Bank, ECOSOC, UNIDO, CEDAW, ICAO, WSSD, WFP, WWF, IBRD, IMF, IFAD, ITU Interpol.
 
  • Organisasi Negara-negara Amerika (OAS).
 
  • Gerakan Non Blok (NAM).
 
  • Negara-negara Group of African, Caribbean and Pacific (ACP).
 
  • Perhimpunan Masyarakat Karibia (CARICOM)/CSME).
 
  • Komisi Ekonomi untuk Amerika Latin.
 
  • Asosiasi Bauksit Internasional (IBA).
 
  • Asosiasi Kerjasama Masyarakat Eropa (LOME).
 
  • Inter-American Development Bank (IDB).
 
  • International Finance Cooperation (IFC).
 
  • International Telecommunication Union (ITU).
 
  • South American Community of Nations / Rio Group.
 
  • Treaty of Amazonian Cooperation (TAC).
 
  • Kelompok – 77 (G-77).
 
  • International Centre for the Settlement of Investment Dispute (ICSID).
 
  • World Intellectual Property Organization (WIPO).
 
  • Pan America Health Organization (PAHO).
V. EKONOMI
1. Umum
 

Karakteristik utama dari ekonomi Guyana adalah ekonomi skala kecil yang bergantung bantuan luar negeri. Perekonomian Guyana  didominasi oleh sumber daya alamnya, khususnya bauksit, serta gula. Biro Statistik Guyana mencatat inflasi kuartal pertama tahun 2006 adalah 6,5%. Pendapatan pemerintah Guyana sebagian besar ditopang sektor pertambangan bauksit, emas, intan, dam minyak bumi. Sementara dari sektor pertanian, hasil laut dan kehutanan belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

Dengan pendapatan per kapita (GDP) hanya US$ 974 (2006), Guyana termasuk salah satu negara termiskin di belahan wilayah barat. Kemajuan ekonomi mulai terasa setelah Presiden Hoyte menerapkan kebijakan Economic Recovery Program (ERP) pada tahun 1989. Sehingga GDP Guyana meningkat 6% tahun 1991 setelah selama 15 tahun mengalami kemerosotan.

Industri terbesar milik negara, pabrik gula Guysuco dan pertambangan bauksit, dikelola oleh perusahaan asing, sebuah perusahaan AS mengelola bauksit dan dua perusahaan Kanada mengelola emas. Pemerintah Guyana membenahi berbagai peraturan yang berkaitan dengan eksplorasi tambang dan minyak, termasuk kebijakan investasi asing. Selain itu diperbaiki pula berbagai peraturan pajak ekspor agar dapat meningkatkan produk ekspor hasil pertanian. Gula, bauksit, beras, kayu, hasil-hasil laut, dan emas merupakan penyumbang 70%-75% ekspor tahun 2006.

      Guyana masuk dalam kelompok heavily indebted poor country (HIPC), dan upaya pengurangan hutang merupakan salah satu prioritas utamanya. Dalam tahun 2006, Guyana terus mengupayakan the external debt stock and debt service to a sustainable level. Akhir tahun 2006, the external debt stock dan debt service berada pada posisi masing-masing US$ 920 juta dan US$ 22,6 juta. Pada bulan Maret 2007, Inter-American Development Bank (IADB) memberikan 100% pengampunan hutang (debt relief) kepada Guyana untuk outstanding loan balance and interest sejak 31 Desember 2004, sebesar US$ 467 juta. Menindaklanjuti penghapusan hutang oleh IADB tersebut, IMF dan Bank Dunia juga melakukan hal serupa sebesar US$ 237 juta, sehingga total seluruhnya US$ 704 juta.

Juga dalam tahun 2006, melalui Paris Club, Guyana membuat perjanjian dengan Jepang dengan hasil pembebasan 100% bunga pokok sebesar US$ 591,33. Karena beban hutang Guyana yang demikian besar, cadangan devisa menjadi terbatas dan mengurangi kemampuan untuk mengimpor bahan-bahan mentah, suku cadang, dan berbagai peralatan yang diperlukan, sehingga produksinya pun menurun. Naiknya minyak dunia juga menyebabkan produksi merosot, defisit perdagangan meningkat, dan pengangguran bertambah (sekitar 30%).

Pemerintah Guyana saat ini memerlukan investasi asing untuk membuka lapangan kerja, mengembangkan kemampuan teknis, dan menggiatkan produksi barang ekspor. Selama 5 (lima) tahun terakhir ini, Guyana telah menarik investasi untuk sektor-sektor pertambangan, kehutanan, pertanian, teknologi informasi dan komunikasi, pariwisata dan pelayanan. Perjanjian investasi bilateral telah dibuat dengan negara-negara China, Kuba, Jerman, dan Inggris. Sedangkan double taxation treaties dilakukan dengan Kanada, negara-negara CARICOM, dan Inggris. Beberapa perusahaan milik negara asing, antara lain dari AS, Rusia, Kanada, Malaysia, Perancis, Israel, China, Brazil, Afrika Selatan, Belanda, Jamaika, dan Trinidad-Tobago .

 
 2. Sektor-sektor Ekonomi
 

a. Pertanian

Ekspor beras naik 20% dari US$ 46,2 juta tahun 2005 menjadi US$ 54,6 juta tahun 2006. Demikian pula gula, naik dari US$ 118 juta tahun 2005 menjadi US$ 145 juta tahun 2006. Namun di masa mendatang untuk industri gula sedikit suram, karena peraturan baru EU (European Union) yang ditandatangani tahun 2007 ini secara bertahap mengatur secara khusus ekspor gula Guyana. Akibatnya akan mengurangi pendapatan Guyana dari komoditi ini sebesar 30% di tahun-tahun mendatang.

       

b. Perikanan

Ikan dan udang merupakan penghasil devisa. Belum ada budidaya sektor perikanan dan tidak memiliki cukup banyak ahli dan pengetahuan sektor perikanan untuk mengeksploitasi sumber-sumber daya perikanannya. Dalam dua tahun ini, perikanan (dan kehutanan) telah meningkatkan kontribusi nilai ekspor 15%-20%.

c. Kehutanan

Guyana memiliki hutan hujan tropis yang belum dijamah seluas 65% dari wilayahnya. Hutan Guyana menghasilkan sejumlah kayu berkualitas, seperti halnya hutan di Suriname. Sejumlah perusahaan asing telah masuk untuk mengeksploitasi hutan, antara lain Barama (Malaysia-Korea), dan UNAMCO, yang banyak merekrut tenaga kerja dari Indonesia. Dalam dua tahun ini, sektor kehutanan (dan perikanan) tercatat telah meningkatkan kontribusi nilai ekspor 15%-20%. Kehutanan sudah menjadi perhatian khusus pemerintah, terutama yang berkaitan dengan pengelolaan kontrak konsesi hutan. Selain itu, pemerintah sedang mempertimbangkan untuk melarang ekspor jenis tertentu kayu mentah glondongan, karena jenis kayu ini dapat memberikan nilai tambah untuk pendapatan negara.

d. Pertambangan

Guyana produsen bauksit ke-10 terbesar dunia. Bauksit diproses menghasilkan alumina, bahan baku aluminium. Saat ini investor Rusia (RUSAL) telah masuk di sektor aluminium Guyana. Selain bauksit, Guyana juga menghasilkan emas dan intan. Ekspor sektor pertambangan sedikit meningkat dalam tahun 2006. Bauksit naik USD$ 67 juta, sedikit naik dibandingkan tahun 2005. Emas naik menjadi US$ 114,4 juta dibandingkan tahun 2005 US$ 111 juta. Mengenai minyak, pada tanggal 29 Januari 2002 telah ditandatangani kerjasama eksplorasi minyak lepas pantai antara Guyana (Brarrat Jagdeo) dan Suriname (Ronald Venetiaan).

 
VI. SOSIAL BUDAYA DAN PENERANGAN
 

Perubahan nama Republik Kooperatif Guyana (the Cooperative Republic of Guyana) menjadi Republik Guyana pada tanggal 23 Februari 2002. Guyana adalah negara yang masyarakatnya merupakan komposisi multi etnis, terdiri dari suku Hindustan (India), Kreol dan Bushnegro (Afrika),  Amerindian, Eropa, Portugis, Cina dan Campuran.  Kemajemukan  latar belakang budaya dan peradaban nenek moyang masyarakat Guyana, khususnya Afro dan India, sampai saat ini masih relatif kurang terakomodasi, sehingga dikhawatirkan bisa menjadi pemicu instabilitas. Guyana lebih seperti negara di karibia daripada di Amerika Latin.

Guyana memiliki sebuah kota besar (Georgetown), dan 6 (enam) kota kecil komersial dan administratif penting lainnya, dikenal sebagai kotamadya yang memiliki DPRD sendiri :

  • Georgetown, didirikan lebih dari 200 tahun lalu, terletak di muara dan tepi sebelah timur sungai Demerara. Georgetown merupakan ibukota negara, pusat pemerintahan, pusat perniagaan, serta  pelabuhan laut utama.  Luasnya 38 km2 dengan populasi  (termasuk daerah sekitar) sekitar 170.000 jiwa.

  • New Amsterdam, terletak di muara dan tepi sebelah timur sungai Berbice, sebagai ibukota wilayah timur Berbice-Corentyne. Luasnya 27,8 km2 dengan populasi sekitar 20.000 jiwa lebih, dan sebagai kota pelabuhan untuk ekspor bauksit.

  • Linden, di tepian sungai Demara yang berjarak sekitar 107 km dari Georgetown. Dibangun tahun 1970 dengan menggabungkan kota tambang Mackenzie dan dua dusun wilayah (Wismar dan Christianburg). Luasnya mencakup 142 km2 dengan perkiraan populasi 29.500 jiwa.

  • Corriverton, terletak di muara tepi barat sungai Corentyne, yang secara resmi merupakan penggabungan tiga dusun wilayah. Kota ini dibangun tahun 1970 dan mempunyai luas 126 km2 dengan populasi sekitar 17.500 jiwa. Di kota ini terdapat pelabuhan kecil.

  • Rose Hall, bekas dusun wilayah yang terletak di sepanjang jalan raya Corentyne, sekitar 29 km dari kota New Amsterdam. Berdiri tahun 1970 dengan luas wilayah 13 km2 dan populasi sekitar 8.500 jiwa.

  • Anna Regina, berjarak 19 km dari pantai Essequibo, didirikan tahun 1970 dan sebagai pusat administrasi daerah Pomeroon-Supernaam.

  • Bertica, terletak pada pertemuan tiga sungai (Essequibo, Mazaruni, Cuyuni), sebagai kota pertambangan intan dan emas.

Bahasa Inggris merupakan bahasa resmi di Guyana, dan juga sebagai bahasa pengantar pada pendidikan, pemerintahan, dan perekonomian. Sedangkan umat hindu dan muslim dalam menjalankan ibadahnya menggunakan bahasa Hindi, Urdu dan Arab. Mayoritas etnis/suku Amerindian di daerah dataran tinggi menggunakan satu atau lebih dari 9 (sembilan) dialek suku yang dikenal, disebut Akawaio, Arawak, Arecuma, Carib, Macusi, Patamona, Wai Wai, Warau dan Wapishana. Bahasa Kreol cukup banyak digunakan dan dipahami, yang berasal dari campuran bahasa Inggris dengan bahasa Belanda, India, Afrika, dan Amerindian.

Terdapat beberapa media massa (pers, radio, TV) yang cukup berpengaruh. Surat-surat kabar yang diterbitkan pemerintah, partai politik (parpol), dan swasta, antara lain:

 
  • Harian
: Guyana Chronicle, Stabroek News
 
  • Mingguan
:

Catholic Standard, Kaieteur News, Flame, Pulse, Torchlight, New Nation

 
 
  • Dua Mingguan
: Mirror
 
  • Bulanan
: Guyana Review
 

Radio Guyana (The Guyana Broadcasting Corporation) yang mengudara adalah Voice of Guyana dan Radio Roraima. Sedangkan TV ada sekitar 16 saluran TV perkotaan dan 2 saluran TV pedesaan.

Pada umumnya kantor-kantor di Guyana memiliki 5 (lima) hari kerja dalam seminggu. Terdapat beberapa bank dan Bank of Guyana merupakan bank sentral. Mata uang resmi berupa Dollar Guyana, yang terdiri dari pecahan uang kertas dengan nilai nominal G$20, G$100, G$500, G$1000, dan uang logam G$1, G$5, G$10.

 
VII. ANALISA SINGKAT: POLITIK, EKONOMI, SOSIAL BUDAYA, PENERANGAN, HANKAM, DAN PERAN SURINAME DI KAWASAN REGIONAL / INTERNASIONAL
1.

Analisa Politik

 

Di bidang politik, tampak adanya perkembangan positif upaya pemerintah untuk menciptakan stabilitas politik dan jaminan keamanan bagi warga Guyana. Hal tersebut terlihat dengan menurunnya tingkat pertentangan etnis antara kelompok penguasa (keturunan Hindustan) dengan kelompok oposisi yang mayoritas pendukungnya berasal dari etnis keturunan negro dari Afrika. Upaya tersebut merupakan upaya keras Presiden Bharrat Jagdeo dalam merangkul kelompok-kelompok multi-etnis dan agama, khususnya kelompok-kelompok oposisi dan masyarakat muslim. Namun demikian belum adanya penyelesaian beberapa isu politik yang terus memicu pertentangan antara pemerintah dan oposisi, dan  melebar menjadi pertentangan antar etnis (khususnya keturunan Hindustan versus keturunan Afrika), merupakan penghalang utama bagi upaya pemerintah untuk menciptakan stabilitas politik. Pemerintah maupun kelompok oposisi masih saling menuduh tentang penyebabnya dan siapa yang harus bertanggung jawab.

Disamping itu, pemerintah Bharrat Jagdeo juga berupaya untuk menunjukkan keseriusannya dalam memberantas korupsi, trafik narkotika melalui Guyana ke negara-negara Eropa dan Amerika, para pelaku tindak kriminal internasional dan terorisme melalui kerjasama dengan AS.

Pemerintahan Bharrat Jagdeo pernah dikecam pihak oposisi PNCR / People National Congress-Reform (Afro-Guyana)mengenai pembentukan Komisi Penyidik secara sepihak untuk menyelidiki kasus pembunuhan lawan-lawan politik pemerintah Death Squad oleh kelompok elit militer Guyana dan khususnya keterlibatan Mendagri Ronald Gajraj (2004). Kelambanan dan kurangnya transparansi pihak pemerintah dalam   pengungkapan otak pelaku Death Squad telah pula mengundang kritik keras pemerintah AS, negara-negara Eropa dan Komisi HAM Internasional. Hal tersebut seakan-akan telah menghapus semua upaya positif Presiden Bharrat Jagdeo dalam menegakkan demokratisasi, penghormatan terhadap HAM, hak anak, perlindungan terhadap kaum perempuan dan perlindungan semua rakyat dari tindakan kekerasan serta pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok etnis negro pendukung utama oposisi. Keberhasilan pemerintah dalam memelihara kerukunan antar umat multi agama dan berbagai upaya untuk mengatasi masalah rasial pun, nampaknya kurang mendapat perhatian para pengkritik.

Sebaliknya dalam masalah konflik perbatasan di Corentijn River dengan negara tetangga, Suriname, pihak oposisi menunjukkan dukungannya terhadap upaya dan kebijakan pemerintah untuk mencari penyelesaian damai dan pemanfaatannya bagi peningkatan kehidupan ekonomi rakyat, terutama di wilayah yang dipersengketakan.

 
2. Analisa Ekonomi
 

Di bidang ekonomi, seperti halnya Suriname, potensi dan  keanekaragaman kekayaan alam Guyana yang cukup besar dan belum maksimal dieksploitasi, merupakan modal bagi pengembangan hubungan bilateral, terutama di bidang ekonomi perdagangan. Sektor produksi yang masih belum berjalan sehat, menyebabkan Guyana sangat tergantung pada impor barang-barang, terutama untuk memenuhi konsumsi dalam negerinya. Situasi tersebut merupakan potensi bagi hubungan perdagangan antara Indonesia dengan Guyana, yang saat ini volumenya    relatif masih kecil.

Georgetown, Ibukota Guyana yang saat ini menjadi Sekretariat CARICOM (Caribbean Community and Common Market), dapat dimanfaatkan untuk pengembangan pasar komoditas Indonesia ke kawasan Amerika Selatan dan Karibia.

 
3. Analisa Sosial Budaya
 

Seperti halnya Suriname, Guyana juga merupakan salah satu negara yang dikategorikan sebagai underdeveloped. Masalah buruknya kondisi sosial-ekonomi merupakan tantangan yang berat bagi pemerintah Guyana, sehingga IADB (Inter American Development Bank) menganjurkan agar upaya-upaya pemerintah dititikberatkan pada program-program sosial untuk menangani masalah kemiskinan. Di samping itu, diperlukan pula reformasi sektor pemerintah, terutama menyangkut masalah-masalah pemerintahan, keamanan dan keadilan.

Hambatan dan tantangan yang masih dihadapi Guyana untuk menciptakan stabilitas politik, tidak mengurangi semangat dan tekad Presiden Bharrat Jagdeo untuk mengupayakan peningkatan kondisi di bidang sosial budaya, pendidikan, kesehatan, dan penerangan, antara lain :

 
  • Pemanfaatan semua potensi nasional dan bantuan negara-negara sahabat, termasuk Kuba dan Brasil, untuk mengatasi buruknya kondisi   sosial sebagian besar rakyat Guyana. keaktifan Guyana memanfaatkan  beasiswa asing, khususnya dari Kuba (bidang kedokteran), adalah   sebagai alternatif untuk memenuhi besarnya tuntutan kebutuhan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dan keterbatasan kemampuan  pemerintah untuk membiayai berbagai program pendidikan nasional.
  • Perbaikan kondisi kesehatan masyarakat dengan menyediakan obat-obatan yang terjangkau bagi warga tidak mampu, pemberantasan penyakit malaria dan virus HIV/AIDS, serta kondisi sosial berupa   pemberantasan kemiskinan, peningkatan daya beli masyarakat, peningkatan sarana dan prasarana, perbaikan pelayanan transportasi, serta komunikasi dan perluasan lapangan kerja.
  • Peningkatan kegiatan kepemudaan dan prestasi nasional di bidang olah raga, bagi pembinaan sportivitas dan mental serta melindungi  generasi muda dari perbuatan tercela, khususnya dari bahaya narkotika  dan alcohol. Penyelenggaraan kompetisi internasional olah raga cricket di Guyana setiap bulan maret, dijadikan sebagai salah satu upaya pendekatan dan peningkatan kerjasama antar sesama negara anggota persemakmuran (commonwealth countries), serta pemanfaatan potensinya sebagai salah satu daya tarik peningkatan arus wisatawan dari mancanegara ke Guyana.
  • Tekad pemerintah untuk menggalakkan pengembangan seni-budaya yang berakar dari kawasan dan integritas budaya multietnis adalah  sebagai upaya untuk menjadikan potensi seni budaya sebagai salah satu daya tarik wisatawan mancanegara, khususnya dari Eropa dan Amerika. Untuk mempertahankan identitas budaya multietnis dan identitas sebagai  bagian dari kawasan Karibia, Guyana aktif menyelenggarakan festival-festival promosi seni budaya kawasan setiap bulan Februari.
 

Di bidang budaya, Guyana aktif mengirimkan wakilnya untuk mengikuti pemilihan Miss Universe. Sedangkan di bidang lingkungan hidup, khususnya dalam konservasi hutan, Guyana pada tahun 2003 mendapat penghargaan dari World Wildlife Fund (WWF) atas prestasinya dalam memelihara keseimbangan antara keuntungan dari pemanfaatan hutan untuk peningkatan ekonomi dan kewajiban memelihara lingkungan hidup. Di bidang pendidikan, Guyana banyak dan sangat aktif memanfaatkan tawaran beasiswa dari negara-negara, khususnya Kuba di bidang kedokteran. Mulai tahun ajaran 2004, Guyana juga mulai memanfaatkan beasiswa yang ditawarkan oleh Indonesia dalam rangka program kerjasama antar negara Selatan-Selatan.

 
4. Analisa Penerangan
  Di bidang penerangan, pemerintahan Presiden Bharrat Jagdeo nampaknya masih belum berhasil menciptakan titik temu dengan kalangan pers dan media dari kelompok oposisi terkait dengan persepsi kebebasan pers yang bertanggung jawab. Masalah ini juga menarik perhatian pers dari organisasi Persatuan Wartawan Karibia.
 
5. Analisa Pertahanan dan Keamanan
 

Sebagai salah satu pemrakarsa pembentukan CARICOM, Guyana rela mengorbankan komitmen dan solidaritas masyarakat Karibia dengan menerapkan politik ganda yang berseberangan dengan mayoritas negara anggota Karibia lainnya, termasuk dengan Suriname. Hal tersebut dilakukan dalam rangka memelihara solidaritas dan dukungan negara-negara Persemakmuran kepada Guyana, khususnya di bidang pertahanan dan keamanan serta untuk mendapatkan bantuan kerjasama militer dari AS sebagai mitra yang paling berperan. Hal ini terbukti dari sikap Guyana yang menyimpang dari kesepakatan KTT CARICOM tahun 2004 menyangkut komitmen posisi negara-negara Karibia untuk mendukung Rome Statute tentang pembentukan ICC (International Criminal Court). Dalam hal ini, Guyana tidak meratifikasi Rome Statute ICC dan bahkan sebaliknya menandatangani kesepakatan dengan AS, yaitu untuk menjamin kekebalan para penjahat perang AS dari jeratan hukum ICC.

Sikap Guyana tersebut nampaknya didesak oleh kepentingan nasionalnya dalam menghadapi persengketaan perbatasannya dengan Suriname, yang sejak bulan Februari 2004 terlihat semakin memanas. Upaya ini juga dimaksudkan untuk menjamin berlanjutnya bantuan kerjasama militer AS (yang belum diperoleh Suriname hingga saat ini), khususnya untuk menjaga wilayah territorial Guyana, termasuk 2 (dua) wilayah di perbatasannya dengan Suriname (Tigri dan Corentijn River) yang dikleim Guyana dan Suriname sebagai miliknya. Keyakinan Guyana untuk mendapatkan dukungan negara-negara anggota Persemakmuran dan AS tersebut sepertinya telah memicu arogansi pemerintah Guyana, yang menurut Suriname dinilai agresif melakukan pelanggaran terhadap wilayah kedaulatan Suriname. Sikap serupa juga ditunjukkan Guyana dengan memutuskan secara sepihak tanpa persetujuan Suriname, mengadukan masalah perbatasan ke dua negara kepada Mahkamah Internasional Hukum Laut (ITLOS/International Tribunal on the Law of the Sea ) PBB di Hamburg, Jerman. Pihak ITLOS direncanakan mengumumkan putusannya sebelum Agustus 2007.

Selain itu, urgensi peningkatan kemampuan pertahanan dan keamanan nasional Guyana juga dalam upaya selain untuk melindungi wilayah perbatasan darat, laut, dan udaranya dengan negara tetangga, khususnya yang bersengketa dengan Guyana (Venezuela dan Suriname), juga untuk  mencegah dijadikannya Guyana sebagai sasaran atau pusat gerakan terorisme internasional, dan/atau jaringan perdagangan narkoba internasional.

Dengan meningkatkan kondisi pertahanan dan keamanan yang lebih baik, diharapkan Guyana mampu mengakhiri konflik etnis dan menciptakan keamanan umum bagi masyarakatnya, yang masih dihantui tindakan pembunuhan dan aksi kriminalitas dengan kekerasan, serta sekaligus upaya Guyana menciptakan stabilitas nasional di bidang politik dan keamanan dalam rangka menunjang pembangunan di segala bidang.

 
6. Analisa Peran Guyana di Kawasan Regional / Internasional
 

Sebagai negara yang tergolong small countries dan negara berkembang, Guyana menyadari pentingnya untuk terlibat dalam proses regionalisme maupun globalisme ekonomi-perdagangan. Untuk itu, Guyana aktif  meningkatkan hubungan bilateralnya dengan negara-negara tetangga dan sekawasan, selain untuk kepentingan pembangunan nasional di segala bidang, juga dalam upaya mendapatkan simpati dan dukungan bagi posisi Guyana dalam menghadapi konflik perbatasannya dengan Venezuela dan Suriname. Guyana juga terus membina hubungan baik dengan negara-negara anggota Persemakmuran, terutama dengan Inggris dan Australia, serta AS. Guyana juga tidak ketinggalan dari Suriname dalam pengembangan hubungan kerjasama bilateralnya di berbagai bidang dengan negara-negara di Eropa, China, India, Jepang, serta negara-negara di kawasan Asia-Afrika. Dengan Indonesia, Guyana telah meminta agar tidak dianaktirikan, mengingat Guyana dirangkap dari KBRI Paramaribo, Suriname.

Guyana adalah negara anggota aktif di PBB, GNB, dan G-77, serta mempunyai komitmen yang cukup besar dalam memelihara solidaritas dan mempererat hubungan kerjasama antar sesama negara anggota PBB dan G-77, termasuk dengan Indonesia. Sebagai negara di kawasan Karibia, Guyana juga aktif dalam mendukung posisi Indonesia di berbagai fora multilateral dan internasional.

Selama 6 (enam) bulan sejak tanggal 1 Juni s/d 31 Desember 2002, Guyana pernah memegang mandat pimpinan CARICOM berotasi, yang didirikan atas prakarsa Guyana melalui Treaty of Caguaramas (4 Juli 1973), dan sekaligus menjadikan ibukota Guyana, Georgetown, sebagai kantor pusat/sekretariat CARICOM. Sekretariat CARICOM merupakan badan administrasi utama, yang dipimpin oleh seorang Sekjen sekaligus Ketua CARICOM, dan mengemban misi untuk menciptakan kepemimpinan dan pelayanan yang dinamis kepada lembaga-lembaga yang ada di Karibia demi peningkatan kualitas hidup bagi seluruh masyarakatnya. Sejak tahun 1992 hingga saat ini, Sekjen CARICOM adalah Edwin W. Carrington dari Trinidad dan Tobago.

Selain aktif sebagai anggota negara-negara Persemakmuran, Guyana juga aktif mewujudkan CARIFTA (Caribbean Free Trade Association) cikal bakal terbentuknya CARICOM (saat tahun 1972, the 7th Head of Government Conference para pemimpin Commonwealth Caribbean mencetuskan gagasan mengubah CARIFTA menjadi Common Market serta membentuk Caribbean Community dengan Common Market terintegrasi di dalamnya); aktif sebagai anggota ACS (Association of Caribbean States) yang dibentuk tanggal 24 Juli 1994 di Cartagena de Indias (Kolombia); dan sebagai anggota ACP (African-Caribbean-Pacific States) yang mempunyai hubungan luas dengan EU (European Union) melalui Lome Convention (suatu perjanjian perdagangan dan pemberian bantuan antara EU dan 71 negara-negara ACP yang pertama kali ditandatangani bulan Februari 1975 di Lome, Togo). Di wilayah Amerika, Guyana aktif sebagai anggota OAS (Organization of American States) yang dibentuk pada bulan Desember 1994 pada saat KTT ke-1 negara-negara Amerika di Miami dan SELA (Latin American Economic System) yang dibentuk tanggal 17 Oktober 1975 melalui Persetujuan Panama.

Dalam masalah konflik Irak, Guyana menilai bahwa masalah Irak harus diselesaikan melalui keputusan PBB dengan penyelesaian damai melalui jalur diplomatik, serta berpegang pada prinsip penyelesaian melalui tradisi multilateral, penghormatan terhadap kedaulatan suatu negara merdeka dan melindungi keselamatan umat manusia.

 
Google
INDONESIA - THE ULTIMATE IN DIVERSITYY
PENGUMUMAN
SIARAN KBRI

 
JAM KERJA

Senin - Jum'at

08.00 - 16.00

Istirahat 12.00 - 12.30

PENGUNJUNG

Online 

free counters

Kedutaan Besar Republik Indonesia Paramaribo - Suriname
Van Brussellaan #3, Uitvlugt, Paramaribo
Tel : (597) - 431230, 431171, 439577 Fax : (+597) - 498234
Email : indonemb@sr.net


© 2009 by adk