|
|
|
INFORMASI
REPUBLIK SURINAME |
|

|
|
I. Umum |
| |
|
|
|
|
1. |
Nama Negara |
: |
Republik Suriname |
|
2. |
Ibukota |
: |
Paramaribo |
|
3. |
Hari
Nasional/Merdeka |
: |
25 November 1975 |
|
4. |
Kepala Negara |
: |
Runaldo Ronald
Venetiaan |
|
5. |
Kepala Pemerintahan |
: |
Runaldo Ronald
Venetiaan |
|
6. |
Ketua Parlemen |
: |
Paul Salam
Somohardjo |
|
7. |
Menteri Luar Negeri |
: |
Lygya Kraag-Keteldijk (Ms.) |
|
8. |
Bahasa Nasional |
: |
Belanda |
|
9. |
Agama |
: |
Katholik & Protestan (40,73%),
Hindu (19,94%), Islam (13,46%), Lain-lain
termasuk Javanisme dan Animisme yang diakui
pemerintah (15,87%) |
|
10. |
Mata Uang |
: |
Suriname Dollar (SRD) 1 US$ =
SRD 2,75 (sejak Januari 2004) |
|
11. |
Jumlah Penduduk |
: |
492.829 orang (sensus 2004),
rata-rata pertumbuhan 1,3 % |
|
12. |
Etnis Suku |
: |
Hindustan 135.117 orang (
27,41%), Kreol 87.202 orang (17,69%), Bush-Negro
72.500 orang (15,71%), Jawa
71.879 orang (15,62%),
Lain-lain (Cina, Amerindian, Eropa, dan Arab)
116.131 orang (23,57%) |
|
13. |
Pendapatan per
Kapita |
: |
US$ 4.100 (tahun 2006, PBB) |
|
14. |
Laju Inflasi |
: |
15,5% (2006) |
|
15. |
Ekspor Utama |
: |
Aluminium, minyak bumi, beras,
udang, pisang, emas, dan kayu. |
|
17. |
Impor Utama |
: |
Bahan mentah, kapas, minyak,
capital equipment, consumer goods. |
|
18. |
Lagu Kebangsaan |
: |
Opo Kondre Opo
kondreman oen opo Sranan gron e kan oen
Wans ope tata komopo, Wi moes seti kondre boen
Stre de f'stre wi no sa frede gado de wi fesiman
Heri libi te na dede, Wi sa feti gi Sranan
|
|
|
|
19. |
Bendera :

Bendera kebangsaan Suriname
berbentuk 4 persegi panjang dengan ukuran
perbandingan antara panjang dan lebar ialah 3:2,
terdiri dari 3 warna: hijau, merah, dan putih.
Ketiga warna tersebut tersusun secara horizontal
menjadi 5 bagian warna dari atas ke bawah,
hijau–putih–merah–putih–hijau, dengan
perbandingan 2:2:1:2:2. Warna merah yang
terletak di tengah menjadi dominan, ditambah
dengan lambang bintang segi lima berwarna kuning
terletak di pusat perpotongan diagonal dari
keempat sudut bendera |
|
|
|
20. |
Lambang Negara :

Lambang negara Suriname
digambarkan dalam bentuk 2 orang Amerindian
memegang busur panah dan mengapit perisai
berbentuk oval, berdiri di atas pita bertuliskan
Justitia Pietas, Fides. Tergambar dalam
perisai tersebut, di sisi kiri sebuah kapal
layar dan di sisi kanan sebuah pohon sejenis
palm. Kedua gambar tersebut dipisahkan oleh
garis vertikal mengikat segi empat belah ketupat
tepat di tengah perisai, dan di dalam segi empat
belah ketupat tersebut terdapat bintang segi
lima |
|
|
|
II. GEOGRAFI |
|
1. |
Luas Wilayah :
Negara Suriname 163.265 Km2,
dengan panjang pantai 275 km. Suriname termasuk
salah satu dari 3 (tiga) negara kecil di kawasan
Amerika Selatan, selain Republik Guyana (214.696
Km2) dan Uruguay (176.200 Km2) |
|
|
|
2. |
Topografi :
Datarannya dibedakan menjadi tiga
bagian, yaitu:
a. Daerah Pesisir/Pantai
Daerah pesisir/pantai muda,
terbentuk dari tanah liat yang pekat, antara
pasir pantai dan gugusan karang yang
terletak di bawah permukaan laut. Pantai tua
sebagian besar terletak di atas permukaan
laut. Ke dua daerah ini, sejak
diperkenalkannya dengan sistim polder
dan pompanisasi, menjadi daerah pertanian
subur dan pemukiman penduduk. Beberapa
tahun ini, lahan-lahan tersebut banyak yang
telantar akibat krisis keuangan
b.
Daerah Savana
Daerah yang tertutup pasir
dan sangat gersang.
Di daerah ini hanya tumbuh
jenis rumput– rumput tertentu
c. Daerah Dataran Tinggi
Terletak di sebelah selatan,
berbatasan dengan wilayah Brazil. Sebagian
besar daerah dataran tinggi ini tertutup
hutan tropis, yang menghasilkan kayu keras
berkualitas tinggi
|
|
3. |
Perbatasan |
|
|
Suriname terletak di sebelah
barat laut anak benua Amerika Selatan.
Wilayahnya terbentang antara 2–6
Lintang Utara (LU) dan 54–58 Bujur Barat (BB).
Batas–batas wilayah Suriname, sebagai berikut : |
|
|
|
|
Sebeleh Utara |
: |
Lautan Atlantik |
|
|
|
|
Sebelah Timur |
: |
Guiana Perancis,
dipisahkan oleh sungai Marowijne dan Lawa |
|
|
|
|
Sebelah Selatan |
: |
Brazil, dipisahkan
oleh Peghunungan Toemoek Hoemak dan Acarai |
|
|
|
|
Sebelah Barat |
: |
Republik Guyana |
|
|
|
4. |
Kota-kota Besar |
: |
Paramaribo, Nickerie, dan
Lelydorp |
|
|
|
5. |
Tempat-tempat Wisata |
: |
Colakreek, Carolinakreek,
Blakawatra, Bronsberg dan Over
Bridge |
|
|
|
6. |
Iklim :
Beriklim tropis dengan temperatur
rata–rata 28.3 C. Curah hujan rata–rata 225 cm
per tahun dengan kelembaban udara 66 Hg. Musim
dapat dibagi menjadi: musim hujan pendek
(Nopember-Pebruari), musim kemarau pendek
(Pebruari-Maret), musim hujan panjang
(Maret-Juli), musim kemarau panjang
(Juli-Nopember) |
|
|
|
7. |
Flora dan Fauna :
Lebih dari 80 % tanah Suriname
masih berupa hutan belukar yang di dalamnya
hidup berbagai
species tumbuhan dan satwa. Suriname
terkenal kaya akan jenis floranya.
Tumbuhan yang terkenal adalah jenis kayu keras
seperti Bruinhart, Purplehart dan
Zwartekabes.
Hasil kayu tersebut diekspor dan
menjadi sumber devisa penting. Suriname juga
terkenal dengan berbagai jenis satwa, baik yang
sudah diternakkan maupun yang masih merupakan
binatang liar. |
|
|
|
III. SEJARAH |
|
1. |
Terbentuknya Negara dan
Pemerintahan Suriname |
|
|
Wilayah Suriname mulai dikenal
sejak abad ke 15, ketika bangsa-bangsa Eropa
berlomba menguasai Guyana, suatu dataran luas
yang terletak di antara Samudera Atlantik,
Sungai Amazone, Rio Negro, Cassiquiare dan
Orinoco. Dataran tersebut awalnya oleh para ahli
kartografi diberi nama
Guyana Karibania (Guyana berarti dataran
luas yang dialiri banyak sungai, dan Karibania
dari kata Carib -nama penduduk asli yang
pertama kali mendiami dataran tersebut).
Dalam legenda El Dorado,
Guyana digambarkan sebagai wilayah yang kaya
kandungan emas. Legenda tersebut merupakan salah
satu factor yang mendorong orang-orang Eropa
untuk bersaing menguasai kawasan Guyana. Pada
tahun 1449 pelaut Spanyol, Alonzo de Hojeda
dan
Juan de La Cosa berlayar menyusuri pantai
timur laut Amerika Selatan, yang saat itu mereka
sebut Wild Coast, dan mendarat di wilayah
Guyana. Vincent Juan Pinzon kemudian
menguasai Guyana atas nama Raja Spanyol.
Selama abad ke 16 dan 17, Guyana
silih berganti dikuasai Spanyol, Belanda,
Inggris, Prancis dan Portugal.
Belanda mendirikan pusat
perdagangan pertama di dataran tersebut pada
tahun 1530. Pada tahun 1593 Raja Spanyol
mengambil alih dan menguasai Guyana hingga tahun
1595. Pada saat bangsawan Inggris datang
mengusai daerah-daerah pantai, Belanda
mengembangkan perdagangannya secara bertahap di
pedalaman. Daerah Guyana sepenuhnya jatuh ke
tangan Inggris sejak tahun 1630 hingga tahun
1639.
Pada tahun 1639 Belanda berhasil
menguasai kembali sebagian besar Guyana,
sedangkan Perancis menguasai daerah-daerah di
tepian sungai Suriname. Akibatnya, wilayah
Guyana terbagi menjadi 5 bagian, yaitu Guyana
Espanola (bagian dari Venezuela sekarang),
Inglesa (Guyana sekarang), Holandesa
(Suriname), Francesa (Cayenne), dan
Portuguesa (bagian dari wilayah Brazil).
Wilayah Suriname terletak di bagian tengah dari
wilayah Guyana yang telah terbagi-bagi, dengan
luas wilayah kurang lebih 163.265 kilometer
persegi.
Tahun 1651 Suriname direbut
Inggris, sampai saat penandatanganan perjanjian
perdamaian Breda
tahun 1667. Dalam perjanjian tersebut, Inggris
menyerahkan kembali Suriname, ditukar dengan
wilayah kekuasaan Belanda di New Amsterdam,
Amerika Utara (sekarang disebut Manhattan, New
York, AS). Pada tahun 1781-1783, Inggris kembali
merebut Suriname untuk dijadikan daerah
protektorat Inggris hingga 1802. Melalui
perjanjian Amiens, tanggal 27 Maret 1802,
Suriname, Berbice, Demerara dan Essquibo
diserahkan kepada Belanda. Namun setahun
kemudian Inggris kembali merebut wilayah-wilayah
itu.
Sejak tahun 1804 Suriname menjadi
koloni Inggris dengan sebutan the British
Interregnum.
Selama di bawah kekuasaan Inggris, situasi
ekonomi Suriname mengalami kemunduran, karena
larangan perdagangan budak, padahal perkebunan
masih sangat memerlukan tenaga buruh.
Melalui perjanjian London tanggal
13 Agustus 1814 dan diratifikasi dalam
perjanjian Viena, Suriname dikembalikan lagi
kepada pihak Belanda. Pemerintahan Suriname
dipimpin langsung oleh seorang Gubernur
Jenderal, dengan didampingi oleh Dewan
Kepolisian yang bertugas sebagai Penasihat
Gubernur.
Dengan dihapuskannya perbudakan
pada tanggal 01 Juli 1863, perekonomian Suriname
tidak menentu. Karena itu, pada tahun 1870
pemerintah Belanda menandatangani perjanjian
dengan Inggris guna mendatangkan imigran/buruh
kontrak ke Suriname. Perjanjian tersebut
diimplementasikan mulai tahun1873 sampai 1914,
dengan mendatangkan buruh kontrak (imigran)
Hindustan pertama dari India. Gelombang
berikutnya adalah para imigran dari Jawa pada
tanggal 09 Agustus 1890. Seiring dengan
ditempatkannya para imigran di sektor
perkebunan, Suriname mengalami kemajuan di
berbagai bidang, antara lain telekomunikasi,
jalan raya, dan pembukaan jalur hubungan laut
langsung Suriname - Belanda. Pecahnya perang
dunia ke-1 dan ke-2 tidak mempengaruhi situasi
ekonomi - politik Suriname.
Pada tanggal 15 Desember 1954,
pemerintah Belanda dan beberapa wakil dari
Suriname menandatangani memorandum rencana
pengakhiran penjajahan. Pada konferensi Meja
Bundar tahun 1961, para wakil Suriname yang
dipimpin Johan Adolf Pengel (sekarang
diabadikan sebagai nama bandara internasional di
ibukota Suriname, Paramaribo) menuntut
dibentuknya pemerintahan sendiri. Tuntutan itu
semakin kuat dengan berdirinya beberapa partai
politik (parpol). Pada tahun 1970
diselenggarakan konferensi di Belanda untuk
membicarakan persiapan pelepasan Suriname, dan
menyusun kabinet yang terdiri dari wakil-wakil
parpol.
Tanggal 25 Nopember 1975 Suriname
menjadi negara merdeka. Walaupun demikian,
perekonomiannya tetap sangat bergantung pada
bantuan pembangunan Belanda.
Pada tanggal
25 Februari 1980, 5 tahun setelah
merdeka, Suriname diguncang kudeta militer.
Sekitar 35.000 penduduk Bushnegro dan
6.500
Amerindian di daerah-daerah pedalaman
menjadi pelaku utama menentang penguasa militer.
Kelompok-kelompok militan dari kedua golongan
tersebut adalah kelompok Mandela (Bushnegro)
di bawah pimpinan mantan anggota militer
Ronny Brunswijk dan kelompok Tukujan Amazones
(Amerindian).
Sebagai tindakan memberantas
pemberontakan, pada tanggal 8 Desember 1982
pihak militer membunuh 15 tokoh demonstran.
Akibatnya, bantuan pembangunan Belanda kepada
Suriname dihentikan, sehingga kondisi
perekonomian negara menjadi semakin buruk.
Puncak konflik bersenjata ketika tahun 1986,
pihak militer harus berhadapan dengan
pemberontak Bushnegro yang telah bersatu
dan menamakan dirinya Jungle Commando.
Tahun itu pula, kelompok
Amerindian juga meningkatkan aksinya.
Kemelut ini mengakibatkan sekitar 7.000 orang
Bushnegro melarikan diri ke Cayenne (Guiana
Perancis) untuk meminta suaka politik kepada
pemerintah setempat.
Pemilu Nopember 1987 mengakhiri
pemerintahan militer kembali ke pemerintahan
sipil. Namun tidak lama, Desember 1990 militer
kembali melancarkan kudeta tidak berdarah, yang
dikenal sebagai Kudeta Telepon. Kemudian
pihak militer membentuk Pemerintahan Sementara
dengan salah satu tugas mempersiapkan pemilu
yang demokratis. Pada bulan Mei 1991,
diselenggarakan pemilu, namun hasilnya tidak
sesuai harapan pihak militer, karena dimenangkan
golongan sipil.
Pada bulan September 1991
terbentuk pemerintah sipil yang baru, dipimpin
oleh Presiden Drs. R.R. Venetiaan dan Wapres
Jules Ajodhia. Dengan demikian, berakhirlah
kekuasaan militer. Langkah pemerintahan
Venetiaan adalah melanjutkan upaya-upaya
perdamaian yang telah dirintis pemerintah sipil
sebelumnya. Hal ini merupakan tugas berat bagi
pemerintah yang baru terbentuk, terutama karena
merosotnya kondisi ekonomi dan sosial Suriname
akibat kemelut politik berkepanjangan.
Pada pemilu bulan Mei 1996,
koalisi penguasa
Front dan Presiden Venetiaan kalah, dan
pemerintahannya digantikan Drs.Jules Wijdenbosch
dari Nationale Demokratische Partij (NDP)
dan Radakishun dari Vooruitstrevende
Hervorming Partij (VHP), yang terpilih
masing-masing menjadi Presiden dan Wakil
Presiden.
Pada pemilu tanggal 25 Mei 2000,
kekuasaan berhasil diraih oleh kombinasi
penguasa New Front yang terdiri dari
parpol Nationale Partij Suriname
(NPS),VHP, Pertjajah Luhur (PL) dan
Surinaamse Partij vande Arbeid
(SPA). Kemenangan New Front ini
mengantarkan kembali R.R. Venetiaan (NPS) ke
tampuk kursi kepresidenan 2000 - 2005.
Sebagai Wakil Presiden, terpilih
Jules Rattankoemar Ajodhia dari partai VHP.
Pada Pemilu 25 Mei 2005, Koalisi
Pemerintah
New Front, meskipun mengalami penurunan
dukungan, tetap berhasil unggul. Untuk menyusun
pemerintahan baru 2005 -2010, New Front
menggandeng 2 koalisi politik, yakni
A-Combinatie
dan Democratische Actie 91, sehingga
terbentuk New Front plus. Presiden
Venetiaan terpilih untuk ketiga kalinya menjadi
Presiden Suriname, dengan Wakil Presiden Ramdien
Sardjoe dari VHP. Sementera itu, Paul Salam
Somohardjo, ketua PL, terpilih sebagai Ketua
Parlemen. |
|
|
|
2. |
Masyarakat Suriname Keturunan
Jawa |
|
|
Dengan berakhirnya sistem
perbudakan pada tahun 1863, banyak tenaga kerja
perkebunan yang beralih ke lapangan kerja lain
sesuai keinginannya. Akibatnya, sektor
perkebunan yang saat itu merupakan salah satu
tulang punggung perekonomian Belanda, baik bagi
pemerintah koloni maupun pemerintah pusat di
Belanda, merosot. Karena itu, Belanda kemudian
mendatangkan orang-orang Indonesia (saat itu
bernama Hindia Belanda) sebagai buruh murah
untuk dipekerjakan di perkebunan. Kebanyakan
dari Jawa Tengah, karena saat itu sebagai
wilayah yang padat penduduknya dan tingkat
perekonomiannya rendah. Kelompok imigran
Indonesia pertama berjumlah 94 orang tiba di
Suriname pada tanggal 9 Agustus 1890.
Kelompok ini direkrut oleh De Nederlandsche
Handel Maatschappij, untuk dipekerjakan di
perkebunan tebu dan perusahaan gula Marienburg.
Empat tahun kemudian (1894) perusahaan yang sama
mendatangkan lagi imigran gelombang kedua
berjumlah 582 orang Jawa.
Mulai tahun 1897 kedatangan para
imigran dari Indonesia ini dikelola langsung
oleh pemerintah Hindia Belanda. Dari tahun 1890
hingga 1939, jumlah imigran Indonesia asal Jawa
tersebut mencapai 32.956 orang dengan
menggunakan 34 kali pengangkutan.
Imigran keturunan Jawa ini
bekerja sebagai buruh perkebunan Belanda
berdasarkan sistem kontrak. Berdasarkan
perjanjian yang ada, para buruh Jawa tersebut
memiliki hak untuk kembali ke negara asalnya
(repatriasi) bilamana telah habis masa
kontraknya. Dalam periode tahun 1890 – 1939,
tercatat 8.120 orang yang telah kembali ke tanah
air. Pada tahun 1947, terjadi lagi gelombang
repatriasi tercatat 1.700 orang.
Repatriasi massal terakhir pada
1954, ketika sekitar 1.000 orang Jawa
meninggalkan Suriname untuk kembali ke
Indonesia.
Sebagian besar para imigran Jawa
ternyata memilih tetap tinggal di Suriname
walaupun hubungan kontrak mereka dengan pemilik
perkebunan telah berakhir.
Mereka tetap tinggal dan bekerja di perkebunan
itu sebagai pekerja bebas. Bagi mereka, bekerja
di perkebunan bukanlah merupakan sesuatu yang
baru. Mereka juga telah terbiasa berhubungan
dengan para majikan Belanda yang bertahun-tahun
menjajah Indonesia.
Kondisi seperti itu merupakan
faktor pendorong para keturunan Jawa untuk
bertahan. Mereka tidak terpengaruh oleh buruh
India yang pada umumnya meninggalkan pekerjaan
mereka, segera setelah masa kontraknya habis.
Namun, ketika masa kejayaan
perkebunan tebu mulai merosot, banyak orang Jawa
yang beralih profesi menjadi buruh industri.
Mereka berpindah ke pusat-pusat pertambangan
bauksit seperti Moengo, Paranam dan Biliton.
Akibatnya, daerah yang semula dikenal sebagai
Distrik Jawa-karena mayoritas penduduknya
keturunan Jawa, seperti Saramacca, Coronie dan
Nickerie, semakin kekurangan tenaga buruh.
Menjelang proklamasi kemerdekaan
Suriname pada tahun 1975, banyak orang Jawa ikut
ambil bagian dalam migrasi massal ke Belanda.
Sekitar 15.000 orang Suriname pindah ke Belanda
karena khawatir terhadap kemungkinan dominasi
dan penindasan politis oleh golongan Kreol
(Afros-Suriname). Kekhawatiran tersebut muncul
karena selama kampanye Pemilu tahun 1973, dalam
rangka pembentukan pemerintah pertama Suriname
merdeka, diwarnai oleh ketegangan hubungan
antar-suku.
|
|
|
|
3. |
Taraf kehidupan masyarakat
Suriname keturunan Jawa |
|
|
Awalnya hanya sebagian kecil dari
para imigran Jawa di Suriname dapat berbahasa
Belanda. Mereka juga belum mengenal bahasa
masyarakat setempat, seperti Sranan Tongo,Hindi,
Amerindian dan bahasa Bushnegro. Para imigran
umumnya bukan pekerja terlatih, terkecuali
sejumlah kecil yang berprofesi sebagai petani,
pekerja perusahaan gula dan buruh perkebunan
kopi/coklat. Kondisi tersebut diperburuk oleh
kenyataan bahwa para penguasa Belanda yang
otokratik, tidak memberi kesempatan bagi imigran
Jawa untuk berkembang.
Di samping itu, karena Indonesia
pada saat itu masih berada di bawah kekuasaan
Belanda, maka sebagian besar imigran Jawa
tercatat sebagai warga Belanda. Tidak ada
perwakilan khusus yang dapat menyalurkan
aspirasi atau memberi perlindungan kepada
masyarakat Jawa pada awal keberadaan mereka di
Suriname. Padahal yang berasal dari India
memiliki suatu perwakilan yang disebut Agent
General.
Satu-satunya fasilitas yang dapat mereka nikmati
adalah perlindungan kerja yang diberikan oleh
para majikan mereka. Namun para majikan inipun,
dalam peranannya sebagai ujung tombak
perekonomian Belanda, lebih mengutamakan hasil
kerja para buruh daripada meningkatkan standar
hidup bawahannya. Ditinjau dari segi ini, maka
pembukaan Komisariat Indonesia segera setelah
proklamasi kemerdekaan RI, sangat penting bagi
masyarakat keturunan Jawa di Suriname.
Faktor lain penyebab
keterbelakangan masyarakat keturunan Jawa ini
adalah kuatnya memelihara pola kehidupan
tradisionalnya. Mereka menolak setiap pengaruh
asing (Barat) yang dipandang dapat merusak pola
kehidupan yang mereka yakini. Beberapa orang
keturunan Jawa baru dapat menduduki posisi yang
agak terpandang setelah sekitar 30 tahun
kedatangan mereka pertama kali, misalnya sebagai
mandor tebu dan lurah di kawasan perkebunan,
perawat, penerjemah, dan guru.
Pada akhir tahun 1970-an,
sejumlah kecil keturunan Jawa telah berhasil
menyandang gelar kesarjanaan dalam bidang
teknik, hukum,kedokteran, ekonomi, fisika dan
theologi.
Namun secara umum, mereka tetap
tidak tertarik melakukan kegiatan-kegiatan
bisnis. Hanya beberapa yang telah berhasil
sebagai pengusaha toko, angkutan dan restoran.
Bidang politik ternyata juga menarik perhatian
mereka. Masyarakat Jawa terkotak-kotak oleh
adanya beberapa partai yang dipimpin oleh
orang-orang yang memiliki pengaruh kuat, dan
tidak didasarkan pada ideologi yang jelas.
Pada pemilu tahun 1977,
partai-partai Jawa secara bersama-sama berhasil
memperoleh 4 kursi di parlemen. Pada tahun 1979,
dua orang keturunan Jawa berhasil menduduki
jabatan menteri dan seorang lainnya menjabat
deputi menteri. Pada Tahun 1991 dalam masa
pemerintahan Presiden Venetiaan, tiga jabatan
menteri dipegang oleh keturunan Indonesia
(Jawa). Di samping itu, partai - partai Jawa
{Kerukunan Tulodo Pranatan Inggil (KTPI) dan
Pendawa Lima (PL)} secara bersama–sama berhasil
memperoleh 8 (delapan) kursi di parlemen.
Pada saat pemerintahan Presiden
Jules Wijdenbosch, dari 18 jabatan menteri,
terdapat 6 jabatan menteri dan satu deputi
menteri yang dipegang oleh keturunan Jawa. Di
samping itu terdapat 9 (sembilan) anggota
parlemen keturunan Jawa (5 kursi KTPI dan 4
kursi Pendawa Lima). Sampai saat ini, jabatan
tertinggi negara yang dipegang keturunan
Jawa adalah Ketua Parlemen hasil pemilu 2005,
Paul Salam Somohardjo. |
|
|
|
4. |
Muslim di kalangan masyarakat
Jawa |
|
|
Kalangan Muslim (Islam) asal Jawa
di Suriname hingga sekarang masih terkotak-kotak
dalam beberapa kelompok, yaitu :
a. Kelompok yang sudah maju
umumnya yang tergabung dalam organisasi SIS
(Stichting Islamitische Gemeente in Suriname).
Mesjidnya sudah mengikuti arah kiblat yang benar
(mengarah ke timur/kabah). Mesjid yang bergabung
dengan organisasi tersebut tersebar di
desa-desa. Beberapa mesjid terkenal dan dikelola
keturunan Indonesia, antara lain : Mesjid Nabawi
di Paramaribo, Mesjid Namiroh di Lelydorp, dan
Mesjid Darul Falah di Blauwgrond.
b. Kelompok ortodoks yang masih
melestarikan dan memegang teguh adat istiadat
para leluhurnya dari Indonesia (Jawa). Kiblat
mesjidnya masih ke Barat seperti nenek moyangnya
sewaktu shalat di Jawa. Golongan ini umumnya
tinggal di desa-desa atau pedalaman, dan
tergabung dalam FIGS
(Federatie Islamitische Gemeente
Suriname).
c. Kelompok yang masih
melestarikan adat istiadat Jawa tetapi arah
kiblatnya sudah mengarah ke timur/Kabah.
Mereka tergabung dalam organisasi
PJIS (Persatuan Jama’ah Islam Suriname). |
|
|
|
5. |
Vereniging Herdenking Javaanse
Immigratie
(VHJI) |
|
|
Vereniging Herdenking Javaanse
Immigratie
(VHJI/Persatuan Mengenang Imigrasi Warga Jawa di
Suriname) didirikan pada tanggal 15 Januari
1985. Tahun 1990, VHJI memperingati 100 tahun
imigrasi orang-orang Jawa ke Suriname. Gedung
Sana Budaya digunakan sebagai sarana bagi
masyarakat Suriname keturunan Jawa untuk
mengadakan berbagai kegiatan, seperti diskusi,
latihan tari, musik gamelan, angklung, arumba,
dan pagelaran wayang kulit, agar mereka dapat
melestarikan budaya dan tatakrama Jawa.
Gedung Sana Budaya dirintis
pembangunannya secara bertahap melalui bantuan
Presiden Soeharto yang disampaikan melalui Menko
Kesra RI (Alm) Soepardjo Roestam pada kesempatan
kunjungan menghadiri peringatan 100 tahun
imigrasi orang-orang Jawa ke Suriname. Presiden
RI kemudian memberikan bantuan untuk
menyelesaikan pembangunan pendopo pada tahun
1995. |
|
|
|
6. |
Partai politik dan
organisasi/perkumpulan keturunan Jawa |
|
|
Menjelang pemilu pada tanggal 25
Mei 2005 partai politik (parpol) keturunan Jawa
terdiri dari 5 partai yaitu: KTPI (Kerukunan
Tulada Pranatan Inggil) ketuanya Willy Soemita,
Pertjajah Luhur ketuanya Paul Salam Somohardjo,
Pendawa Lima ketuanya Raymond Sapoen, D'21
(Democratieeeuwen 21) ketuanya Soewarto
Moestadja dan PPRS (Partai Pembangunan Rakjat
Suriname) ketuanya Rene Kaiman.
Parpol KTPI yang selalu duduk
dalam pemerintahan dan anggota Nationale
Assemblee
(parlemen), pada pemilu tanggal 25 Mei 2005
menurun. Parpol Jawa yang terbanyak
menempatkan anggota parlemen adalah dari
Pertjajah Luhur, sementara KTPI diwakili oleh 2
anggota parlemen sebagai oposisi.
Di samping parpol, juga terdapat
organisasi/perkumpulan yang bergerak di bidang
kebudayaan dan olahraga, antara lain Indra Maju,
Vereninging Herdenking Javaanse Immigratie
(VHJI), Putri Mardi Bekso, Kartika Budaya, Suara
Muda, dan Kridha Wanita. |
|
|
|
7. |
Peristiwa - peristiwa Penting |
|
|
12
Oktober 1492 |
: |
Penemuan Benua Amerika oleh
Columbus. Ia mendarat di Guanahani, yang saat
ini bernama Watling, terletak di kepulauan
Bahama |
|
|
1499 |
: |
Alonzo de Hojade dan Juan de la
Cosa menyusuri pantai timur laut Amerika Selatan
(Wild Coast) |
|
|
1530 |
: |
Belanda mendirikan pusat
perdagangan yang pertama |
|
|
1530 |
: |
Budak Negro pertama didatangkan
dari Afrika |
|
|
1632 |
: |
Kedatangan orang Yahudi pertama
di Suriname |
|
|
1651 |
: |
Francis Willoughby menyerang dan
menduduki Suriname |
|
|
1651
- 1667 |
: |
Suriname berada di bawah
kekuasaan Inggris |
|
|
1667 |
: |
Perjanjian Breda, Suriname
menjadi wilayah kekuasaan Belanda |
|
|
1781
- 1783 |
: |
Inggris kembali berkuasa di
Suriname |
|
|
1799
- 1802 |
: |
Suriname menjadi daerah
protektorat Inggris |
|
|
1804
- 1816 |
: |
Suriname menjadi daerah koloni
Inggris dengan sebutan
The British Interregnum |
|
|
1816 |
: |
Suriname menjadi daerah koloni
Belanda. Lahirnya Konstitusi Kolonial Belanda
yang pertama (Regerings
Regelement) |
|
|
1835 |
: |
Pangeran Willem Frederick
Hendrik, putra King Willem II berkunjung ke
Suriname |
|
|
1853 |
: |
Kedatangan imigran Cina pertama
di Suriname |
|
|
1863 |
: |
Penghapusan perbudakan di
Suriname |
|
|
8
Mei 1866 |
: |
Sidang parlemen Kolonial I
(Koloniale Staten) |
|
|
1873
- 1916 |
: |
Kedatangan imigran pertama dari
India |
|
|
1890
- 1939 |
: |
Kedatangan para imigran dari
Jawa |
|
|
1890 |
: |
Kedatangan orang orang keturunan
Lebanon yang pertama di Suriname |
|
|
1935,
1948, 1950 |
: |
Revisi terhadap Konstitusi
Kolonial |
|
|
7
Desember 1942 |
: |
Pidato Ratu Wilhelmina dari
London, berjanji untuk membantu pembangunan
kembali Kerajaan Belanda dan pemberian kekuasaan
otonomi bagi wilayah-wilayah jajahannya |
|
|
1943 |
: |
Putri Juliana berkunjung ke
Suriname |
|
|
1948,1952,1954 |
: |
Konfrensi Meja Bundar antara
Pemerintah Belanda dan Antillen di Hague,
tentang masa depan Kerajaan Belanda dan
negara-negara yang berada di bawah kekuasaannya |
|
|
1950 |
: |
Pangeran Bernhard berkunjung ke
Suriname |
|
|
1955 |
: |
Pangeran Bernhard & Ratu Juliana
berkunjung ke Suriname |
|
|
1957 |
: |
H.J de Vries, orang Suriname
pertama yang diangkat sebagai acting
Gubernur |
|
|
1963 |
: |
A Currie, orang Suriname pertama
yang menduduki jabatan Gubernur |
|
|
1968 |
: |
Berdirinya Universitas Suriname |
|
|
25
November 1975 |
: |
Berdirinya Universitas Suriname |
|
|
4
Desember 1975 |
: |
Suriname menjadi anggota PBB |
|
|
Februari
1977 |
: |
Presiden J. Ferrier melakukan
kunjungan kepada Ratu Juliana |
|
|
30
Oktober 1977 |
: |
Pemilihan Umum |
|
|
1978 |
: |
Ratu Juliana dan Pangeran
Bernhard berkunjung ke Suriname |
|
|
25
Pebruari 1980 |
: |
Kudeta Militer, Pemerintahan
Militer sampai dengan tahun 1987 |
|
|
8
Desember 1982 |
: |
Pembunuhan berdarah (Tragedi 8
Desember 1982) oleh Militer |
|
|
1987 |
: |
Referendum pertama dalam rangka
perumusan Konstitusi Baru, Pemilu dan
pembentukan pemerintah Demokratis |
|
|
24
Desember 1990 |
: |
Kudeta Militer II, kekuasaan di
tangan militer |
|
|
25
Mei 1991 |
: |
Pemilu, Sipil kembali berkuasa,
Drs. Runaldo Ronald Venetiaan menjadi Presiden
dan Jules Rattankoemar Ajodhia Wakil Presiden |
|
|
Mei
1996 |
: |
Pemilu, Drs. Jules Albert
Wijdenbosch tepilih sebagai Presiden, dan Wakil
Presidennya adalah Pretaapnarain Shawh
Radhecheran Radhakishun |
|
|
25
Mei 2000 |
: |
Pemilu, Drs. R R Venetiaan
terpilih kembali sebagai Presiden untuk ke-2
kali dengan Wapres Jules Rattankoemar Ajodhia,
dan ketua parlemen Ramdien Sardjoe |
|
|
25
Mei 2005 |
: |
Pemilu, Drs. RR Venetiaan
terpilih kembali sebagai Presiden untuk ke-3
kali, dengan Wapres Ramdien Sardjoe dan Ketua
Parlemen Paul Salam Somohardjo |
|
|
|
IV. POLITIK |
|
|
|
A. |
Politik Dalam Negeri |
|
1. |
Sistem Pemerintahan |
|
|
Sistem pemerintahan berlandaskan
demokrasi konstitusi, di mana lembaga legislatif
(Parlemen atau National Assembly) yang
memiliki 51 anggota merupakan badan tertinggi
dalam tata pemerintahan Suriname. Keanggotaan
parlemen terdiri dari para wakil partai - partai
politik (parpol) yang perkembangannya pada saat
ini adalah sebagai berikut : |
|
|
|
|
a. Kelompok politik
terbesar yang mewakili posisi etnis dan
tergabung dalam kombinasi pemerintah yang
berkuasa (New Front Plus) adalah : |
|
|
-
NPS (Nationale Partij
Suriname)
didominasi oleh etnis Kreol
|
|
|
- VHP
(Vooruitstrevende Hervorming Partij)
- etnis Hindustan
|
|
|
-
PL (Pertjajah Luhur)
didominasi oleh etnis Jawa
|
|
|
-
SPA (Surinaamse Partij van
de Arbeid –
buruh etnis Kreol)
|
|
|
-
Afro-Combinatie
(Afro-Suriname Pedalaman/Djuka)
|
|
|
-
D’91 (Boroe/kulit putih
Suriname)
|
|
|
b.
Partai/Kelompok oposisi : |
|
|
-
NDP (Nationale
Democratische Partij)
- etnis Kreol
|
|
|
-
KTPI (Kerukunan Tulada
Pranatan Inggil) - etnis Jawa
|
|
|
-
DA (Democratisch
Alternatief) -
campuran berbagai etnis
|
|
|
-
DNP 2000 (Democratisch
Nationaal Platform 2000) - etnis Kreol
|
|
|
-
PVF(Politieke Vleugel van
de Federati Agrarier el Landbouwers) -
didominasi petani etnis Hindustan
|
|
|
-
PALU (Progressieve
Arbeiders en Landbouwers Unie) merupakan
etnis campuran
|
|
|
c.
Parpol-parpol lainnya
: |
|
|
-
D'21 (Democratie '21) -
didominasi etnis Jawa
|
|
|
-
NPLO (National Partij voor
Liederschap en Ontwikkeling) -
didominasi etnis Jawa
|
|
|
-
PENDAWA LIMA - didominasi
oleh etnis Jawa
|
|
|
-
NAYA KADAM - didominasi oleh
etnis Hindustan
|
|
|
-
NHP (Nationale Hervorming
Partij) - etnis Hindustan
|
|
|
-
DOE (Democratie,
Outwikkeling en Eenheid) - campuran
|
|
|
-
BVD (Basis Partij voor
Vernieuwing en Democratie) - didominasi
etnis Hindustan
|
|
|
-
ABOP (Algemeen Berrijd en
Ontwikkeling Parti) - etnis negro
pedalaman
|
|
|
-
HPP (Hernieuwde
Progressive Partij) - etnis Hindustan
|
|
|
-
PSV (Progressieve
Surinaamse Volks Partij) - campuran
|
|
|
-
APS (Amazone Partij
Suriname) - etnis pribumi Amerindian
|
|
|
d. Parpol-parpol yang tidak
terwakili dalam parlemen : |
|
|
-
D21, NPLO. PENDAWA LIMA, NAYA
KADAM, NHP, DOE, BVD, ABOP, HPP, PSV, NPLO
dan APS
|
|
|
Menjelang Pemilu Mei 2005 dan
dalam upaya penyusunan kekuatan untuk
memenangkan pemilu, partai-partai kecil telah
melakukan merger, membuat blok baru,
kembali pada induknya (membubarkan diri) dan
kemudian mendirikan partai baru, antara lain : |
|
|
-
Partai HPP, Naya Kadam, PVF
dan BVD - Girjasingh masing-masing
membubarkan diri, kemudian bergabung
membentuk Parpol UPS
(Union Progressieve
Surinamer)
|
|
|
-
Partai DA'91, D’21, PVF,
Trefpunt 2000 (partai baru), dan New
Suriname (partai baru) membuat blok baru
dengan nama
Alternatieve 1 (A-1)
|
|
|
-
PPRS (Partai Pembangunan
Rakjat Suriname), yang pada Pemilu 2000
merger dengan partai KTPI, menjelang Pemilu
2005 kembali keluar dari KTPI
|
|
|
-
PPP (Progressieve
Politieke Partij -
baru), ketua Surinder Mungra
|
|
|
-
NOP (National Ontwikkeling
Partij -
baru), ketua Armad Kanape
|
|
|
-
Partai SEEKA (baru), ketua
Paul Abena
|
|
2. |
Pemilihan Umum (Pemilu) |
|
|
Konstitusi Suriname tahun 1987
yang diberlakukan secara resmi tanggal 30
Oktober 1987 adalah dasar utama yang menjadi
acuan UU Pemilihan Umum Nasional (Pemilu)
Legislatif dan Presidential dimulai dan
diterapkan pada Pemilu tanggal 25 Nopember 1987.
Menurut Konstitusi 1987, Suriname
menyelenggarakan pemilu setiap 5 (lima) tahun
sekali, kecuali dalam keadaan darurat
(emergensi).
Pemilu merupakan pemilihan
anggota legislatif berupa pemilihan anggota
National Assembly / NA (DPR), anggota
Local Councils / LC (DPD) dan District
Councils / DC (DPRD). Pemilihan legislatif
di tingkat NA (DPR) dengan sistem
proportional representative
dan di tingkat LC dengan sistem
individual pluarality voting diselenggarakan
secara langsung pada waktu bersamaan tanggal 25
Mei 2005. Sedangkan pemilihan anggota DC
diselenggarakan dengan sistem constituensi
secara tidak langsung, yaitu setelah atau
berdasarkan hasil pemilu di tingkat LC.
Untuk dapat diikutsertakan pada
pemilu, setiap parpol diharuskan untuk mempunyai
anggota pendukung minimal 1 % dari seluruh
jumlah calon pemilih terdaftar dari seluruh
penduduk Suriname yang berjumlah 481.146 (hasil
sensus 2003/2004). Parpol-parpol dimaksud dapat
maju ke pemilu secara sendirian atau dengan
berkoalisi.
Pemilu anggota NA (DPR) dan LC
(DPD) diselenggarakan secara serentak di 10
district (propinsi). Untuk tingkat NA (DPR)
tersedia 51 kursi untuk 10 wilayah pemilihan
dengan pembagian kursi berdasarkan tingkat
jumlah penduduk, yang susunannya sbb : |
|
|
|
: |
17 |
|
|
|
: |
7 |
|
|
|
: |
5 |
|
|
|
: |
4 |
|
|
|
: |
4 |
|
|
|
: |
3 |
|
|
|
: |
3 |
|
|
|
: |
3 |
|
|
|
: |
3 |
|
|
|
: |
2 |
|
|
Setelah pelaksanaan pemilihan DC
dan pembentukan susunan dan pengangkatan Ketua
DPR, proses pemilu dilanjutkan dengan pemilihan
pasangan Presiden dan Wakil Presiden (Wapres) di
DPR. Menurut ketentuan pemilu tahun 2005,
parpol/kelompok/fraksi yang memiliki minimal
7(tujuh) kursi/anggota di DPR/parlemen berhak
mengajukan pasangan calon Presiden dan Wapres
dari kelompok masing-masing untuk ikut dalam
pemilihan di parlemen. Dari jumlah pasangan yang
ikut pemilihan (maksimal 3 pasang), parlemen
menetapkan Presiden dan Wapres terpilih dari
pasangan yang berhasil memperoleh dukungan
minimal 34 dari 51 total anggota (2/3
mayoritas). Parlemen dapat melakukan voting
sebanyak-banyaknya 3 (tiga) kali, untuk
mendapatkan pasangan Presiden dan Wapres.
Apabila tidak ada satupun pasangan calon yang
berhasil mencapai single majority atau
2/3 mayoritas dengan dukungan minimal 34 suara
di Parlemen, maka proses pemilihan dilanjutkan
oleh United People’s Assembly (Majelis
Rakyat Bersatu atau MPR) berjumlah 863 orang,
terdiri dari: seluruh anggota NA, DC dan LC. |
|
|
|
|
|
Hasil pemilu parlemen 25 Mei
2005, selengkapnya sebagai berikut : |
|
|
|
Aliansi dan Partai |
% |
Kursi |
|
New Front for Democracy
and Development
(Nieuwe Front voor
Democratie
en Ontwikkeling):
·
National Party of
Suriname (Nationale Partij Suriname)
·
Progressive Reform Party
(Vooruitstrevende Hervormingspartij)
·
Pertjajah Luhur
·
Surinamese Labour Party
(Surinaamese Partij van de Arbeid) |
41,2 |
23 |
|
National Democratic Party
(Nationale Democratische Partij):
oposisi utama |
23,1 |
15 |
|
People’s Alliance for
Progress
(Volksalliantie Voor Vooruitgang):
·
Democratic National
Platform 2000 (Democratisch Nationaal
Platform 2000)
·
Basic Party for Renewal
and Democracy (Basispartij voor
Vernieuwing en
Democratie)
·
Party for National Unity
and Solidarity (Kerukunan Tulodo
Pranatan Inggil)
|
14,5 |
5 |
|
A-Com
·
General Liberation and
Development Party (Algemene
Bevrijdings-en
Ontwikkelingspartij)
·
Brotherhood and Unity in
Politics (Broederschap en Eenheid in de
Politiek)
·
Seeka Seeka |
7,3 |
5 |
|
A1
·
Democratic Alternative
’91 (Democratisch Alternatief ’91)
·
Democrats of the 21th
Century (Democraten van de 21ste Eeuw)
·
Political Wing of the FAL
(Politieke Vleugel van de FAL)
·
Meeting Point 2000
(Trefpunt 2000)
|
6,2 |
3 |
|
Union of Progressive
Surinamese (Unie van Progressieve
Surinamers) |
4,9 |
-
|
|
Party for Democracy and
Development through Unity (Partij voor
Democratie en Ontwikkeling
door Eenheid) |
|
Progressive Workers’ and
Farmers’ Union (Progressieve Arbeiders-
en Landbouwersunie) |
1,0 |
- |
|
Total
(65,1 %) |
|
51 |
Sumber : Dagblad Suriname |
|
|
|
|
B. |
Politik Luar Negeri |
|
1. |
Prinsip - Prinsip Politik Luar
Negeri |
|
|
Dalam hubungan luar negeri, upaya
Presiden Venetiaan untuk memperbaiki hubungannya
dengan Belanda tidak menunjukkkan kemajuan yang
berarti. Hal itu antara lain dipengaruhi oleh
sikap pemerintah Belanda yang cenderung terlalu
mendikte dan pernyataan-pernyataan sejumlah
anggota parlemen Belanda yang terkadang
melecehkan atau menyinggung kedaulatan Suriname.
Dalam hubungan dengan
negara-negara sekawasan, pemerintah Suriname
tetap berupaya mengintegrasikan diri dalam
kawasan Karibia dan Amerika Selatan melalui
partisipasi yang lebih aktif dalam CARICOM serta
proses-proses yang berkaitan dengan KTT
negara-negara di benua Amerika. Selanjutnya
Suriname juga menekankan kerjasama yang lebih
erat dengan beberapa negara di kawasan Amerika
Selatan dan Karibia (Brasil, Venezuela, Guyana
dan Guiana Perancis).
Dilatarbelakangi berbagai
tantangan dalam hubungan dengan negara-negara
mitra tradisional, khususnya Belanda, pemerintah
Suriname semakin menyadari perlunya pengembangan
dan peningkatan kerjasama dengan negara-negara
Asia dan bahkan telah menempatkan hubungan
kerjasama dengan beberapa negara Asia seperti
India, RRC, Jepang dan Indonesia sebagai
prioritas.
Di fora regional dan
internasional, Suriname terus pula berupaya
meningkatkan kerjasama dengan PBB beserta
badan-badannya, GNB dan G-77, OKI dan aktif
mengupayakan bantuan dari Islamic Development
Bank (IDB) yang dulu pernah ditolak
pemerintah Venetiaan. |
|
|
|
|
2. |
Kebijakan luar negeri |
|
|
-
Politik luar negeri Suriname
diabdikan untuk kemakmuran dan kesejahteraan
rakyat dan negara.
|
|
|
-
Menganut prinsip tidak
mencampuri urusan dalam negeri negara lain,
dan saling menghormati atas dasar
solidaritas internasional dan koeksistensi
damai seperti apa yang tercantum dalam
piagam PBB, prinsip-prinsip GNB dan
lain-lain.
|
|
|
-
Berupaya mengintegrasikan
dirinya dalam kawasan Karibia dan Amerika
Selatan, melalui partisipasi lebih aktif
dalam CARICOM,
Association of Caribian States,
Amazone Pact, serta kemungkinan ikut
serta dalam Mercosur, NAFTA dan
proses-proses terkait dengan KTT
negara-negara Amerika.
|
|
|
-
Peningkatan hubungan
bilateral dengan negara-negara lain,
khususnya Belanda, bagi pembangunan ekonomi
nasional.
|
|
|
-
Menekankan kerjasama lebih
erat dengan negara-negara sekawasan seperti
Brazil, Venezuela, Guyana, dan Guiana
Perancis atas dasar prinsip
Good Neighborhood Policy.
|
|
|
-
Meningkatkan/mendiversifikasi
hubungan bilateral dan internasional dengan
negara-negara kawasan Asia seperti
Indonesia, India, RRC dan Jepang, serta
beberapa negara Eropa, Afrika dan Timur
Tengah.
Sementara, hubungan dengan
mitra - mitra tradisionalnya akan terus
dikembangkan.
|
|
|
-
Berpartisipasi aktif dalam
organisasi-organisasi Internasional dan
regional seperti PBB, OAS, CARICOM,
Kelompok-77, GNB, OKI dan lain-lain.
|
|
3. |
Keanggotaan Suriname dalam
Organisasi Internasional |
|
|
-
PBB dan badan-badan
khususnya: WHO, ILO, FAO, UNDP, WWF, IMO,
UNESCO, UNCTAD, World Bank, ECOSOC, UNIDO,
CEDAW, ICAO, WSSD, WFP, WWF dan IMF.
|
|
|
-
Organisasi Negara-negara
Amerika (OAS).
|
|
|
|
|
|
-
Komisi Ekonomi untuk Amerika
Latin (ECLA).
|
|
|
-
Perhimpunan Masyarakat
Karibia (CARICOM)/CSME.
|
|
|
-
Asosiasi Bauksit
Internasional (IBA).
|
|
|
-
Asosiasi Kerjasama Masyarakat
Eropa (LOME).
|
|
|
-
Inter-American Development
Bank (IDB).
|
|
|
-
International Finance
Cooperation (IFC).
|
|
|
-
International
Telecommunication Union (ITU).
|
|
|
-
Islamic Development Bank
(IsDB).
|
|
|
-
Organisasi Konperensi
Islam/OKI (OIC).
|
|
|
|
|
|
-
Pan America Health
Organization (PAHO).
|
|
V. EKONOMI |
|
1. |
Umum |
|
|
Karakteristik utama dari ekonomi
Suriname adalah ekonomi skala kecil yang
bergantung bantuan luar negeri, khususnya
Belanda. Bantuan dana untuk mendukung
pelaksanaan program-program pembangunan selalu
diberikan sejak Suriname memperoleh kemerdekaan
pada tanggal 25 November 1975. Perekonomian
Suriname didominasi oleh sumber daya alamnya,
khususnya bauksit.
Produk ekspor utama Suriname
adalah aluminium, minyak mentah, beras, udang,
pisang, kayu dan emas. Sejumlah investor asing
dalam sektor emas dan kayu telah bertambah sejak
tahun 1993. Negara mitra utama untuk ekspor
adalah Amerika Serikat, Belanda, Trinidad &
Tobago, Dutch Antiles, Brazil, Inggris,
Venezuela dan Guyana. Sedangkan produk impor
utama adalah BBM, katun, tepung, daging, susu,
bahan baku dan bahan setengah jadi, mesin-mesin,
alat-alat transport, makanan, serta barang-
barang kosumsi.
Negara mitra utama untuk impor adalah Amerika
Serikat, Belanda, Jerman, Perancis, Jepang,
Brazil, Venezuela, dan Norwegia.
Dalam 8 tahun terakhir ini,
perekonomian Negara masih menghadapi masa-masa
sulit. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya
keras untuk menstabilkan kondisi makro ekonomi
setelah depresiasi tajam mata uang Suriname,
inflasi pada tahun 2002 (15,5%), dan pertumbuhan
riil GDP yang merosot dari 4,5% menjadi 3% pada
tahun 2002. Ironisnya, pemerintah tetap
menerapkan kebijakan yang tidak populer seperti
menaikkan pajak penjualan sebesar 3%,
memberlakukan pajak kasino dan pajak pengorbanan
(bridging tax)
sebesar 10% atas corporate income dan
atas pendapatan pribadi, serta menaikkan harga
BBM sekitar 40%.
Pemerintah juga melakukan
pengetatan anggaran belanja termasuk mencegah
kenaikan gaji PNS tahun 2003. Untuk menciptakan
stabilitas mata uang, pemerintah telah mengganti
mata uang Surinamese Guilder menjadi Surinamese
Dollar – SRD, yang berlaku mulai 1 Januari 2004.
Sejumlah inisiatif pada tahun
2003 untuk menstimulir pengembangan ekonomi dan
menaikkan pendapatan negara menjadi alternatif
utama untuk menjawab defisit anggaran
pemerintah, seperti
declaration of intent dengan perusahaan
bauksit BHP Billiton dan Suralco/Alcoa.
Langkah ini menghasikan investasi jutaan dollar
dengan pemberian konsesi kepada perusahaan
tersebut di Pegunungan Bakhuys.
Perjanjian dengan perusahaan emas Kanada,
Cambior dan declaration of intent
dengan perusahaan RRC, Zhuong Heng Tai
Investment dalam proyek kelapa sawit, juga
menyumbang devisa negara dan penciptaan lapangan
kerja
Perhitungan sementara sensus
bulan Maret 2003 yang menyebutkan bahwa jumlah
penduduk Suriname adalah 481.146 jiwa (Juli
2003), di mana 18% penduduknya adalah keturunan
Jawa dari Indonesia, yang relatif masih memegang
tradisi dan budaya Jawa. Kondisi ini
merupakan modal utama yang memberi kontribusi
penting bagi pengembangan hubungan baik
Indonesia - Suriname, terutama di bidang sosial
budaya dan diversifikasi komoditas Indonesia
yang dipasarkan di Suriname.
Selama tahun 2003, pemerintah
melakukan serangkaian langkah reformasi
struktural untuk mengatasi kerentanan
(vulnerability)
ekonomi. Untuk memperbaiki kinerja fiskal,
anggaran dan administrasi perpajakan,
pemerintah meluncurkan program pengetatan
kelembagaan untuk 3 tahun ke depan dengan
bantuan teknik dari pemerintah Belanda.
Untuk memperkuat sistem keuangan,
peraturan mengenai pengawasan perbankan baru
telah disetujui oleh Bank Sentral Suriname
(CbvS) sesuai dengan the Basel Core Principle
serta pemberlakuan peraturan mengenai money
laundering.
Dalam kebijakan perdagangan,
Suriname sedang berada pada tahap akhir
implementasi Caricom Common External Tariff
dan persetujuan
Single Market and Economy Treaty. Namun
disayangkan, reformsi di sector publik masih
terbatas. Upaya pemerintah lainnya adalah
memperbaiki anggaran fiskal serta menurunkan
tekanan inflasi melalui kebijakan fiskal dan
moneter.
Sementara itu, menurut catatan
Biro Pusat Statistik Suriname inflasi kuartal
pertama tahun 2004 adalah 6,2% dan pada kuartal
kedua berhasil diperbaiki sehingga tingkat
inflasi mencapai 3,1%.
Bank Sentral
Suriname menyebutkan bahwa dalam waktu enam
bulan, biro internasional peringkat
Standard & Poor (S&P) telah mengubah prospek
kemampuan membayar hutang Suriname
(creditworthiness) dari B minus menjadi B
atau dari stabil ke positif.
Dalam laporan UNDP mengenai
pengembangan SDM di seluruh dunia, posisi
Suriname telah merosot dari peringkat 64 pada
tahun 2001 menjadi peringkat ke-74 di tahun
2002. Laporan UNCTAD mengenai keadaan investasi
dunia tahun 2002 menunjukkan bahwa Suriname
dalam posisi terbawah, atau urutan ke-140, yang
berarti Suriname paling sedikit diminati oleh
investor asing. Dalam index kebebasan ekonomi
dunia (IEF), sejak dipublikasikan tahun 1995,
Suriname masih dikategorikan sebagai salah satu
negara yang paling tidak aman dalam hal
aktivitas ekonomi. Suriname juga masih
dihadapkan pada tantangan-tantangan struktural
yang besar, terutama kurang sehatnya
sektor-sektor di luar sektor pertambangan,
lemahnya SDM, dan terlalu banyaknya jumlah
pegawai negeri sipil (PNS).
Berdasarkan Human Development
Index 2006 yang dipublikasikan tanggal 7
Maret 2007, saat ini Suriname tidak lagi
dimasukkan dalam kategori negara miskin, namun
sebagai
medium income country.
Berdasarkan data PBB, pendapatan perkapita
Suriname tahun 2006 adalah US$ 4.100
|
|
|
|
2. |
Sektor-sektor Ekonomi |
|
|
a.
Pertanian
Suriname merupakan salah satu
negara pengekspor beras dan pisang terbesar di
wilayah Karibia. Wilayah Suriname seluas 163.265
km2, dengan komposisi 161.465 km2 daratan dan
1.800 km2 perairan. Lebih dari 85% tanah
Suriname masih berupa hutan, dan lahan pertanian
baru 0,4% dari total luas wilayah. Suriname
memiliki 95.000 hektar arable land,
15.000 hektar padang rumput dan 7000 hektar
permanent crops.
Stichting Machinale Laandbouw
(SML) merupakan perusahaan negara yang
memproduksi beras. Lahan produksi padi SML
adalah 50.000 hektar; konsumsi beras nasional
Suriname per bulan adalah 3.000 metrik ton,
sedangkan produksinya adalah 4 metrik ton per
hektar, atau total produksi sekitar 200.000
metrik ton. Tujuan ekspor beras Suriname adalah
negara-negara Caricom dan Eropa.
Perusahaan pisang Negara,
Surland, sebelum bermasalah berproduksi 20.000
boks pisang per minggu, dan menyumbang devisa
sebesar US$ 300.000 per minggu. Namun sejak
bulan Maret 2002, Surland tidak beroperasi
karena mismanajemen. Pada bulan Maret 2004,
perusahaan Surland telah mengekspor kembali ke
pasar Eropa (Perancis).
b. Perunggasan
Sekitar 90% ayam impor merupakan konsumsi sektor
komersial seperti hotel-hotel dan
restauran-restauran, dan bukan untuk konsumsi
rumah tangga. Konsumsi rumah tangga lebih
menyukai ayam lokal. Dengan konsumsi 40 kg
perkapita, Suriname dipandang sebagai konsumen
tertinggi di wilayah Karibia, bahkan lebih besar
daripada AS, Venezuela dan Kuba. Di samping itu,
Suriname memiliki bea impor ayam dan
produk ayam paling rendah di wilayah Karibia
yaitu hanya 10%. Sementara negara di kawasan
Karibia mengenakan tariff bea masuk sedikitnya
40%.
c.
Perikanan
Ekspor udang Suriname mencapai
1.000 ton per tahun.
Sektor perikanan Suriname
merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar
(4% dari GNP), senilai US$ 47 juta. Namun,
Suriname tidak memiliki cukup banyak ahli dan
pengetahuan di sektor perikanan untuk
mengeksploitasi sumber-sumber daya perikanannya.
Pada
bulan Maret 2007, Uni Eropa malarang impor udang
dari Suriname karena belum ada lembaga pengawas
standar atas produk tersebut di Suriname.
d. Kehutanan
Suriname memiliki hutan hujan tropis yang belum
dijamah seluas 85% dari wilayah Suriname, dengan
sekitar 12 wilayah konservasi hutan dengan luas
sekitar 1,8 juta hektar atau 11,6% dari seluruh
wilayah Suriname. Hutan Suriname menghasilkan
sejumlah kayu berkualitas. Di antara jenis kayu
yang terkenal adalah jenis kayu keras seperti
Bruinhard, Purplehard dan
Zwartekabes yang merupakan sumber devisa
negara. Ekspor kayu keras tropis yang pernah
diproduksi oleh perusahaan kayu milik negara
Bruynzeel di daerah Suriname Barat, telah
merosot akibat perang saudara pada pertengahan
tahun 1980-an. Perusahaan kayu negara ini mulai
tahun 2003 dalam proses privatisasi, namun
sampai tahun 2007 ini belum berhasil.
Produksi kayu mengalami puncaknya pada tahun
1990 sebesar 333.000 m3 di mana 59.000 m3 telah
diekspor.
Kebijakan pemerintah Suriname di sektor
kehutanan dan perkayuan ditekankan pada upaya
peningkatan produksi dari 200.000 m3 menjadi
2.000.000 m3 per tahun.
Lahan yang tersedia untuk produksi kayu
adalah seluas empat juta hektar.
e. Pertambangan
Suriname merupakan produsen
bauksit ke-8 terbesar dunia, dengan produksi
sekitar 3,2% dari total produksi dunia pada
tahun 1998. Bauksit diproses di Suriname untuk
menghasilkan alumina. Alumina dan aluminium
merupakan produk penting bagi perekonomian
Suriname, yang menyumbang ebih dari 60% dari
pemasukan ekspor.
Bauksit Suriname diolah oleh dua
perusahaan bauksit, yakni Suriname Aluminium
Company
(Suralco) yang merupakan cabang perusahaan
bauksit Amerika Aluminium Company of America
(Alcoa) dan Billiton Maatscappij Suriname
(BMS), yang sebelumnya merupakan bagian dari
grup Shell dan kemudian dijual kepada GenCorp
dari Afrika Selatan pada tahun 1994.
Ekspor aluminium telah menyumbang
lebih dari 30% total nilai ekspor Suriname.
Namun, pada tahun 2002, pendapatan Suriname dari
bauksit merosot tajam, yaitu 21% lebih rendah
daripada pendapatan tahun 2001. Penyebab
utamanya adalah kelebihan aluminium di pasar
dunia.
f.
Tarif layanan publik
Beberapa jasa layanan
masyarakat/publik menaikkan tarif layanannya,
seperti rumah sakit, listrik, telepon dan bahan
BBM yang berdampak pula pada naiknya harga
kebutuhan pokok. Rumah Sakit Universal Hospital
Suriname mulai tanggal 15 Agustus 2003, telah
menaikkan tarif per harinya. Untuk Kls III,
tarifnya baik dari SRD 140 menjadi SRD 175
hari. Perusahaan Telekomunikasi Suriname
(Telesur) telah menyesuaikan tarif pulsa telepon
berdasarkan nilai tukar SRD terhadap US$ yang
ditetapkan Bank Sentral Suriname. Pada
September 2005 pemerintah memutuskan untuk
menaikkan harga BBM sebesar 100%, dan
mekanismenya kemudian diserahkan kepada pasar
untuk disesuaikan per bulan. Saat ini (2007)
harga bensin per liter rata-rata adalah SRD 2,76
(1 US$). |
|
|
|
VI. SOSIAL BUDAYA DAN PENERANGAN |
|
|
Suriname adalah negara yang
masyarakatnya merupakan komposisi multi etnis,
terdiri dari suku Hindustan (India), Kreol dan
Bushnegro
(Afrika), Jawa (Indonesia), Amerindian, Cina dan
etnis lainnya. Kemajemukan latar belakang
budaya dan peradaban nenek moyang masyarakat
Suriname telah mewarnai khasanah budaya
Suriname. Kebudayaan masyarakat Suriname juga
dipengaruh budaya Eropa (Belanda), Amerika
Serikat, Karibia dan negara Amerika Latin
lainnya, yang terkenal dengan kebebasannya.
Pengaruh kebebasan telah mendominasi seluruh
aspek kehidupan rakyat Suriname.
Di bidang hiburan, TV dinilai
lebih menarik terutama bagi kawula muda. TV
sering menayangkan drama atau komedi rakyat
dalam bahasa setempat (sranan tongo/taki-taki)
dan hiburan campursari terutama di TV Garuda
Suriname/GTV (milik turunan Jawa), TV
Mustika/MTV (milik turunan Jawa), TV Pertjatjah
(milik keturunan Jawa) dan SkyTV (milik turunan
Hindustan). Untuk konsumsi orang orang-orang
asing, ATV sering menampilkan
Caribbean News dalam bahasa Inggris. Jumlah
stasiun radio 15 pemancar dan stansiun televisi
16 pemancar. Film-film Indonesia sering
ditampilkan di GTV, SKY TV, MTV hampir setiap
hari. Hiburan musik dalam acara tembang kenangan
ditampilkan MTV setiap minggu sekali dan hiburan
warna-warni di GTV dan MTV. Ke tiga TV itu
telah bekerjasama dengan KBRI Paramaribo.
Sedangkan Radio Garuda, Bersama
dan Pertjajah menyiarkan berita-berita
tentang Indonesia dan lagu-lagu berbahasa
Indonesia yang dibawakan oleh para pengajar
kursus bahasa Indonesia di KBRI Paramaribo.
Bahkan bagi lulusan siswa peserta kursus terbaik
telah diberikan kesempatan untuk membacakan
berita-berita mengenai Indonesia dalam acara
warta berita. |
|
|
|
VII. ANALISA SINGKAT: POLITIK,
EKONOMI, SOSIAL BUDAYA, PENERANGAN, HANKAM, DAN
PERAN SURINAME DI KAWASAN REGIONAL /
INTERNASIONAL |
|
01. Analisa Politik
Pemerintahan partai NF+ (New
Front Plus) pimpinan Presiden Runaldo Ronald
Venetiaan yang dikenal berkharisma pragmatis
serta piawai dalam membina kesatuan dan
persatuan di kalangan anggota pemerintah,
menunjukkan keseriusan untuk menciptakan
perbaikan di berbagai bidang, memenuhi harapan
rakyat banyak bagi realisasi nyata pembangunan,
khususnya di bidang politik, ekonomi, sosial
budaya, keamanan, dan penerangan. Keberhasilan
Presiden Venetiaan dalam menjaga kekompakan di
kalangan anggota pemerintah dan menjalin
hubungan baik dengan parlemen, merupakan
kekuatan bagi pemerintahan NF+ dalam menghadapi
berbagai tantangan dan tekanan dari lawan-lawan
politiknya (kelompok oposisi).
Kemampuan pemerintah dalam
mengendalikan gejolak-gejolak politik, sosial
dan menciptakan rasa aman bagi rakyat banyak
ini, telah menjadi faktor pendukung utama bagi
pelaksanaan pembangunan di bidang ekonomi,
perdagangan, pariwisata, sosial dan budaya.
Kondisi demikian telah pula ikut mendorong
peningkatan investasi asing ke Suriname sejak
awal tahun 2003, khususnya dari India dan China,
dan peningkatan pertumbuhan ekonomi, serta
mengembalikan stabilitas moneter dan penekanan
inflasi.
Kekompakan kelompok koalisi NF+,
yang berhasil dibina dan dipelihara Presiden
Venetiaan, tidak berarti bebas dari masalah yang
bergejolak dalam tubuh NF+ sendiri. Kalau pihak
oposisi berupaya mendiskreditkan pemerintah dan
berupaya meraih kembali kekuasaan dari NF+, maka
gejolak yang terjadi di tubuh internal NF+ lebih
banyak dilatarbelakangi oleh rasa tidak puas
dalam hal pemerataan rejeki / keadilan pembagian
kesempatan, jabatan, fasilitas, proyek dan
kepentingan lainnya dari masing-masing partai
politik (parpol) untuk memperoleh posisi lebih
dominan dalam tubuh NF+, seperti yang terungkap
dari pernyataan masing-masing pimpinan parpol
anggota NF+.
Dalam rangka mempertahankan
kekuasaan dan melanjutkan program-program
pembangunan pemerintah koalisi NF+ periode lima
tahun berikutnya (Agustus 2005 – Agustus 2010),
parpol koalisi NF+ harus berjuang mengerahkan
segala daya kekuatannya untuk menghadapi
tantangan berat dari gabungan parpol-parpol
oposisi NDP (Nationale
Democratische Partij), DNP-2000 (Democratic
Nationaal Partij), dan A-1 (Alternatieve).
Hasilnya adalah NF+ meraih kembali kekuasaannya
melalui pemilu legislatif serta pemilihan
presiden dan wapres pada tahun 2005. Hal itu
tidak lepas dari keberhasilan Presiden Ronald
Venetiaan yang secara arif bijaksana terus
berupaya mempertahankan kekompakan dan kerjasama
di kalangan anggotanya.
Masalah yang masih menjadi
ganjalan hingga saat ini adalah mengenai tragedi
berdarah 8 Desember 1982, yaitu pembunuhan 15
orang tokoh politik, agama dan pemuka masyarakat
oleh kelompok militer yang diduga dipimpin oleh
Desi Bouterse (Ketua parpol oposisi NDP). Pihak
oposisi NDP (peraih suara terbanyak pemilu
legislatif tanggal 25 Mei 2005), pada saat
demonstrasi pada bulan Oktober 2005 pernah
menyampaikan ancaman kepada pemerintah dan
khususnya secara pribadi kepada Presiden Ronald
Venetiaan, bahwa tidak akan ada proses
pengadilan atas dirinya apabila pemerintah
mencintai Suriname. Apa yang terjadi pada
tanggal 8 Desember 1982, adalah resiko suatu
perang internal. Situasi terakhir saat ini,
Ketua Parlemen Paul Somohardjo menyatakan tidak
akan menanggapi tuntutan pihak oposisi NDP untuk
memasukkan dalam agenda sidang tentang amnesti
berkaitan dengan peristiwa 8 Desember 1982
tersebut, karena amnesti adalah pemberian
ampunan kepada pelaku suatu tindak kejahatan
yang telah diputuskan bersalah dan berkekuatan
hukum tetap oleh pengadilan.
Selain itu, pemerintah Suriname
juga menghadapi berbagai kendala dalam masalah
penegakan supremasi hukum. Hal itu disebabkan
terbatasnya jumlah hakim dan jaksa, ruang dan
peralatan sidang, kualitas dan kapasitas rumah
tahanan. Saat ini, Suriname dijadikan jalut
internasional lalu lintas narkoba, khususnya
jalur cocaine
dan heroine dari Kolombia, Brasil, dan
Venezuela untuk para konsumen internasional,
terutama di Belanda. Menurut informasi, setiap
tahun tidak kurang dari 10 ton cocaine
Kolombia masuk secara gelap ke Suriname untuk
dikirim ke luar negeri (Belanda). Menurut
laporan UNODC (United Nations Office for Drug
and Crime), Suriname merupakan salah satu dari
sedikit negara yang sebagian besar narkoba-nya
(80%) diselundupkan ke Eropa, terutama Belanda.
Sedangkan yang dikirim ke pasar AS sekitar 20%.
Mengingat masalah narkoba di Suriname sudah
sangat berbahaya dan mengkhawatirkan, diperburuk
lagi dengan keterlibatan oknum-oknum militer,
Presiden Ronald Venetiaan telah memberikan ijin
kepada Menteri Kehakiman dan Kepolisian untuk
membentuk Crime Fund. Drug Enforcement
Agency AS telah menempatkan wakil tetapnya
di Kedubes AS Paramaribo, dan Belanda
menempatkan Police Liaison di Kedubes
Belanda Paramaribo. Sebagian besar penjahat
narkoba adalah dari etnis Kreol (di antara
mereka ada yang terkenal dan dijuluki Pablo
Escobar Suriname) dan Hindustan. Namun ada
pula etnis Jawa, 7 (tujuh) orang di antaranya
sudah ditangkap.
Dalam kaitannya dengan masalah
perbatasan Suriname-Guyana, Suriname telah
menghentikan secara sepihak aktivitasnya dalam
sub-komisi bersama masalah perbatasan tersebut
sebagai protes terhadap tindakan Guyana yang
aktif mempublikasikan peta ke dua negara versi
Guyana. Peta versi Guyana tersebut memasukkan
wilayah perbatasan yang dipersengketakan ke dua
negara di Corentijn River. Keberadaan sub-komisi
tersebut merupakan salah satu butir isi Joint
Statement hasil kunjungan Presiden Guyana,
Bharrat Jagdeo, ke Suriname tanggal 28-30
Januari 2002. Suriname juga menolak untuk
melanjutkan perundingan melalui komisi bersama
mengenai perbatasan ke dua negara. Karena tidak
sabar menunggu berlarut-larutnya penyelesaian
sengketa perbatasan, Guyana secara sepihak dan
dengan mengacu pada pasal 287 dan Annex VII
Konvensi Hukum Laut PBB (diratifikasi Guyana
tahun 1994) menyampaikan pengaduan kepada PBB
dan ITLOS (International Tribunal on the Law of
the Sea) di Hamburg, Jerman, tanggal 25 Februari
2004. Tindakan Guyana tersebut mengagetkan
Suriname dan menimbulkan reaksi keras dari
berbagai kalangan terhadap pemerintah Presiden
Ronald Venetiaan, yang dianggap gagal
mengantisipasi tindakan sepihak Guyana.
Sebenarnya pemerintah Suriname menginginkan
penyelesaian melalui jalur diplomatik ke dua
negara. Namun karena sudah terjadi, tidak ada
pilihan bagi Suriname kecuali mengikuti proses
penyelesaian melalui arbitrasi ITLOS, yang
prosedurnya tidak mudah dan membutuhkan banyak
biaya. Diharapkan sesuai janji ITLOS, putusan
sudah dapat diperoleh sebelum Agustus 2007.
02. Analisa Ekonomi
Sejak tahun 2004, pemerintah
Suriname telah melakukan berbagai upaya dalam
rangka memperbaiki kinerja ekonomi pemerintahan.
Untuk memperbaiki kinerja fiskal, anggaran dan
administrasi perpajakan, pemerintah telah
meluncurkan program pengetatan kelembagaan.
Untuk memperkuat sistem keuangan, peraturan
mengenai pengawasan perbankan telah disetujui
Bank Sentral Suriname (Centrale Bank van
Suriname – CBvS) dan memberlakukan peraturan
mengenai money laundering.
Dalam rangka menciptakan
stabilitas mata uang dan persiapan memasuki
kawasan perdagangan bebas di wilayah Karibia
(CSME/Caribbean Single Market & Economy) dan
FTAA (Free Trade American Area), pemerintah
memberlakukan kebijakan penghapusan tiga nol di
belakang mata uang Suriname (Suriname
Guilder/SF) atau
operation scrapping three zeros mulai
tanggal 1 Januari 2004 dengan mengubah mata uang
SF tersebut menjadi SRD (Suriname Dollar).
Stabilitas mata uang yang terjaga (US$ 1 = SRD.
2,7) dan tumbuhnya kepercayaan masyarakat
terhadap SRD, mendorong bank-bank seperti DSB
(De Surinamese Bank) Bank per 1 September 2004
menurunkan tingkat bunga pinjaman dari 22%
menjadi 17%. Langkah tersebut dimaksudkan,
terutama untuk mendorong investasi di Suriname.
Dalam memenuhi kebutuhannya,
Suriname melakukan impor barang-barang kebutuhan
dari negara-negara lain, sehingga nilai impor
Suriname lebih besar daripada nilai ekspornya.
Produk utama yang diimpor Suriname, antara lain
bahan bakar minyak, katun, tepung, daging, susu,
makanan, bahan mentah dan bahan setengah jadi,
mesin-mesin, alat transportasi dan consumer
goods. Mitra utama impor ke Suriname adalah
AS, Belanda, Trinidad-Tobago, Brasil, dan
Jepang.
Pemerintah Suriname dalam upaya
mendorong produktivitas, juga meminta kerjasama
dan perhatian organisasi-organisasi bisnis,
seperti KKF (Kamer van Koophandel en Fabrieken)
atau Kadin, VSB (Vereniging Surinaams
Bedrijsleven) atau Asosiasi Perdagangan dan
Perindustrian Suriname, ASFA (Associatie van
Surinaamse Fabrikanten) atau Asosiasi Pengusaha
Manufaktur Suriname, dan AKMOS atau Organisasi
Pengusaha Kecil dan Menengah Suriname.
Pendapatan pemerintah Suriname
sebagian besar ditopang oleh sektor pertambangan
baik minyak, bauksit, maupun emas. Sementara
dari sektor pertanian, hasil laut dan kehutanan
belum begitu menggembirakan. Perikanan merupakan
salah satu penyumbang devisa terbesar sekitar
US$ 91,6 juta tahun 2003 (sumber: Kementerian
Pertanian, Peternakan, dan Perikanan). Namun
Suriname tidak memiliki cukup banyak ahli dan
pengetahuan di sektor perikanan untuk
mengeksploitasi sumber-sumber daya perikanan
senilai US$ 47 juta dimana sebagian besar
diekspor ke Jepang, USA, Eropa, dan
negara-negara CARICOM. Untuk memanfaatkan
sumber-sumber daya alamnya guna membangun
negara, pemerintah telah melakukan kerjasama
dengan Cambior melalui penandatangan perjanjian
dengan perusahaan penambangan emas Kanada
tanggal 13 Maret 2003. Pemerintah Suriname
berharap lebih banyak lagi perjanjian kerjasama
dalam sektor tambang emas dengan
investor-investor asing. Saat ini, selain
Cambior telah ada Suralco di Nassau, Grassalco
dan Canarc di Benzdorp. Canarc memperkirakan 20
juta ons cadangan emas di Benzdorp.
Bauksit diproduksi oleh 2 (dua)
perusahaan, yaitu Suralco (Suriname Alumunium
Company) yang merupakan cabang perusahaan
bauksit Amerika Alcoa (Alumunium Company of
America) dan BMS (Billiton Maatscappij
Suriname), yang sebelumnya merupakan bagian dari
kelompok Shell dan kemudian dijual kepada
GenCorp dari Afrika Selatan pada tahun 1994.
Pada tanggal 6 Januari 2003, pemerintah telah
mencapai persetujuan dengan Suralco dan
BHP-Billiton mengenai pengembangan sektor
bauksit di Suriname Barat melalui
penandatanganan Letter of Intent
sesuai dengan MOU. Selanjutnya draf perjanjian
mengenai eksplorasi di Suriname Barat telah
disetujui parlemen tanggal 12 Juni 2003,
sehingga otorisasi pemberian konsesi eksplorasi
untuk BHP-Billiton dan Suralco telah disahkan.
Pada tahun 2004 ekspor alumunium telah
menyumbang lebih dari 30% dari total nilai
ekspor Suriname per tahunnya, dan telah
mentransfer kepada negara sekurang-kurangnya US$
25 juta di mana US$ 12 juta merupakan kontribusi
dalam bentuk pajak. Norwegia merupakan salah
satu pembeli bauksit terbesar dari Suriname,
sehingga dinilai sebagai salah satu mitra dagang
terpenting.
Pada sektor investasi, masih
banyak yang harus dibenahi. Hal tersebut
tercermin dari laporan UNCTAD (UN Conference on
Trade and Development) mengenai Iklim
Investasi Dunia yang menyebutkan, bahwa
peringkat Suriname masih berada pada peringkat
bawah yaitu 143 dari 161 negara, sehingga
meskipun Suriname dianggap memiliki sumber daya
alam yang cukup besar, Suriname masih tergolong
sebagai negara termiskin ke tiga di wilayah
Karibia. Diperkirakan jumlah penduduk Suriname
yang tergolong di bawah garis kemiskinan sekitar
65% dari total penduduk Suriname. Berdasarkan
gambaran yang disusun oleh Kementerian
Perencanaan dan Pembangunan Suriname, dari
investasi Suriname tahun 2005 - 2010 termasuk
dana yang berdasarkan komitmen negara-negara
mitra mencapai US$ 522 juta. Dana-dana ini akan
dialokasikan untuk sektor kesehatan, pendidikan,
lingkungan hidup, perumahan, energi, pariwisata
dan infrastruktur. Negara-negara dan organisasi
internasional yang telah memberikan komitmennya,
antara lain Belanda, China, Uni Eropa, UNDP, dan
IADP (Inter-American Development Bank).
03. Analisa Sosial
Budaya
Pemerintah Suriname menunjukkan
besarnya perhatian dan upaya untuk menciptakan
keseimbangan antara pembangunan di bidang
politik dan ekonomi dengan pembangunan di bidang
sosial budaya. Hal tersebut berdasarkan
pertimbangan, bahwa pembangunan di bidang
politik dan ekonomi harus ditopang dengan
pembangunan di bidang-bidang lainnya, seperti
pendidikan, pelayanan kesehatan, penyediaan
perumahan rakyat, pelayanan terhadap warga
manula dan terlantar, perbaikan kondisi sosial
masyarakat miskin di wilayah pedalaman,
pengembangan potensi seni budaya kawasan Karibia
dan multietnis.
Pemerintah berupaya
menumbuhkembangkan potensi seni budaya Karibia
dan integritas seni budaya multietnis
(Amerindian, Kreol, Jawa, Hindustan, China,
Oriental dan Eropa) sebagai identitas budaya
nasional Suriname. Upaya tersebut juga
dimaksudkan untuk menarik wisatawan asing dari
mancanegara, khususnya Belanda dan negara-negara
sekawasan Amerika dan Karibia. Pemerintah juga
mendukung penyelenggaraan HUT masing-masing
kelompok keturunan imigran yang menjadi
komposisi masyarakat Suriname.
Pemerintah juga memberikan
perhatian cukup besar agar warga Suriname
mendapatkan bimbingan keagamaan dan budi pekerti
yang mencukupi dalam upaya membekali warga
dengan mentalitas serta kepribadian yang dapat
menunjang partisipasi warga dalam membangun
bangsa. Untuk itu, pemerintah memberikan
kebebasan total dalam masalah pilihan agama,
kepercayaan atau tidak beragama, kepada setiap
warga, sejauh dapat membaur secara rukun antar
mereka dan tidak mengancam kepentingan warga
lainnya atau kerukunan nasional. Dalam hal ini,
pemerintah membuka pintu bagi Da’i Islam,
Misionaris, dan agama lainnya dari mancanegara,
termasuk Indonesia, untuk memberikan pengajaran
keagamaan kepada rakyat Suriname, karena masih
banyak yang belum mengenal agama atau belum
menjalankan kewajiban agamanya sesuai dengan
ketentuan masing-masing agama yang diyakininya.
Agama Islam merupakan terbesar ketiga di
Suriname setelah agama Kristen dan Hindu.
Masalah lainnya yang juga memerlukan perhatian
adalah kasus-kasus bunuh diri di kalangan
remaja, yang kebanyakan warga keturunan
Hindustan. Pada bulan Oktober 2005, ditemukan
bukti-bukti bahwa diantara mereka yang
mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri tersebut
ada kaitannya dengan aliran sekte Setan. Aliran
ini secara terselubung telah mengembangkan
aktivitasnya di Suriname, dan banyak pengikutnya
yang telah menjadi korban.
Di bidang kesehatan, pemerintah
terus melakukan upaya maksimal memberantas wabah
penyakit menular, seperti HIV/AIDS dan penyakit
kelamin. Menurut informasi, pada pertengahan
bulan Oktober 2005, Suriname pernah menjadi
korban nyamuk demam berdarah, puluhan korban
harus dirawat di rumah sakit dan sedikitnya 8
(delapan) orang meninggal dunia. Untuk
memberikan penyuluhan mengenai virus menular
demam berdarah, pihak terkait Suriname meminta
bantuan KBRI Paramaribo untuk menerjemahkan buku
komik
Penyuluhan Demam Berdarah
(berbahasa Indonesia) ke dalam Bahasa Belanda.
Kemudian untuk meningkatkan kualitas pelayanan
kesehatan masyarakat pedesaan, Suriname juga
berkeinginan mendapatkan bantuan kerjasama serta
tukar pengalaman dengan Indonesia.
Masalah sosial yang masih
memerlukan perhatian pemerintah Suriname adalah
masalah tuntutan penyesuaian skala gaji dan
tunjangan bagi pegawai negeri, khususnya guru,
sebagai kompensasi penurunan daya beli
masyarakat akibat kecenderungan naiknya
harga-harga kebutuhan pokok, termasuk harga
bensin. Situasi terakhir adalah pro dan kontra
penutupan judi kasino.
04. Analisa
Penerangan
Konsistensi kebijakan pemerintah
dalam penerapan kebebasan pers dan informasi
yang bertanggung jawab serta dukungan terhadap
perluasan informasi dan teknologi (IT), nampak
telah mendorong berkembangnya penyediaan sarana
dan prasarana IT, media cetak, radio dan
televisi, yang longgar sensor namun bertanggung
jawab. Selain itu, masyarakat juga bebas untuk
memilih sumber informasi sesuai kepentingan
masing-masing. Dalam bulan Maret 2007,
diresmikan stasiun baru televisi Pertjajah Luhur
(milik Ketua Perjajah Luhur/Ketua Parlemen, Paul
Salam Somohardjo) di kota Nieckeri (kota
terbesar kedua di Suriname setelah Paramaribo).
Disamping fungsinya sebagai
penyedia sarana informasi publik, pemerintah
terus melakukan perbaikan sarana dan prasarana
informasi media massa, baik cetak maupun
elektronik, untuk kegiatan sosial, penyuluhan
bagi masyarakat umum yang berkaitan dengan
masalah politik, ekonomi, sosial budaya,
pendidikan, keamanan, dan lain-lain. Juga
terlihat adanya peningkatan penyediaan sarana
layanan internet di tempat-tempat umum, bukan
saja untuk masyarakat setempat, juga untuk
memenuhi kebutuhan para wisatawan dari
mancanegara yang terus meningkat.
05. Analisa Hankam
Pemerintah Suriname secara
bertahap terus berupaya meningkatkan kemampuan
dan fungsi hankamnya. Upaya tersebut tidak
menyurut sekalipun Suriname sedang menghadapi
sanksi bantuan kerjasama militer AS akibat dari
penandatanganan Rome Statute pembentukan
ICC (International Criminal Court) dan tidak
menandatangani perjanjian bilateral untuk
memberikan kekebalan bagi penjahat perang AS
terhadap ICC. Selain itu, Suriname juga perlu
melindungi segenap wilayah teritorialnya dari
ancaman invasi dan agresi pihak asing, khususnya
Guyana, berkaitan dengan masalah sengketa
perbatasan darat dan laut. Guyana dinilai telah
melanggar kedaulatan Suriname dengan menguasai
wilayah Suriname bagian barat daya (segitiga
Tigri sejak 1973) dan mengkleim secara illegal
wilayah Suriname di perairan Corentijn River.
Oleh sebab itu, Suriname melipatgandakan
penjagaan keamanan di wilayah yang
dipersengketakan tersebut, apalagi setelah
Guyana mengadukannya ke ITLOS (International
Tribunal on the Law of the Sea) yang bermarkas
di Hamburg, Jerman.
Upaya pemerintah di bidang hankam
juga ditujukan untuk memberikan rasa aman kepada
masyarakat, terutama dari tindak kejahatan
bersenjata di daerah-daerah pedalaman (Distrik
Brokopondo) yang mayoritas pelakunya adalah
imigran gelap dari Brasil dan Jamaica.
Intensitas peningkatan hankam
melalui kerjasama dengan Belanda dan AS juga
dalam kerangka menjamin keamanan nasional,
khususnya mencegah dijadikannya Suriname sebagai
tujuan atau salah satu pusat gerakan terorisme
internasional, mengatasi imigran gelap ke dan
dari Suriname, termasuk jaringan penyelundupan
narkoba. Penguatan hankam juga dimaksudkan untuk
menegakkan supremasi hukum dalam menindaklanjuti
kasus-kasus pidana yang menyangkut anggota
pemerintah rejim lama, khususnya tragedi
berdarah 8 Desember 1982 di mana mantan Komando
Revolusi/Pangab, Desi Bouterse, sebagai
tersangka utama.
Sistem peradilan di lembaga hukum
Suriname masih menggunakan sistem peradilan
warisan Belanda, yaitu menerapkan sistem Jaksa
Penuntut dan Tim Juri pengadilan tunggal. Sistem
peradilan ini juga menjadi penghambat bagi
Suriname untuk dapat langsung akses memanfaatkan
jasa pengadilan Organisasi Antar Negara Kawasan
Karibia CCJ (Caribbean Court of Justice).
06. Analisa Peran
Suriname: Regional / Internasional
Sebagai negara yang menjunjung
tinggi prinsip kerjasama dan solidaritas antar
negara-negara anggota kawasan Karibia CARICOM
(Caribbean Community and Common Market),
Suriname tidak begitu mudah mengkhianati
kesepakatan yang telah diambil bersama pada KTT
ke-24 CARICOM dan HUT ke-30 tanggal 2 - 3 Juli
2003 di Montego Bay, Jamaica, mengenai komitmen
posisi negara-negara Karibia menghadapi sanksi
pembekuan bantuan kerjasama militer dengan AS
untuk mendukung Rome Statute pembentukan ICC
(International Criminal Court), yang salah satu
pemrakarsanya adalah Trinidad & Tobago (anggota
CARICOM). Dalam hal ini, Suriname menolak
bujukan AS untuk menandatangani perjanjian
bilateral terpisah dengan maksud menjamin
kekebalan para penjahat perang AS dari jeratan
hukum ICC. Dampaknya, Suriname tidak keberatan
menerima resiko sanksi tidak cairnya bantuan
kerjasama militer AS
Sekalipun tergolong small
country dan Negara berkembang, Suriname
menunjukkan keaktifannya dalam proses
regionalisme dan globalisme di berbagai aspek
social, informasi, pendidikan, pemuda dan olah
raga, kebudayaan, khususnya di bidang ekonomi
dan perdagangan. Meskipun terkesan lamban,
Suriname terus berupaya memenuhi
persyaratan-persyaratan yang diperlukan untuk
menuju proses tersebut. Sebagai anggota CARICOM,
Suriname terus menyiapkan diri menghadapi FTAA
(Free Trade Area of the American) dan aktif
terlibat pada perundingan-perundingan
pembentukan CSME (CARICOM Single Market and
Economy) yang resmi dibentuk bulan Januari 2006
di Jamaica dan diharapkan implementasinya dapat
berjalan secara penuh pada tahun 2008, tidak
sekedar menjadi FTA (Free Trade Area), namun
lebih berupa pasar dan ekonomi tunggal (Single
Market and Economy). Melalui pembentukan CSME,
negara-negara anggota tidak hanya menikmati
penghapusan hambatan tarif dan perlakuan khusus,
tetapi juga adanya harmonisasi rejim social dan
pajak. Untuk mencapai kondisi ideal ini, CARICOM
telah menyiapkan dana sebesar US$ 70 juta untuk
digunakan dalam jangka waktu 10 tahun.
Suriname dibawah Presiden Runaldo
Ronald Venetiaan pernah mendapat giliran (6
bulan sekali) sebagai Ketua CARICOM dan
menyelenggarakan KTT ke-27 CARICOM di Suriname
tanggal 14 -15 Februari 2005, yang dihadiri
seluruh 15 anggotanya, kecuali Haiti yang
pergantian pemerintah dan pimpinan nasionalnya
melalui kudeta dukungan AS, masih belum mendapat
pengakuan dari para anggota CARICOM. Disamping
itu, Suriname juga aktif mengambil manfaat
kerjasama kemitraan ACP
(African-Caribbean-Pacific) - EU (European
Union) dalam kerangka Cotonou Agreement.
Namun dalam kerangka kerjasama CCJ (Caribbean
Court of Justice), Suriname belum dapat
sepenuhnya menjadi anggota aktif, mengingat
Suriname harus menyesuaikan perangkat hukum dan
sistem penegakan dan pelaksanaan peradilan,
karena Suriname masih berpegang pada system
proses peradilan oleh hanya seorang
jaksa/hakim/juri peradilan.
Di tingkat kerjasama antar
negara-negara Amerika Selatan (Amsel), Suriname
aktif mengambil manfaat dari kelompok integrasi
kawasan ini, khususnya dengan Brasil, sebagai
terobosan untuk menghindari ketergantungan
kerjasama dengan mitra-mitra tradisionalnya yang
dinilai Suriname lebih banyak merongrong
daripada membantu. Manfaat yang bisa diambil
oleh Suriname dengan kerjasama Amsel tersebut,
terutama Brasil dan Venezuela, adalah dalam
rangka peningkatan keamanan kawasan, terutama
dalam menangani masalah imigran gelap dari dan
ke Suriname, sekaligus mengantisipasi
dijadikannya Suriname sebagai basis perdagangan
narkoba dan ancaman terorisme internasional.
Sebagai wujud keaktifan sebagai
anggota Organisasi Negara-negara Amerika (OAS),
Albert Ramdien terpilih sebagai Asisten Sekjen
OAS bulan Mei 2005, berkedudukan di New York.
Khusus mengenai keanggotaannya
dalam OKI (Organisasi Konperensi Islam),
Suriname belum dapat aktif berperan, karena
Muslim di Suriname merupakan minoritas (sekitar
20%) dan keanggotaannya di OKI lebih banyak atas
bantuan dan dukungan Indonesia. Namun sejak
tahun 2004, terdapat indikasi besarnya minat
Suriname untuk memanfaatkan bantuan IDB (Islamic
Development Bank) dalam upaya membiayai beberapa
proyek pembangunan dalam negeri, termasuk dalam
rangka peningkatan kapasitas tenaga listrik
nasional dan pelayanan kesehatan di pedesaan. |
|
|
|
VIII. LAIN-LAIN |
|
1. |
Kedutaan Besar |
|
|
America Serikat |
: |
Sophie Redmondstraat 129 Telp.
472900,471229472432 fax. 410972 |
|
|
Belanda |
: |
Van Roseveltkade 5 Telp.
477211,473433 fax. 477792 |
|
|
Brasil |
: |
Maratakkastraat 2 Telp.
400200,400202 fax. 400205 |
|
|
China |
: |
Antondragtenweg 154 Telp.
451570,451210 fax. 452540 |
|
|
Guyana |
: |
Henk Arronstraat 82 Telp.
477895,472509 fax. 472679 |
|
|
India |
: |
Rode Kruislaan 10 Telp.
498018,498334/ fax. 491106 |
|
|
Perancis |
: |
Henk Arronstraat 7 Telp. 476455
fax. 471209 |
|
|
Venezuela |
: |
Henk Arronstraat 23-25 Telp.
411040,475401/ fax. 475602 |
|
|
|
|
|
|
2. |
Konsul Kehormatan |
|
|
Belgia |
: |
Domineestraat 32 Telp. 472545
fax.410563 |
|
|
Canada |
: |
Waterkant 90-94 Telp. 481222
fax.475718 |
|
|
Chili |
: |
Wagenwegstraat 49 Boven Telp.
425772/425215 |
|
|
Columbia |
: |
Zwartenhoveburgstraat 71 Telp.
420900 fax. 472666 |
|
|
Denmark |
: |
Waterkant 92 Telp. 471222
fax.475718 |
|
|
Jerman |
: |
Maagdenstraat 46 Telp.
474380,421750 fax 471507 |
|
|
Inggris dan Irlandia
Utara |
: |
Van't
Hogerhuysstraat 9-11 Telp. 402870 fax 403824 |
|
|
Grenada |
: |
Via Bellalaan 1 Telp. 497922 fax
434141 |
|
|
Haiti |
: |
Waterkant 12 Telp. 473838,472672
fax. 477750 |
|
|
Israel |
: |
Klipstenenstraat 2 - 10 Telp.
411998 fax.471154 |
|
|
Italia |
: |
Cornelis Jongbouwstraat 20-28
Telp. 473344 fax.471201 |
|
|
Jamaika |
: |
Herenstraat 15 (Carimeco) Telp.
479210 fax.479268 |
|
|
Korea Selatan |
: |
Indira Ghandiweg Br. 125 Telp.
484747 |
|
|
Lebanon |
: |
Zwartenhovenbrugstraat 24 Telp.
475962 fax.485166 |
|
|
Meksiko |
: |
Suralco Paranam Telp. 0323281
ext.380 fax.0323314 |
|
|
Norwegia |
: |
Van
Roosmalenstraat 30 Telp.
472275,477805 fax. 474408 |
|
|
Portugal |
: |
Domineestraat 34 Telp. 473512 fax
472473 |
|
|
Spanyol |
: |
Henk Arronstraat 42 – 44 Telp.
472965 |
|
|
Swedia |
: |
Henk Arronstraat 26 – 30 Telp.
471100 fax.411750 |
|
|
Trinidad and Tobago |
: |
Coppenamestraat 158 Telp. 400326,
463201 fax 493800 |
|
|
|
3. |
Bank |
|
|
Centrale Bank Suriname |
: |
Waterkant 20 Telp. 473471 |
|
|
De Surinamse Bank |
: |
Henk Arronstraat 26 – 28 Telp.
477110 |
|
|
Hakrinbank N.V |
: |
Dr. Sophie Redmondstraat 11-13
Telp. 477722 |
|
|
RBTT Bank |
: |
Kerkplein 1 Telp. 471555 |
|
|
Surinaamse Volkscredietbank |
: |
Waterkant 104 Telp. 472616 |
|
|
Landbouwbank N.V |
: |
Mr. Lim a Postraat 32 Telp.
475945 |
|
|
Finabank |
: |
Dr. Sophie Redmondstraat 61
Telp. 472266 |
|
|
SPSB/Surinaamse Postspaar Bank |
: |
Knuffelsgracht 10-14 Telp. 475258 |
|
|
|
|
4. |
Kantor Pos |
|
|
Kantor Pos Pusat |
: |
Kerkplein 1 Telp. 477524, 476467 |
|
|
Cabang Elizabethof |
: |
Geministraat 2-6 Telp. 451455 |
|
|
|
|
5. |
Pelabuhan Laut |
|
|
Nieuwe Haven |
: |
Kontainer dan penumpang - Jarak
dari kantor KBRI sekitar 2 Km |
|
|
Paranam |
: |
Khusus untuk bauksit -
Jarak dari kantor KBRI
sekitar 25 Km |
|
|
|
|
6. |
Pelabuhan Udara |
|
|
Johan Adolf Pengel International
Airport Zanderij |
: |
Jarak dari kantor KBRI sekitar 45
km Telp.
325181 |
|
|
Zorg en Hoop (domestik) |
: |
Jarak dari kantor KBRI sekitar 4
km Telp.
499845, 499846 |
|
|
|
|
7. |
Pusat
Perbelanjaan |
|
|
Kirpalani Ltd. |
: |
Maagdenstraat/Dominestraat Telp.
471400 |
|
|
Kersten & Co. |
: |
Steenbakkerijstraat No. 27 Telp.
471133 |
|
|
Fernandes
& Son |
: |
Klipstenesstraat No. 6-8 Telp.
471313 |
|
|
City
Center |
: |
Dominestraat No. 7 Telp. 476561 |
|
|
H.J de Vries N.V |
: |
Waterkant Telp. 471222 |
|
|
Choi's Supermarket |
: |
Johannes Mungrastraat No. 17
Telp. 431088 |
|
|
Maretraite Mall |
: |
Maretraite |
|
|
Hermitage Mall |
: |
Lalarooweg |
|
|
Keizer Mall |
: |
Keizerstraat |
|
|
|
|
8. |
Akomodasi/Hotel |
|
|
Eco
Resort Inn |
: |
Conelis Jongbouwstraat No. 16
Telp. 425522 Fax. 425510 |
|
|
Krasnapolsky |
: |
Domineestraat No. 39 Telp. 475050
Fax. 420139 |
|
|
Plaza
Hotel |
: |
Domineestraat No. 11 Telp. 420350 |
|
|
Residence
Inn |
: |
Antondragtenweg No. 7 Telp.
472387
|
|
|
Savoie |
: |
JohannesMungrastraat No. 25 Telp.
432495 Fax. 434703 |
|
|
Stardust
Hotel |
: |
Leonsberg Telp. 451544 Fax.
452921 |
|
|
Torarica **** |
: |
Mr. Rietbergplein Telp. 471500
Fax. 421618 |
|
|
Courtyard Marriot
|
: |
Anton Dragtenweg 52 54 Telp.
456000 Fax. 456677 |
|
|
|
9. |
Stasiun Televisi |
|
|
a. Televisi garuda |
|
i. Televisi
Pertjajah Luhur |
|
|
b. Televisi Mustika |
|
j. Televisi ATV |
|
|
c. Televisi
Sangitmala |
|
k. Televisi Sky |
|
|
d. Televisi Apintie |
|
l. Televisi Rapar |
|
|
e. Televisi RGM |
|
m. Televisi
SCCN |
|
|
f. Televisi ABC |
|
n. Televisi Radika |
|
|
g. Televisi Trishul |
|
o. Televisi RBN |
|
|
h. Televisi
STVS |
|
|
|
|
|
|
10. |
Sekolah |
|
|
Di Suriname hanya ada sekolah
setempat dengan bahasa pengantar bahasa Belanda
mulai dari SD sampai Universitas.
Universitas Anton de Kom dengan
Fakultas Kedokteran, Hukum dan Ekonomi, Teknik
Sipil dan Bangunan.
Sekolah asing untuk tingkat dasar
sampai menengah, American Cooperative School,
Christian Liberty Academy. Kedua-duanya
menggunakan sistem pendidikan Amerika. |
|
|
|
|
11. |
Rumah Sakit |
|
|
Academisch Ziekenhuis |
: |
Flustraat Telp. 442222 / 440022 |
|
|
EHBO/P3K |
: |
Flustraat Telp. 499933 |
|
|
Diakonessenhuis |
: |
Zinniastraat/Joh Bodegravenlaan
Telp. 499644 / 499224 |
|
|
Militer Hospital |
: |
Samsonstraat Telp. 498685 |
|
|
S lands Hospital |
: |
Gravenstraat 64 Telp. 473655 /
470691 |
|
|
St.Vincentius Ziekenhuis |
: |
Koninginnestraat 4 Telp. 471212 /
473148 |
|
|
|
|
12. |
Tempat
Penyebrangan Ferry |
|
|
Nikerie – Guyana berangkat pukul
11.00 dan 13.00 waktu setempat |
|
|
Albina - Guyana Perancis (Saint
Laurent) berangkat pukul 08.00 dan 15.00 waktu
setempat |
|
|
|
|
|
|
|
INDONESIA - THE ULTIMATE IN
DIVERSITYY |
|
|
|
|
|
PENGUMUMAN |
|
|
|
|
|
|
|
|
JAM KERJA
|
|
Senin - Jum'at |
|
08.00 - 16.00 |
|
Istirahat 12.00 - 12.30 |
|
|
|
|
|
|
|
PENGUNJUNG
|
|
Online |
|
 |
|
|
|
|